Seorang Pedagang Menantang Abu Nawas, Tetapi Ia Menyesal di Akhir Cerita
Pasar kota pagi itu ramai seperti biasanya. Para pedagang sibuk menata dagangan, pembeli berlalu-lalang menawar harga, dan suara tawar-menawar bercampur dengan aroma rempah dan ikan segar. Di antara sekian banyak pedagang, ada satu nama yang selalu disebut dengan nada tinggi, penuh kesombongan.
Tuan Malik namanya. Ia pedagang kain terkaya di kota itu, memiliki tiga toko besar, puluhan pelayan, dan kuda terbaik yang sering ia pamerkan di depan umum. Namun kekayaannya tidak sebanding dengan kerendahan hatinya. Ia terkenal angkuh, gemar merendahkan orang lain, dan paling tidak suka mendengar nama Abu Nawas disebut-sebut sebagai orang paling cerdik di negeri itu.
Selama ini, Tuan Malik selalu merasa dirinyalah yang paling pandai. Ia merasa kekayaannya adalah bukti kecerdasannya, dan kemiskinan orang lain adalah bukti kebodohan mereka. Namun setiap kali ia mendengar orang memuji Abu Nawas, hatinya terasa terbakar. Ia tidak tahan membayangkan seorang pria berpakaian lusuh, yang tidak punya toko, yang tidak punya kuda, justru lebih dihormati daripada dirinya. Maka pagi itu, ia memutuskan sesuatu yang akan ia sesali seumur hidupnya.
Tantangan yang Diumumkan
Tuan Malik berdiri di depan tokonyya yang paling besar, di atas sebuah bangku kayu, dengan tangan terangkat tinggi. Orang-orang yang lewat pun berhenti, penasaran ingin mendengar apa yang akan ia katakan.
"Wahai seluruh penghuni kota!" serunya lantang. "Hari ini aku menantang Abu Nawas, orang yang kalian sebut paling cerdik itu, untuk beradu akal denganku. Jika ia menang, aku akan menyerahkan separuh kekayaanku kepadanya. Namun jika ia kalah, ia harus berjalan telanjang bulat mengelilingi pasar ini tiga kali, dan tidak boleh lagi disebut-sebut sebagai orang cerdik di negeri ini!"
Pasar pun gempar. Tantangan itu terdengar sangat berat, terutama bagi Abu Nawas yang tidak punya apa-apa. Jika ia menang, ia akan menjadi orang kaya dalam sekejap. Namun jika ia kalah, ia akan kehilangan harga dirinya selamanya. Orang-orang pun mulai berbisik, ada yang merasa kasihan kepada Abu Nawas, ada yang merasa penasaran, dan tidak sedikit yang menyeringai, berharap melihat pria sederhana itu jatuh.
Jawaban yang Tenang
Kabar tantangan itu sampai ke telinga Abu Nawas dengan cepat. Ketika ia datang ke pasar, orang-orang pun membuka jalan untuknya, menatapnya dengan campuran rasa khawatir dan harap. Tuan Malik menyambutnya dengan senyum sinis.
"Jadi engkau datang, Abu Nawas," ujarnya. "Apakah engkau menerima tantanganku?"
Abu Nawas tersenyum. Senyum yang sama, senyum yang selalu membuat orang merasa ada sesuatu yang belum mereka pahami.
"Hamba menerima tantangan Tuan Malik," ujarnya pelan. "Namun hamba ingin mengajukan satu syarat."
Tuan Malik mengangkat alis. "Syarat apa?"
"Tuan Malik adalah pedagang kain terkaya di kota ini. Hamba hanya rakyat biasa yang tidak punya apa-apa. Maka izinkan hamba memilih pertanyaannya, sebagai ganti dari taruhan yang tidak seimbang."
Tuan Malik tertawa. Ia merasa pertanyaan apa pun tidak akan menolong Abu Nawas. "Baiklah, aku setuju. Silakan ajukan pertanyaanmu."
Pertanyaan yang Membuat Bingung
Abu Nawas menatap Tuan Malik lama sekali. Lalu ia bertanya dengan suara tenang, "Tuan Malik, engkau memiliki tiga toko kain, puluhan pelayan, dan kuda terbaik di kota ini. Namun katakanlah, jika seluruh kekayaanmu itu harus engkau tukar dengan satu hal saja, apakah hal itu?"
Tuan Malik mengerutkan dahi. Ia tidak menyangka pertanyaannya sesederhana itu. "Tentu saja aku akan menukarnya dengan kekayaan yang lebih besar," jawabnya cepat.
