Abu Nawas Mendapat Perintah Aneh, Tak Disangka Ini Jawabannya

Pagi itu, istana Raja Harun kembali dipenuhi oleh suasana yang tidak biasa. Para pengawal berlarian ke sana kemari, para menteri berbisik dengan wajah tegang, dan para pelayan sibuk menyiapkan sesuatu yang tidak pernah mereka siapkan sebelumnya. Kabar yang beredar pun semakin aneh dari mulut ke mulut. 


Konon, raja akan memberikan perintah yang belum pernah diberikan kepada siapa pun sebelumnya. Dan orang yang dipanggil untuk melaksanakannya tidak lain adalah Abu Nawas, pria sederhana yang namanya sudah terlalu sering membuat istana gempar dengan kecerdikannya.

Rakyat yang mendengar kabar itu pun berbondong-bondong mendatangi halaman istana, berharap bisa menyaksikan langsung apa yang akan terjadi. Mereka tahu, setiap kali Abu Nawas dipanggil, pasti ada sesuatu yang menarik untuk disaksikan. Namun kali ini, bisik-bisik yang terdengar berbeda. Ada yang mengatakan perintah itu mustahil. Ada yang mengatakan raja sedang menguji kesabaran Abu Nawas. Ada pula yang berani menduga, kali ini Abu Nawas benar-benar akan menemui jalan buntu.

Perintah yang Membuat Balairung Hening

Raja Harun duduk di singgasananya dengan senyum yang sulit ditebak. Di tangannya tergenggam sebuah gulungan kecil, yang ia putar-putar perlahan seperti sedang menikmati sesuatu. Ketika Abu Nawas akhirnya masuk ke balairung, semua mata langsung tertuju padanya. Pria itu berjalan dengan tenang, mengenakan pakaian sederhananya yang sudah lusuh, dan tersenyum ramah kepada siapa pun yang ia lewati.

"Abu Nawas," ujar sang raja lantang. "Hari ini aku memiliki perintah untukmu. Bukan pertanyaan, bukan teka-teki, melainkan perintah. Dan engkau harus melaksanakannya tanpa membantah."

Abu Nawas menundukkan kepala. "Hamba siap melaksanakan perintah Paduka."

Raja Harun tersenyum. "Perintahku adalah: pergilah ke pasar pagi ini, dan bawalah kepadaku sesuatu yang bisa membuat orang yang melihatnya menangis, namun juga membuat orang yang melihatnya tertawa. Engkau harus membawanya dalam keadaan hidup, dan engkau tidak boleh membelinya dengan uang."

Balairung pun hening. Para menteri saling pandang. Para ulama mengerutkan dahi. Bahkan para pengawal yang biasanya tegar pun tampak bingung. Sesuatu yang membuat orang menangis sekaligus tertawa? Sesuatu yang hidup? Dan tidak boleh dibeli dengan uang? Perintah itu terdengar seperti lelucon, namun wajah raja sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia sedang bercanda.

Bisik-bisik yang Menggema

"Mustahil," bisik seorang menteri kepada menteri di sebelahnya. "Tidak ada benda seperti itu di dunia ini."

"Raja pasti sedang menguji kesabaran Abu Nawas," bisik yang lain. "Kali ini dia benar-benar akan kalah."

Seorang ulama tua menggelengkan kepala. "Aku sudah membaca banyak kitab, namun tidak pernah menemukan sesuatu yang bisa membuat orang menangis dan tertawa sekaligus dalam waktu yang sama."

Rakyat yang mendengar perintah itu dari mulut para pengawal pun ikut berbisik. Ada yang merasa kasihan kepada Abu Nawas. Ada yang merasa penasaran. Ada pula yang menyeringai, berharap kali ini pria sederhana itu akhirnya menemui kegagalan.

Namun Abu Nawas hanya tersenyum. Senyum yang sama, senyum yang selalu membuat raja merasa ada sesuatu yang belum ia pahami.

Keberangkatan yang Tenang

Abu Nawas membungkuk kepada raja, lalu melangkah keluar dari balairung. Ia tidak bertanya, tidak membantah, tidak meminta penjelasan. Ia hanya berjalan dengan tenang, seperti seseorang yang sudah tahu apa yang akan ia lakukan. Rakyat yang melihatnya keluar pun ikut mengiringinya dari belakang, penasaran ingin melihat ke mana ia akan pergi.

Abu Nawas berjalan melewati pasar. Ia melewati pedagang buah, pedagang kain, pedagang emas, bahkan pedagang mainan anak-anak. Ia tidak berhenti di satu pun dari mereka. Ia hanya tersenyum, mengangguk kepada siapa pun yang menyapanya, dan terus melangkah.

Ia berjalan hingga ke ujung pasar, ke tempat yang jarang dikunjungi orang. Di sana, di bawah pohon besar yang rindang, duduklah seorang perempuan tua bersama seorang bayi mungil di pangkuannya. Bayi itu sedang tertawa riang, namun matanya basah oleh air mata. Ia tertawa sambil menangis, menangis sambil tertawa. Perempuan tua itu hanya tersenyum, mengusap kepala bayi itu dengan penuh kasih sayang.

