Sultan Nuku: Sang Pemimpin Tidore yang Mengguncang Kekuasaan Belanda

Tidore, Maluku Utara Di antara deretan nama pahlawan nasional Indonesia, Sultan Nuku Muhammad Amiruddin mungkin tidak sepopuler Pattimura atau Diponegoro. Namun, di kancah sejarah Maluku abad ke-18, nama Sultan Nuku justru menjelma sebagai momok bagi Belanda. 


Selama lebih dari 40 tahun, ia mengobarkan perlawanan tanpa henti, menghancurkan monopoli rempah-rempah VOC, dan berhasil merebut kembali kedaulatan Kesultanan Tidore dari cengkeraman kolonial. Kisahnya adalah epik perlawanan maritim yang jarang tersentuh dalam narasi sejarah nasional.

Akar Perlawanan: Campur Tangan yang Melampaui Batas

Perlawanan Sultan Nuku tidak lahir dari ruang hampa. Ia adalah buah dari kekecewaan mendalam terhadap kebijakan Belanda yang semakin brutal terhadap Kesultanan Tidore. Sejak tahun 1667, VOC memang telah memaksa Tidore menandatangani kontrak monopoli cengkih. Namun, dalam praktiknya, intervensi Belanda tidak hanya terbatas pada urusan dagang. Mereka juga turut campur dalam urusan suksesi kerajaan, sebuah pelanggaran terhadap tradisi dan kedaulatan kesultanan.

Titik balik terjadi pada tahun 1779. Sultan Jamaluddin, ayah Nuku, ditangkap dan diasingkan oleh Belanda ke Batavia karena dituduh melanggar kontrak. Setelahnya, Belanda mengangkat Kaicil Gay Jira sebagai penguasa sementara, dan setelah ia wafat pada tahun 1780, takhta diberikan kepada putranya, Patra Alam. 

Pengangkatan ini melangkahi hak Nuku sebagai putra Sultan Jamaluddin yang seharusnya menjadi pewaris takhta . Protes keras Nuku tidak digubris. Sebaliknya, Patra Alam bersama Gubernur Ternate, Cornabe, justru berusaha menyergap Nuku di kediamannya pada 2 Juli 1780.

Nuku berhasil meloloskan diri. Sejak saat itu, ia memilih jalur perlawanan terbuka. Dari pengasingannya di Patani, Halmahera Selatan, ia mulai menggalang kekuatan, mengirim utusan ke para bobato (kepala desa) di Halmahera dan raja-raja di Kepulauan Raja Ampat, Papua, yang saat itu berada di bawah kedaulatan Tidore.

Strategi Perang: Gerilya Bahari dan Diplomasi Cerdik

Yang membuat Sultan Nuku begitu sulit dikalahkan adalah kemampuannya memadukan kekuatan militer dengan strategi politik yang cerdas. Ia tidak sekadar mengandalkan kekuatan senjata, tetapi juga membangun jaringan aliansi lintas etnis dan lintas negara.

Mobilitas laut menjadi tulang punggung perlawanannya. Dengan armada kora-kora yang bergerak lincah, pasukan Nuku berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain, membuat Belanda kesulitan melacak pusat perlawanannya . Ia mendirikan basis pertahanan di berbagai lokasi mulai dari Seram Timur, lalu Pulau Gorong yang selalu berpindah ketika tekanan Belanda meningkat.

Kekuatan utama Nuku terletak pada jaringan aliansi yang ia bangun. Dukungan dari raja-raja Papua, terutama Raja Salawati, sangat signifikan. Raja Salawati mengirimkan 45 kora-kora, sementara dari Patani terkumpul 20 kora-kora. Setiap kora-kora mampu memuat sekitar 150 orang bersenjata lengkap dengan satu atau dua meriam. Total kekuatan armada Nuku dalam berbagai pertempuran kerap mencapai puluhan hingga ratusan kapal .

