Sultan Baabullah: Perjuangan Raja Ternate Mengusir Portugis
Di antara nama-nama besar penguasa Nusantara yang gigih menentang kolonialisme, Sultan Baabullah berdiri sebagai sosok yang tak terbantahkan. Dialah raja Ternate yang berhasil melakukan sesuatu yang belum pernah dicapai oleh penguasa pribumi mana pun sebelumnya mengusir kekuatan Eropa, Portugis, dari tanah Maluku setelah lebih dari setengah abad mereka bercokol.
Kemenangan itu bukan sekadar buah dari keberanian semata, melainkan hasil dari perpaduan strategi militer, diplomasi cerdik, dan tekad membara yang lahir dari luka mendalam atas kematian ayahnya, Sultan Khairun, yang dibunuh secara licik oleh tangan Portugis pada tahun 1570.
Dalam ingatan sejarah kepulauan Indonesia bagian timur, ada satu nama yang selalu terikat erat dengan kata "pengusiran" dan "kemenangan" Sultan Baabullah. Sultan ketujuh Kesultanan Ternate yang memerintah antara tahun 1570 hingga 1583 ini menyelesaikan sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya: mengusir Portugis yang telah bercokol di Kepulauan Maluku selama lebih dari setengah abad. Ini adalah kemenangan besar pertama penduduk asli Nusantara atas kekuatan kolonial Barat, sekaligus salah satu halaman paling gemilang dalam sejarah kepulauan timur.
Takhta yang Berlumur Darah: Sebuah Pembunuhan yang Menyalakan Api Dendam
Perlawanan Baabullah berakar dari sebuah pengkhianatan yang direncanakan dengan matang. Ayahnya, Sultan Khairun, adalah penguasa Ternate yang visioner. Menghadapi ambisi Portugis yang semakin membengkak mereka tidak hanya berusaha memonopoli perdagangan cengkih, tetapi juga gencar menyebarkan agama Katolik untuk melemahkan pengaruh Islam Khairun memilih garis keras. Ia memperkuat kendali atas jalur laut, memutus pasokan pangan Portugis, dan perlahan-lahan mengetatkan pengepungan terhadap penjajah.
Portugis memutuskan untuk menyingkirkan duri dalam daging ini. Pada 25 Februari 1570, Gubernur Diogo Lopes de Mesquita dengan dalih "perundingan damai" mengundang Khairun ke kediamannya di Benteng São João Baptista (Castella). Sultan mempercayai undangan itu dan datang tanpa pengawalan yang memadai. Di tengah jamuan, ia dibunuh.
Kabar itu menyebar dan mengguncang seluruh Maluku. Baabullah muda yang sebelumnya telah dipersiapkan ayahnya sebagai pewaris dan panglima angkatan laut secara resmi naik takhta pada 28 Februari 1570. Dalam upacara penobatannya, ia bersumpah di depan umum: membalas kematian ayahnya, mengusir Portugis. Ini bukan lagi gesekan perbatasan, melainkan perang darah demi darah.
Soya-Soya: Sebuah "Perang Nasional"
Baabullah tidak jatuh ke dalam kekacauan internal seperti yang diharapkan Portugis. Sebaliknya, pembunuhan ayahnya menjadi katalis yang menyatukan seluruh Maluku. Ia melancarkan perang bernama "Soya-Soya" yang berarti "mobilisasi seluruh negeri, perang pembebasan tanah air."
Skala perang ini belum pernah terjadi sebelumnya. Baabullah menunjukkan kemampuan diplomasi dan organisasi yang luar biasa. Pertama, ia memperkuat hubungan dengan Tidore, menikahi saudara perempuan Sultan Tidore Iskandar Sani, sehingga meredakan permusuhan tradisional antara dua saingan lama ini untuk sementara. Kemudian, ia menyerukan kepada seluruh kepulauan timur. Muslim Ambon, kepala suku Halmahera, sekutu Sulawesi, bahkan Kesultanan Demak dan Aceh yang jauh di Jawa memberikan respons atau dukungan.
Menurut catatan sejarah, Baabullah mengumpulkan kekuatan yang mencengangkan: lebih dari 2.000 kapal kora-kora dan pasukan yang konon mencapai 120.000 orang. Benteng-benteng Portugis direbut satu per satu. Dari Ambon ke Bacan, dari Halmahera ke Sulawesi, pasukan Ternate mengalir seperti gelombang yang menghantam garis pertahanan penjajah.
Pengepungan Lima Tahun dan Kemenangan Akhir
Pertempuran terakhir terpusat di Benteng Gamlamo di Ternate—markas inti Portugis di Maluku. Pasukan Baabullah mengepungnya mulai tahun 1570, dan pengepungan itu berlangsung selama lima tahun penuh.
Pasukan Portugis di dalam benteng jatuh dalam keputusasaan. Pengepungan memutus total jalur pasokan mereka, pangan habis, obat-obatan langka, dan penyakit menyebar di antara pasukan. Kendali laut sudah lama jatuh ke tangan Ternate; kapal apa pun yang mencoba menembus blokade akan dicegat.
