Sultan Agung: Raja Mataram yang Berani Menantang VOC

Dalam lembaran panjang sejarah Nusantara, nama Sultan Agung Hanyakrakusuma selalu terikat erat dengan kata "perlawanan". Raja ketiga Kesultanan Mataram Islam yang memerintah antara tahun 1613 hingga 1645 ini tidak hanya membawa kerajaannya menuju puncak kejayaan, tetapi juga menorehkan sejarah sebagai raja Jawa pertama yang berani menantang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) secara langsung. 


Dua kali ekspedisi besar dikirimnya menuju Batavia, markas besar VOC di Asia. Meskipun pada akhirnya tidak berhasil mengusir penjajah dari tanah Jawa, sikap tegasnya meninggalkan warisan semangat juang yang tak pernah padam.

Dari Penyatuan Jawa hingga Menghadapi Ancaman Kolonial

Sultan Agung, yang lahir dengan nama Raden Mas Rangsang, naik takhta sekitar tahun 1613 pada usia muda, sekitar 20 tahun. Ia mewarisi kerajaan Mataram yang sedang berkembang pesat. Berbeda dari kakeknya Panembahan Senopati dan ayahnya Hanyakrawati, Sultan Agung memiliki visi politik yang jauh lebih besar: ia bercita-cita menyatukan seluruh Pulau Jawa di bawah kekuasaan Mataram.

Pada masa awal pemerintahannya, ekspansi militer menjadi tema utama. Ia menaklukkan Wirasaba, Tuban, Pasuruan, dan akhirnya pada tahun 1625 berhasil menundukkan Surabaya yang sangat kuat. Hingga sekitar tahun 1627, wilayah kekuasaan Mataram membentang dari Pasuruan di Jawa Timur hingga Cirebon di Jawa Barat, hampir mencakup seluruh Pulau Jawa. Hanya ada dua wilayah yang belum tersentuh: Kesultanan Banten di ujung barat, dan Batavia di pesisir barat laut Jawa—yang merupakan markas besar VOC.

Keberadaan VOC menjadi duri dalam daging bagi Sultan Agung. Secara ekonomi, VOC berusaha memonopoli perdagangan dan menghambat ekspor beras serta perdagangan rempah-rempah Mataram. Secara politik, VOC menolak mengakui kedaulatan Mataram dan bahkan melindungi kekuatan-kekuatan lokal yang menentang Mataram. Secara agama, keberadaan kekuatan dagang Kristen ini juga dianggap mengancam penyebaran Islam di Jawa. Bagi Sultan Agung, Batavia adalah rintangan yang harus disingkirkan sekaligus langkah terakhir menuju penyatuan Jawa dan benteng pertahanan terhadap penetrasi kolonial.

Dua Ekspedisi: Kekalahan yang Penuh Kehormatan

Pada tahun 1628, Sultan Agung mengambil langkah menentukan. Setelah utusannya yang membawa syarat-syarat kepada VOC ditolak pada bulan April, ia melancarkan serangan pertama ke Batavia pada bulan Agustus. Pasukan Mataram yang dipimpin antara lain oleh Tumenggung Bahureksa, dikerahkan melalui jalur laut dan darat dengan kekuatan yang konon mencapai ribuan orang. 

Namun, VOC di bawah komando Jan Pieterszoon Coen bertahan dengan benteng-benteng kokoh dan keunggulan persenjataan. Pasukan Mataram menghadapi masalah logistik yang serius: armada VOC memblokade pesisir, memutus pasokan pangan, sementara persediaan logistik Mataram sendiri terus menipis. Ditambah lagi, kurangnya peralatan pengepungan dan koordinasi yang lemah membuat pasukan Mataram terpaksa mundur setelah menderita banyak korban.

Kegagalan ekspedisi pertama tidak menggoyahkan tekad Sultan Agung. Ia menghukum para pemimpin yang dianggap bertanggung jawab atas kekalahan tersebut, dan segera mempersiapkan serangan kedua yang lebih besar. Pada tahun 1629, ia belajar dari kesalahan dengan membangun pusat-pusat penimbunan pangan besar di Tegal dan Cirebon, serta mengirim mata-mata bernama Warga ke Batavia untuk mengintai kekuatan musuh. Kali ini, Mataram mengerahkan pasukan yang lebih besar, membawa meriam berat, dan pada bulan Agustus kembali mengepung Batavia.