Abu Nawas berhenti. Ia memandang bayi itu lama sekali. Lalu ia tersenyum, dan berkata pelan, "Inilah dia."

Kembali ke Istana

Ketika Abu Nawas kembali ke istana, semua mata kembali tertuju padanya. Namun kali ini, tidak ada yang bisa menebak apa yang ia bawa. Ia tidak membawa keranjang, tidak membawa kotak, tidak membawa karung. Ia hanya berjalan dengan tangan kosong, ditemani seorang perempuan tua yang menggendong bayi mungil di pangkuannya.

Raja Harun mengerutkan dahi. "Abu Nawas, mana yang kau bawa? Aku tidak melihat apa pun di tanganmu."

Abu Nawas menundukkan kepala. "Tuanku, hamba membawa bayi ini. Ia menangis karena lapar, namun ia juga tertawa karena ibunya mengusap kepalanya. Ia menangis dan tertawa dalam waktu yang sama. Ia hidup, Tuanku, seperti yang Paduka perintahkan."

Raja Harun terdiam. Ia memandang bayi itu, yang masih tertawa sambil matanya berair. Bayi itu memang menangis, namun juga tertawa. Ia memang sedih, namun juga bahagia. Dalam satu wajah kecil itu, dua perasaan yang bertolak belakang menyatu dengan indahnya.

"Dan engkau tidak membelinya dengan uang?" tanya sang raja.

Abu Nawas tersenyum. "Tidak, Tuanku. Bayi tidak dijual. Ia adalah anugerah. Hamba hanya meminta izin kepada ibunya untuk membawanya ke istana sebentar, dan ia mengizinkan."

Raja yang Tak Bisa Berkata Apa-apa

Raja Harun bangkit dari singgasananya. Ia melangkah mendekati bayi itu, dan memandangnya lama sekali. Bayi itu menatapnya dengan mata polos, lalu tertawa, lalu menangis lagi. Raja Harun pun tersenyum. Bukan senyum kemenangan, melainkan senyum seseorang yang baru saja belajar sesuatu yang tidak ada di dalam kitab mana pun.

"Abu Nawas," ujarnya pelan. "Aku mengira perintah ini akan membuatmu bingung. Aku mengira engkau akan berkeliling pasar mencari sesuatu yang tidak ada. Namun engkau justru menemukan sesuatu yang paling sederhana, yang ada di depan mata kami semua, namun tidak kami lihat."

Abu Nawas menundukkan kepala. "Tuanku, banyak hal sederhana di dunia ini yang justru paling sulit dipahami. Sebab kita terlalu sibuk mencari yang rumit, hingga lupa melihat yang ada di depan kita."

Balairung pun hening. Para menteri yang tadinya menyeringai kini menundukkan kepala. Para ulama yang tadinya merasa paling pandai kini merasa kecil. Rakyat yang menonton dari luar istana pun ikut terdiam, merenungkan kata-kata Abu Nawas.

Pelajaran di Balairung

Raja Harun memerintahkan agar perempuan tua dan bayi itu diberi hadiah yang layak. Ia juga memerintahkan agar Abu Nawas diberi hadiah, meskipun pria itu berkali-kali menolak dengan halus. Namun raja tetap bersikeras. Bukan karena Abu Nawas menang, tetapi karena ia telah mengingatkan raja akan sesuatu yang penting: bahwa kebijaksanaan tidak selalu datang dari tempat yang jauh, tidak selalu datang dari kitab yang tebal, dan tidak selalu datang dari orang yang berpangkat tinggi.

"Abu Nawas," ujar sang raja sebelum mengakhiri pertemuan itu. "Engkau telah mengajariku sesuatu hari ini. Bahwa hal yang paling sederhana di dunia ini justru yang paling sulit dipahami. Dan bahwa perintah yang paling aneh sekalipun, jika dihadapi dengan hati yang tenang, akan menemukan jawabannya."

Abu Nawas tersenyum. "Tuanku, hamba hanya melaksanakan perintah. Tidak lebih."

Penutup: Bayi yang Mengubah Segalanya

Maka pulanglah Abu Nawas ke rumahnya yang sederhana, dengan langkah yang sama tenangnya seperti saat ia datang. Ia tidak membawa hadiah emas, tidak membawa piagam penghargaan, tidak membawa jabatan baru. Ia hanya membawa senyum, dan hati yang bersih.

Sementara di istana, Raja Harun duduk seorang diri di ruang kerjanya. Ia memandang ke luar jendela, memikirkan bayi kecil yang tadi menangis sambil tertawa. Ia tersenyum. Bukan senyum kemenangan, melainkan senyum seseorang yang baru saja belajar sesuatu yang tidak ada di dalam kitab mana pun.

Sejak hari itu, Raja Harun tidak pernah lagi memberikan perintah yang aneh-aneh kepada rakyatnya. Bukan karena ia takut gagal, tetapi karena ia sadar, beberapa hal tidak perlu diuji. Kebijaksanaan tidak selalu datang dari singgasana. Terkadang, ia datang dari orang yang paling sederhana di antara kita.

Dan di dalam hati Raja Harun, sejak hari itu, tersimpan satu nama yang selalu membuatnya tersenyum. Abu Nawas.