Abu Nawas menggelengkan kepala. "Bukan itu jawabannya, Tuan Malik."
Tuan Malik terkejut. "Lalu apa?"
Abu Nawas tersenyum. "Jawaban yang benar adalah: tidak ada. Tidak ada satu hal pun di dunia ini yang pantas ditukar dengan seluruh kekayaan Tuan Malik, karena kekayaan itu sendiri sudah cukup. Namun pertanyaan hamba bukan tentang kekayaan, Tuan Malik. Pertanyaan hamba adalah: apakah Tuan Malik pernah berpikir bahwa kekayaan yang Tuan Malik banggakan itu bisa hilang dalam sekejap?"
Tuan Malik terdiam. Ia tidak menyangka pertanyaannya akan berbelok ke arah itu. "Tentu saja aku pernah berpikir," jawabnya dengan nada sedikit gugup. "Setiap pedagang pasti berpikir tentang kerugian."
"Kalau begitu," lanjut Abu Nawas, "jika Tuan Malik pernah berpikir bahwa kekayaan bisa hilang, mengapa Tuan Malik begitu yakin bahwa kekayaan itu adalah bukti kecerdasan? Bukankah orang bodoh pun bisa menjadi kaya karena warisan? Bukankah orang pandai pun bisa menjadi miskin karena musibah? Kekayaan dan kecerdasan adalah dua hal yang berbeda, Tuan Malik. Yang satu bisa hilang, yang satu tidak. Dan yang tidak bisa hilang itulah yang seharusnya Tuan Malik banggakan."
Kerumunan yang Terdiam
Pasar yang tadi ramai pun mendadak hening. Orang-orang saling pandang. Tuan Malik berdiri di atas bangkunya dengan wajah pucat. Ia membuka mulut, namun tidak ada kata yang keluar. Ia ingin membantah, namun tidak tahu harus membantah apa. Ia ingin tertawa, namun tawanya terasa kering di tenggorokan.
"Engkau... engkau tidak menjawab tantanganku," ujarnya akhirnya dengan suara bergetar.
Abu Nawas menggelengkan kepala. "Justru hamba sudah menjawabnya, Tuan Malik. Tantangan Tuan Malik adalah beradu akal. Hamba sudah beradu akal dengan Tuan Malik. Dan Tuan Malik tidak bisa menjawab pertanyaan hamba. Maka hamba menang."
Kerumunan pun meledak dalam sorakan. Orang-orang bertepuk tangan, memuji kecerdikan Abu Nawas. Tuan Malik pun turun dari bangkunya dengan wajah yang merah padam. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menundukkan kepala, lalu berjalan pulang ke tokonya dengan langkah yang berat.
Penyesalan Tuan Malik
Malam itu, Tuan Malik duduk seorang diri di ruang kerjanya. Ia memandang tumpukan kain-kain mahal yang selama ini ia banggakan, lalu memandang cermin di depannya. Ia melihat wajah seorang pria yang kaya, namun hatinya terasa kosong. Ia teringat kata-kata Abu Nawas tadi pagi. Kekayaan dan kecerdasan adalah dua hal yang berbeda. Yang satu bisa hilang, yang satu tidak.
Ia teringat betapa sombongnya dirinya selama ini. Ia teringat betapa seringnya ia merendahkan orang lain hanya karena mereka tidak seberuntung dirinya. Ia teringat betapa ia selalu merasa paling pandai, padahal ia tidak pernah benar-benar berpikir tentang hal-hal yang penting dalam hidup. Ia teringat bahwa ia tidak pernah belajar dari kegagalan, karena ia tidak pernah merasa gagal.
Dan yang paling membuatnya menyesal, ia teringat bahwa ia telah menantang Abu Nawas di depan seluruh pasar, dan kalah. Bukan kalah karena kekayaan, bukan kalah karena kekuasaan, melainkan kalah karena ia tidak bisa menjawab pertanyaan yang paling sederhana: apa yang pantas dibanggakan dari diri seseorang?
Tuan Malik pun menangis. Ia menangis bukan karena kehilangan taruhan, sebab Abu Nawas tidak pernah menuntut hadiah apa pun. Ia menangis karena ia sadar, selama ini ia telah menyia-nyiakan hidupnya untuk sesuatu yang tidak kekal.
Keesokan Harinya
Pagi berikutnya, Tuan Malik datang ke rumah Abu Nawas. Ia tidak membawa pengawal, tidak membawa kuda, tidak membawa apa pun selain dirinya sendiri dan sekeranjang makanan sebagai tanda permintaan maaf. Abu Nawas menyambutnya dengan senyum yang sama seperti biasa, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.