Pengepungan kedua jauh lebih sengit daripada yang pertama. Pasukan Mataram mengepung benteng-benteng seperti Hollandia dan sempat merusak beberapa bagian benteng dengan tembakan meriam. Namun, masalah fatal kembali muncul. VOC, melalui mata-mata yang tertangkap dan para pembelot, mengetahui rencana logistik Mataram dan lebih dulu menghancurkan lumbung-lumbung pangan di Tegal dan Cirebon. 

Kelaparan kembali menjadi musuh terbesar pasukan Mataram. Ditambah lagi, datangnya musim hujan dan wabah penyakit yang menyebar di perkemahan, memaksa Sultan Agung memerintahkan penarikan pasukan pada bulan Oktober 1629. Menarik untuk dicatat, Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen juga meninggal pada periode ini. Meskipun sumber-sumber Belanda lebih banyak mengaitkannya dengan penyakit, pengepungan Mataram jelas memperburuk situasi di Batavia.

Makna Perlawanan yang Mendalam

Dari sudut pandang militer, dua ekspedisi Sultan Agung berakhir dengan kegagalan. Ia tidak berhasil merebut Batavia, apalagi mengusir VOC dari Jawa. Mataram kehilangan ribuan tentara dan sejumlah besar material, sementara VOC di Batavia berhasil memperkuat kedudukannya dan secara bertahap memperluas pengaruhnya di tahun-tahun berikutnya.

Namun, jika keberhasilan hanya diukur dari kemenangan semata, kita akan meremehkan esensi perlawanan Sultan Agung. Perlawanannya, yang terjadi ketika kekuatan kolonial masih dalam tahap awal pertumbuhan, menarik garis batas yang jelas. Ia adalah "penguasa pribumi pertama yang melakukan perlawanan besar-besaran terhadap penjajah Belanda". 

Makna politik dari tindakannya adalah bahwa ia menegaskan klaim kedaulatan Mataram atas Jawa, dan menunjukkan kewaspadaan serta permusuhan terhadap entitas dagang-militer asing. Bahkan setelah kekalahan, Sultan Agung tidak pernah benar-benar berdamai dengan VOC. Ia terus melakukan manuver diplomatik, termasuk menjalin kontak dengan Portugis, dalam upaya strategis membendung VOC.

Selain itu, pemerintahan Sultan Agung tidak hanya terbatas pada urusan militer. Ia adalah raja yang sangat sadar akan pentingnya budaya. Ia memberlakukan kalender Islam, menata kehidupan keagamaan, dan menciptakan karya terkenal Sastra Gending, yang memadukan mistisisme Islam dengan filsafat Jawa. Gelar "Sultan" yang digunakannya, serta penekanannya pada ortodoksi Islam, sangat membentuk identitas Mataram sebagai kerajaan Islam.

Penutup

Ekspedisi Sultan Agung adalah sebuah perlawanan yang dilancarkan pada waktu yang kurang tepat, dengan keterbatasan teknologi. Ia menghadapi sebuah imperium dagang global yang memiliki supremasi laut, persenjataan api canggih, dan benteng-benteng kokoh, sementara kerajaannya masih merupakan kekuatan tradisional yang bergantung pada ekonomi agraris dan logistik campuran darat-laut. Kegagalannya, dalam batas tertentu, adalah keniscayaan sejarah.

Namun justru karena itulah pilihannya menjadi semakin tragis sekaligus heroik. Ketika VOC berada di puncak kejayaannya dan sebagian besar kekuatan pribumi memilih berkompromi atau menunggu, Sultan Agung memilih untuk bertempur. Ia tidak sempat menyaksikan kehancuran VOC dalam masa hidupnya, tetapi benih perlawanan yang ditaburnya memiliki makna yang jauh melampaui menang-kalah sesaat. 

Ia membuktikan bahwa bahkan menghadapi kekuatan kolonial yang tampak tak terkalahkan, martabat dan kedaulatan pribumi layak dipertahankan dengan cara yang paling tegas. Warisan inilah yang mengangkat Sultan Agung melampaui batas-batas wilayah Mataram, menjadikannya monumen simbolik perlawanan anti-kolonial awal di Indonesia.