Pada 28 Desember 1575, komandan Portugis Nuno de Lecerda akhirnya mengibarkan bendera putih dan menyerah kepada Baabullah. Syaratnya jelas: Portugis harus meninggalkan Maluku selamanya. Tiga hari kemudian, mereka diizinkan mundur, tetapi harus meninggalkan semua senjata dan peralatan militer. Portugis melarikan diri ke Timor, dan sebuah era berakhir.
Puncak Sebuah Imperium Maritim
Setelah mengusir Portugis, Ternate tidak menyusut. Sebaliknya, Baabullah mengubah kemenangan itu menjadi ekspansi kekaisaran yang sesungguhnya.
Di bawah pemerintahannya, pengaruh Ternate mencapai puncaknya. Wilayah kekuasaan Baabullah tidak hanya mencakup hampir seluruh Kepulauan Maluku, tetapi juga meluas hingga Kepulauan Sangihe, sebagian Sulawesi, Bima di Sumbawa, bahkan jauh ke Mindanao di Filipina selatan dan Raja Ampat di Papua. Penulis kronik Eropa François Valentijn menciptakan gelar yang bertahan hingga kini: "Penguasa 72 Pulau Berpenghuni" (Penguasa 72 Pulau).
Seorang sejarawan Indonesia dalam penilaiannya menyatakan bahwa Baabullah "selalu mampu mempertahankan martabat, kehormatan, dan harga diri wilayah Maluku." Ia tidak bekerja sama dengan penjajah, tidak tunduk pada kekuatan asing, dan dengan kemenangan militer serta kecerdasan diplomasi memenangkan puluhan tahun perdamaian dan ruang pembangunan bagi seluruh kepulauan timur.
Pada 25 Mei 1583, Sultan Baabullah meninggal dunia pada usia 55 tahun. Warisannya sangat mendalam. Ternate menjadi kerajaan Islam terkuat di Indonesia timur, sejajar dengan Aceh di barat dan Demak di tengah sebagai tiga kekuatan utama Nusantara. Lebih dari itu, ia membuktikan satu hal: meriam dan kapal perang Eropa bukanlah hal yang tak terkalahkan; sebuah kekuatan pribumi yang terorganisasi dengan baik dan bersatu padu sepenuhnya mampu mengusir penjajah dari tanahnya sendiri.
Pada 10 November 2020, Pemerintah Indonesia secara resmi menganugerahkan gelar "Pahlawan Nasional" kepada Sultan Baabullah. Bandara di Ternate pun dinamai dengan namanya Bandara Sultan Baabullah. Setiap kali pesawat mendarat di tanah yang pernah dilanda perang ini, sosok yang lima abad lalu memimpin ribuan kapal, mengepung selama lima tahun, dan akhirnya memaksa Portugis menurunkan benderanya, kembali muncul dalam angin sejarah.
Dalam ingatan sejarah kepulauan Indonesia bagian timur, ada satu nama yang selalu terikat erat dengan kata "pengusiran" dan "kemenangan" Sultan Baabullah. Sultan ketujuh Kesultanan Ternate yang memerintah antara tahun 1570 hingga 1583 ini menyelesaikan sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya: mengusir Portugis yang telah bercokol di Kepulauan Maluku selama lebih dari setengah abad. Ini adalah kemenangan besar pertama penduduk asli Nusantara atas kekuatan kolonial Barat, sekaligus salah satu halaman paling gemilang dalam sejarah kepulauan timur.
Takhta yang Berlumur Darah: Sebuah Pembunuhan yang Menyalakan Api Dendam
Perlawanan Baabullah berakar dari sebuah pengkhianatan yang direncanakan dengan matang. Ayahnya, Sultan Khairun, adalah penguasa Ternate yang visioner. Menghadapi ambisi Portugis yang semakin membengkak mereka tidak hanya berusaha memonopoli perdagangan cengkih, tetapi juga gencar menyebarkan agama Katolik untuk melemahkan pengaruh Islam Khairun memilih garis keras. Ia memperkuat kendali atas jalur laut, memutus pasokan pangan Portugis, dan perlahan-lahan mengetatkan pengepungan terhadap penjajah.
Portugis memutuskan untuk menyingkirkan duri dalam daging ini. Pada 25 Februari 1570, Gubernur Diogo Lopes de Mesquita dengan dalih "perundingan damai" mengundang Khairun ke kediamannya di Benteng São João Baptista (Castella). Sultan mempercayai undangan itu dan datang tanpa pengawalan yang memadai. Di tengah jamuan, ia dibunuh.
Kabar itu menyebar dan mengguncang seluruh Maluku. Baabullah muda yang sebelumnya telah dipersiapkan ayahnya sebagai pewaris dan panglima angkatan laut secara resmi naik takhta pada 28 Februari 1570. Dalam upacara penobatannya, ia bersumpah di depan umum: membalas kematian ayahnya, mengusir Portugis. Ini bukan lagi gesekan perbatasan, melainkan perang darah demi darah.