"Tuan Malik," ujar Abu Nawas. "Silakan masuk. Rumah hamba sederhana, namun pintunya selalu terbuka."
Tuan Malik menundukkan kepala. "Abu Nawas, aku datang untuk meminta maaf. Aku telah sombong, aku telah merendahkanmu, aku telah menantangmu di depan umum. Aku menyesal."
Abu Nawas tersenyum. "Tuan Malik, hamba tidak pernah marah kepada Tuan Malik. Hamba hanya menjawab pertanyaan yang Tuan Malik ajukan. Jika Tuan Malik menyesal, itu bukan karena hamba, melainkan karena Tuan Malik sendiri yang akhirnya melihat kebenaran."
Tuan Malik mengangkat kepala. Matanya masih basah. "Ajari aku, Abu Nawas. Ajari aku menjadi orang yang tidak sombong."
Abu Nawas menggelengkan kepala. "Hamba tidak bisa mengajari Tuan Malik apa-apa. Hamba hanya bisa bercerita. Selebihnya, Tuan Malik sendiri yang harus memutuskan."
Pelajaran dari Pasar
Sejak hari itu, Tuan Malik berubah. Ia tidak lagi merendahkan orang lain. Ia tidak lagi merasa paling pandai. Ia mulai mendengarkan, mulai belajar, mulai rendah hati. Ia bahkan membuka sebagian tokonya untuk membantu pedagang-pedagang kecil yang kesulitan. Orang-orang pun kaget melihat perubahan itu. Ada yang bertanya apa yang terjadi, dan Tuan Malik hanya tersenyum, lalu berkata, "Aku pernah kalah dalam sebuah tantangan. Dan kekalahan itu adalah kemenangan terbesar dalam hidupku."
Sementara Abu Nawas, ia tetap seperti biasa. Ia tetap berjalan dengan pakaian lusuhnya, tetap tersenyum kepada siapa pun, tetap membantu orang yang membutuhkan. Ia tidak pernah menyebut-nyebut kemenangannya atas Tuan Malik. Ia tidak pernah membanggakan kecerdikannya. Ia hanya hidup dengan tenang, seperti air yang mengalir di sungai, tidak pernah sombong, tidak pernah pula surut.
Penutup: Penyesalan yang Membawa Berkah
Maka berakhirlah kisah tantangan itu. Tuan Malik yang tadinya angkuh, kini menjadi orang yang rendah hati. Tuan Malik yang tadinya merasa paling pandai, kini menjadi orang yang gemar belajar. Tuan Malik yang tadinya menyesal karena kalah, kini bersyukur karena kekalahannya telah menyadarkannya.
Dan di dalam hati Tuan Malik, sejak hari itu, tersimpan satu nama yang selalu membuatnya tersenyum. Abu Nawas.
Selama ini, Tuan Malik selalu merasa dirinyalah yang paling pandai. Ia merasa kekayaannya adalah bukti kecerdasannya, dan kemiskinan orang lain adalah bukti kebodohan mereka. Namun setiap kali ia mendengar orang memuji Abu Nawas, hatinya terasa terbakar. Ia tidak tahan membayangkan seorang pria berpakaian lusuh, yang tidak punya toko, yang tidak punya kuda, justru lebih dihormati daripada dirinya. Maka pagi itu, ia memutuskan sesuatu yang akan ia sesali seumur hidupnya.
Tantangan yang Diumumkan
Tuan Malik berdiri di depan tokonyya yang paling besar, di atas sebuah bangku kayu, dengan tangan terangkat tinggi. Orang-orang yang lewat pun berhenti, penasaran ingin mendengar apa yang akan ia katakan.
"Wahai seluruh penghuni kota!" serunya lantang. "Hari ini aku menantang Abu Nawas, orang yang kalian sebut paling cerdik itu, untuk beradu akal denganku. Jika ia menang, aku akan menyerahkan separuh kekayaanku kepadanya. Namun jika ia kalah, ia harus berjalan telanjang bulat mengelilingi pasar ini tiga kali, dan tidak boleh lagi disebut-sebut sebagai orang cerdik di negeri ini!"
Pasar pun gempar. Tantangan itu terdengar sangat berat, terutama bagi Abu Nawas yang tidak punya apa-apa. Jika ia menang, ia akan menjadi orang kaya dalam sekejap. Namun jika ia kalah, ia akan kehilangan harga dirinya selamanya. Orang-orang pun mulai berbisik, ada yang merasa kasihan kepada Abu Nawas, ada yang merasa penasaran, dan tidak sedikit yang menyeringai, berharap melihat pria sederhana itu jatuh.