Selain kekuatan lokal, Nuku juga menjalin hubungan dengan Inggris, musuh bebuyutan Belanda. Hubungan ini bukan sekadar kerja sama militer, melainkan strategi geopolitik untuk memanfaatkan persaingan antar kekuatan Eropa. Dalam perjanjian dengan Inggris pada tahun 1801, Nuku berhasil memperoleh pengakuan sebagai Sultan Tidore yang berdaulat, dengan status sebagai sekutu, bukan vasal . Ia bahkan menerima bantuan persenjataan dan dukungan logistik dari Inggris.

Merebut Kembali Tidore: Puncak Kejayaan

Tahun 1797 menandai titik balik perlawanan Nuku. Setelah bertahun-tahun melakukan perang gerilya dan membangun kekuatan, ia melancarkan serangan besar-besaran untuk merebut Tidore. Puluhan kapal perangnya merapat di pelabuhan Tidore, membawa pasukan bersenjata lengkap. Pasukan Nuku membersihkan Tidore dari VOC dan para pendukungnya . Sultan Kamaluddin, yang diangkat Belanda sebagai pengganti, melarikan diri ke Ternate.

Keberhasilan ini mengukuhkan Nuku sebagai penguasa sah Kesultanan Tidore. Ia dinobatkan dengan gelar lengkap Sultan Syaidul Jehad Amiruddin Syaifuddin Syah Muhammad El Mab'us Kaicil Paparangan Jou Barakati Nuku . Julukan "Jou Barakati" Raja yang Diberkati melekat padanya, sementara orang Inggris menyebutnya The Lord of Fortune.

Puncak dari rangkaian kemenangan ini terjadi pada tahun 1801. Setelah kekuatan Belanda di Ternate melemah, Nuku bersama pasukan Inggris melancarkan pengepungan terhadap Ternate. Pengepungan berlangsung lebih dari dua bulan sebelum akhirnya Ternate menyerah pada 21 Juni 1801. Kemenangan ini menandai berakhirnya dominasi Belanda di Maluku Utara untuk sementara waktu, dan Tidore muncul sebagai kekuatan dominan di wilayah tersebut.

Warisan dan Pengakuan

Sultan Nuku memerintah hingga 14 November 1805. Ia meninggal setelah berjuang selama kurang lebih 40 tahun, dengan Tidore berhasil dibebaskan dari kekuasaan Belanda. Namun, warisannya tidak berhenti di situ. Setelah kematiannya, Belanda memang kembali berusaha menguasai Maluku, memanfaatkan perubahan politik di Eropa pasca-Perjanjian Amiens tahun 1802 yang mengembalikan koloni-koloni Belanda dari Inggris. Meski demikian, fondasi kedaulatan yang telah diletakkan Nuku tetap menjadi inspirasi perlawanan di kemudian hari.

Pada tanggal 7 Agustus 1995, Pemerintah Republik Indonesia secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Nuku melalui SK Presiden RI No. 71/TK/Tahun 1995. Pengakuan ini menegaskan posisinya sebagai salah satu tokoh sentral dalam sejarah perlawanan terhadap kolonialisme di Indonesia.

Pelajaran dari Seorang Raja Maritim

Kisah Sultan Nuku menawarkan perspektif yang jarang diangkat dalam historiografi Indonesia: sebuah perlawanan yang bertumpu pada kekuatan maritim, jaringan lintas etnis, dan diplomasi internasional yang cerdas. Nuku tidak hanya berperang melawan Belanda; ia juga membangun aliansi dengan kekuatan asing untuk mencapai tujuannya. Ia tidak hanya mengandalkan kekuatan militer; ia juga memperhatikan kesejahteraan rakyatnya setelah berkuasa.

Dalam konteks Indonesia Timur, nama Sultan Nuku adalah simbol perlawanan yang tak terpatahkan. Ia membuktikan bahwa kekuatan kolonial yang tampak tak terkalahkan bisa diguncang oleh seorang pemimpin yang memahami medan, membangun aliansi, dan tidak pernah berkompromi dengan penindasan. Tidore, di bawah kepemimpinannya, bukan sekadar kesultanan kecil di kepulauan rempah; ia adalah kekuatan yang berani menantang imperium global dan nyaris berhasil mengusirnya dari bumi Maluku.