Soya-Soya: Sebuah "Perang Nasional"
Baabullah tidak jatuh ke dalam kekacauan internal seperti yang diharapkan Portugis. Sebaliknya, pembunuhan ayahnya menjadi katalis yang menyatukan seluruh Maluku. Ia melancarkan perang bernama "Soya-Soya" yang berarti "mobilisasi seluruh negeri, perang pembebasan tanah air."
Skala perang ini belum pernah terjadi sebelumnya. Baabullah menunjukkan kemampuan diplomasi dan organisasi yang luar biasa. Pertama, ia memperkuat hubungan dengan Tidore, menikahi saudara perempuan Sultan Tidore Iskandar Sani, sehingga meredakan permusuhan tradisional antara dua saingan lama ini untuk sementara. Kemudian, ia menyerukan kepada seluruh kepulauan timur. Muslim Ambon, kepala suku Halmahera, sekutu Sulawesi, bahkan Kesultanan Demak dan Aceh yang jauh di Jawa memberikan respons atau dukungan.
Menurut catatan sejarah, Baabullah mengumpulkan kekuatan yang mencengangkan: lebih dari 2.000 kapal kora-kora dan pasukan yang konon mencapai 120.000 orang. Benteng-benteng Portugis direbut satu per satu. Dari Ambon ke Bacan, dari Halmahera ke Sulawesi, pasukan Ternate mengalir seperti gelombang yang menghantam garis pertahanan penjajah.
Pengepungan Lima Tahun dan Kemenangan Akhir
Pertempuran terakhir terpusat di Benteng Gamlamo di Ternate—markas inti Portugis di Maluku. Pasukan Baabullah mengepungnya mulai tahun 1570, dan pengepungan itu berlangsung selama lima tahun penuh.
Pasukan Portugis di dalam benteng jatuh dalam keputusasaan. Pengepungan memutus total jalur pasokan mereka, pangan habis, obat-obatan langka, dan penyakit menyebar di antara pasukan. Kendali laut sudah lama jatuh ke tangan Ternate; kapal apa pun yang mencoba menembus blokade akan dicegat.
Pada 28 Desember 1575, komandan Portugis Nuno de Lecerda akhirnya mengibarkan bendera putih dan menyerah kepada Baabullah. Syaratnya jelas: Portugis harus meninggalkan Maluku selamanya. Tiga hari kemudian, mereka diizinkan mundur, tetapi harus meninggalkan semua senjata dan peralatan militer. Portugis melarikan diri ke Timor, dan sebuah era berakhir.
Puncak Sebuah Imperium Maritim
Setelah mengusir Portugis, Ternate tidak menyusut. Sebaliknya, Baabullah mengubah kemenangan itu menjadi ekspansi kekaisaran yang sesungguhnya.
Di bawah pemerintahannya, pengaruh Ternate mencapai puncaknya. Wilayah kekuasaan Baabullah tidak hanya mencakup hampir seluruh Kepulauan Maluku, tetapi juga meluas hingga Kepulauan Sangihe, sebagian Sulawesi, Bima di Sumbawa, bahkan jauh ke Mindanao di Filipina selatan dan Raja Ampat di Papua. Penulis kronik Eropa François Valentijn menciptakan gelar yang bertahan hingga kini: "Penguasa 72 Pulau Berpenghuni" (Penguasa 72 Pulau).
Seorang sejarawan Indonesia dalam penilaiannya menyatakan bahwa Baabullah "selalu mampu mempertahankan martabat, kehormatan, dan harga diri wilayah Maluku." Ia tidak bekerja sama dengan penjajah, tidak tunduk pada kekuatan asing, dan dengan kemenangan militer serta kecerdasan diplomasi memenangkan puluhan tahun perdamaian dan ruang pembangunan bagi seluruh kepulauan timur.
Pada 25 Mei 1583, Sultan Baabullah meninggal dunia pada usia 55 tahun. Warisannya sangat mendalam. Ternate menjadi kerajaan Islam terkuat di Indonesia timur, sejajar dengan Aceh di barat dan Demak di tengah sebagai tiga kekuatan utama Nusantara. Lebih dari itu, ia membuktikan satu hal: meriam dan kapal perang Eropa bukanlah hal yang tak terkalahkan; sebuah kekuatan pribumi yang terorganisasi dengan baik dan bersatu padu sepenuhnya mampu mengusir penjajah dari tanahnya sendiri.
Pada 10 November 2020, Pemerintah Indonesia secara resmi menganugerahkan gelar "Pahlawan Nasional" kepada Sultan Baabullah. Bandara di Ternate pun dinamai dengan namanya Bandara Sultan Baabullah. Setiap kali pesawat mendarat di tanah yang pernah dilanda perang ini, sosok yang lima abad lalu memimpin ribuan kapal, mengepung selama lima tahun, dan akhirnya memaksa Portugis menurunkan benderanya, kembali muncul dalam angin sejarah.