Jawaban yang Tenang
Kabar tantangan itu sampai ke telinga Abu Nawas dengan cepat. Ketika ia datang ke pasar, orang-orang pun membuka jalan untuknya, menatapnya dengan campuran rasa khawatir dan harap. Tuan Malik menyambutnya dengan senyum sinis.
"Jadi engkau datang, Abu Nawas," ujarnya. "Apakah engkau menerima tantanganku?"
Abu Nawas tersenyum. Senyum yang sama, senyum yang selalu membuat orang merasa ada sesuatu yang belum mereka pahami.
"Hamba menerima tantangan Tuan Malik," ujarnya pelan. "Namun hamba ingin mengajukan satu syarat."
Tuan Malik mengangkat alis. "Syarat apa?"
"Tuan Malik adalah pedagang kain terkaya di kota ini. Hamba hanya rakyat biasa yang tidak punya apa-apa. Maka izinkan hamba memilih pertanyaannya, sebagai ganti dari taruhan yang tidak seimbang."
Tuan Malik tertawa. Ia merasa pertanyaan apa pun tidak akan menolong Abu Nawas. "Baiklah, aku setuju. Silakan ajukan pertanyaanmu."
Pertanyaan yang Membuat Bingung
Abu Nawas menatap Tuan Malik lama sekali. Lalu ia bertanya dengan suara tenang, "Tuan Malik, engkau memiliki tiga toko kain, puluhan pelayan, dan kuda terbaik di kota ini. Namun katakanlah, jika seluruh kekayaanmu itu harus engkau tukar dengan satu hal saja, apakah hal itu?"
Tuan Malik mengerutkan dahi. Ia tidak menyangka pertanyaannya sesederhana itu. "Tentu saja aku akan menukarnya dengan kekayaan yang lebih besar," jawabnya cepat.
Abu Nawas menggelengkan kepala. "Bukan itu jawabannya, Tuan Malik."
Tuan Malik terkejut. "Lalu apa?"
Abu Nawas tersenyum. "Jawaban yang benar adalah: tidak ada. Tidak ada satu hal pun di dunia ini yang pantas ditukar dengan seluruh kekayaan Tuan Malik, karena kekayaan itu sendiri sudah cukup. Namun pertanyaan hamba bukan tentang kekayaan, Tuan Malik. Pertanyaan hamba adalah: apakah Tuan Malik pernah berpikir bahwa kekayaan yang Tuan Malik banggakan itu bisa hilang dalam sekejap?"
Tuan Malik terdiam. Ia tidak menyangka pertanyaannya akan berbelok ke arah itu. "Tentu saja aku pernah berpikir," jawabnya dengan nada sedikit gugup. "Setiap pedagang pasti berpikir tentang kerugian."
"Kalau begitu," lanjut Abu Nawas, "jika Tuan Malik pernah berpikir bahwa kekayaan bisa hilang, mengapa Tuan Malik begitu yakin bahwa kekayaan itu adalah bukti kecerdasan? Bukankah orang bodoh pun bisa menjadi kaya karena warisan? Bukankah orang pandai pun bisa menjadi miskin karena musibah? Kekayaan dan kecerdasan adalah dua hal yang berbeda, Tuan Malik. Yang satu bisa hilang, yang satu tidak. Dan yang tidak bisa hilang itulah yang seharusnya Tuan Malik banggakan."
Kerumunan yang Terdiam
Pasar yang tadi ramai pun mendadak hening. Orang-orang saling pandang. Tuan Malik berdiri di atas bangkunya dengan wajah pucat. Ia membuka mulut, namun tidak ada kata yang keluar. Ia ingin membantah, namun tidak tahu harus membantah apa. Ia ingin tertawa, namun tawanya terasa kering di tenggorokan.
"Engkau... engkau tidak menjawab tantanganku," ujarnya akhirnya dengan suara bergetar.
Abu Nawas menggelengkan kepala. "Justru hamba sudah menjawabnya, Tuan Malik. Tantangan Tuan Malik adalah beradu akal. Hamba sudah beradu akal dengan Tuan Malik. Dan Tuan Malik tidak bisa menjawab pertanyaan hamba. Maka hamba menang."
Kerumunan pun meledak dalam sorakan. Orang-orang bertepuk tangan, memuji kecerdikan Abu Nawas. Tuan Malik pun turun dari bangkunya dengan wajah yang merah padam. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menundukkan kepala, lalu berjalan pulang ke tokonya dengan langkah yang berat.
Penyesalan Tuan Malik
Malam itu, Tuan Malik duduk seorang diri di ruang kerjanya. Ia memandang tumpukan kain-kain mahal yang selama ini ia banggakan, lalu memandang cermin di depannya. Ia melihat wajah seorang pria yang kaya, namun hatinya terasa kosong. Ia teringat kata-kata Abu Nawas tadi pagi. Kekayaan dan kecerdasan adalah dua hal yang berbeda. Yang satu bisa hilang, yang satu tidak.
Ia teringat betapa sombongnya dirinya selama ini. Ia teringat betapa seringnya ia merendahkan orang lain hanya karena mereka tidak seberuntung dirinya. Ia teringat betapa ia selalu merasa paling pandai, padahal ia tidak pernah benar-benar berpikir tentang hal-hal yang penting dalam hidup. Ia teringat bahwa ia tidak pernah belajar dari kegagalan, karena ia tidak pernah merasa gagal.
Dan yang paling membuatnya menyesal, ia teringat bahwa ia telah menantang Abu Nawas di depan seluruh pasar, dan kalah. Bukan kalah karena kekayaan, bukan kalah karena kekuasaan, melainkan kalah karena ia tidak bisa menjawab pertanyaan yang paling sederhana: apa yang pantas dibanggakan dari diri seseorang?
Tuan Malik pun menangis. Ia menangis bukan karena kehilangan taruhan, sebab Abu Nawas tidak pernah menuntut hadiah apa pun. Ia menangis karena ia sadar, selama ini ia telah menyia-nyiakan hidupnya untuk sesuatu yang tidak kekal.
Keesokan Harinya
Pagi berikutnya, Tuan Malik datang ke rumah Abu Nawas. Ia tidak membawa pengawal, tidak membawa kuda, tidak membawa apa pun selain dirinya sendiri dan sekeranjang makanan sebagai tanda permintaan maaf. Abu Nawas menyambutnya dengan senyum yang sama seperti biasa, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.
"Tuan Malik," ujar Abu Nawas. "Silakan masuk. Rumah hamba sederhana, namun pintunya selalu terbuka."
Tuan Malik menundukkan kepala. "Abu Nawas, aku datang untuk meminta maaf. Aku telah sombong, aku telah merendahkanmu, aku telah menantangmu di depan umum. Aku menyesal."
Abu Nawas tersenyum. "Tuan Malik, hamba tidak pernah marah kepada Tuan Malik. Hamba hanya menjawab pertanyaan yang Tuan Malik ajukan. Jika Tuan Malik menyesal, itu bukan karena hamba, melainkan karena Tuan Malik sendiri yang akhirnya melihat kebenaran."
Tuan Malik mengangkat kepala. Matanya masih basah. "Ajari aku, Abu Nawas. Ajari aku menjadi orang yang tidak sombong."
Abu Nawas menggelengkan kepala. "Hamba tidak bisa mengajari Tuan Malik apa-apa. Hamba hanya bisa bercerita. Selebihnya, Tuan Malik sendiri yang harus memutuskan."
Pelajaran dari Pasar
Sejak hari itu, Tuan Malik berubah. Ia tidak lagi merendahkan orang lain. Ia tidak lagi merasa paling pandai. Ia mulai mendengarkan, mulai belajar, mulai rendah hati. Ia bahkan membuka sebagian tokonya untuk membantu pedagang-pedagang kecil yang kesulitan. Orang-orang pun kaget melihat perubahan itu. Ada yang bertanya apa yang terjadi, dan Tuan Malik hanya tersenyum, lalu berkata, "Aku pernah kalah dalam sebuah tantangan. Dan kekalahan itu adalah kemenangan terbesar dalam hidupku."
Sementara Abu Nawas, ia tetap seperti biasa. Ia tetap berjalan dengan pakaian lusuhnya, tetap tersenyum kepada siapa pun, tetap membantu orang yang membutuhkan. Ia tidak pernah menyebut-nyebut kemenangannya atas Tuan Malik. Ia tidak pernah membanggakan kecerdikannya. Ia hanya hidup dengan tenang, seperti air yang mengalir di sungai, tidak pernah sombong, tidak pernah pula surut.
Penutup: Penyesalan yang Membawa Berkah
Maka berakhirlah kisah tantangan itu. Tuan Malik yang tadinya angkuh, kini menjadi orang yang rendah hati. Tuan Malik yang tadinya merasa paling pandai, kini menjadi orang yang gemar belajar. Tuan Malik yang tadinya menyesal karena kalah, kini bersyukur karena kekalahannya telah menyadarkannya.
Dan di dalam hati Tuan Malik, sejak hari itu, tersimpan satu nama yang selalu membuatnya tersenyum. Abu Nawas.
