Raja Memberikan Teka-Teki Mustahil kepada Abu Nawas
Malam itu, kota sudah sunyi. Lampu-lampu rumah mulai padam satu per satu, dan orang-orang pun tertidur lelap setelah seharian bekerja. Namun di istana Raja Harun, cahaya masih menyala terang. Para pengawal berjaga dengan wajah tegang, para pelayan berlarian dengan langkah cepat, dan para menteri dipanggil kembali ke istana meski malam sudah larut.
Kabar yang beredar pun membuat semua orang gelisah. Konon, raja akan memberikan sebuah teka-teki yang belum pernah ada sebelumnya. Sebuah teka-teki yang bahkan para penasihat istana sendiri mengaku tidak tahu jawabannya.
Di rumahnya yang sederhana, Abu Nawas sedang duduk di depan pintu, memandang langit malam yang penuh bintang. Ia belum tidur, seperti ada sesuatu yang membuatnya terjaga. Ketika seorang pengawal istana datang mengetuk pintunya dan menyampaikan panggilan raja, Abu Nawas hanya tersenyum. Ia bangkit, memakai sandalnya, dan berkata pelan, "Sudah hamba tunggu."
Perintah yang Membuat Semua Terdiam
Ketika Abu Nawas tiba di balairung, suasana di sana begitu hening. Raja Harun duduk di singgasananya dengan wajah serius, tidak seperti biasanya yang selalu tersenyum penuh teka-teki. Di sekelilingnya, para menteri, ulama, dan pujangga istana berdiri dengan wajah pucat. Mereka semua sudah mendengar teka-teki itu, dan tidak satu pun dari mereka yang berani menjawab.
"Abu Nawas," ujar sang raja dengan suara berat. "Aku sudah mengumpulkan orang-orang paling pandai di negeri ini. Mereka semua gagal menjawab teka-tekiku. Kini giliranmu."
Abu Nawas menundukkan kepala. "Hamba siap mendengarkan, Tuanku."
Raja Harun menarik napas panjang. "Teka-teki ini adalah teka-teki yang aku susun sendiri, bersama para penasihatku, selama berbulan-bulan. Aku yakin, tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menjawabnya."
Semua mata tertuju pada raja. Balairung pun sunyi, bahkan suara napas pun terdengar seperti gemuruh.
"Teka-tekinya adalah," lanjut sang raja. "Aku memiliki sesuatu yang tidak bisa dilihat, tidak bisa didengar, tidak bisa disentuh, tidak bisa dicium, dan tidak bisa dirasakan. Namun ia ada di setiap tempat, di setiap waktu, di setiap manusia. Ia bisa membuat orang kaya menjadi miskin, dan orang miskin menjadi kaya. Ia bisa membuat raja kehilangan mahkotanya, dan pengemis mendapatkan istana. Ia tidak pernah meminta, namun selalu memberi. Ia tidak pernah datang, namun selalu pergi. Apa itu?"
Balairung pun hening. Para menteri saling pandang. Para ulama menggelengkan kepala. Para pujangga menundukkan wajah. Mereka semua sudah mendengar teka-teki itu, dan mereka semua tahu, tidak ada jawaban yang masuk akal.
Bisik-bisik yang Menggema
"Mustahil," bisik seorang menteri. "Tidak ada benda seperti itu di dunia ini."
"Raja pasti sedang menguji kesabaran kita," bisik yang lain. "Teka-teki ini tidak mungkin dijawab."
Seorang ulama tua menggelengkan kepala. "Aku sudah membaca ratusan kitab, namun tidak pernah menemukan sesuatu yang cocok dengan semua ciri itu. Tidak bisa dilihat, tidak bisa didengar, tidak bisa disentuh, tidak bisa dicium, tidak bisa dirasakan. Namun ia bisa membuat orang kaya menjadi miskin, dan orang miskin menjadi kaya. Apa itu? Tidak ada."
Para pujangga pun mengaku menyerah. Mereka sudah mencoba berbagai jawaban, mulai dari "waktu", "takdir", "cinta", hingga "kematian". Namun semua jawaban itu dibantah oleh raja. Waktu bisa dirasakan, takdir bisa dilihat jejaknya, cinta bisa disentuh melalui sentuhan, dan kematian bisa dicium baunya. Tidak ada yang cocok.
Raja Harun tersenyum tipis. "Jadi, Abu Nawas. Apakah engkau juga akan menyerah seperti mereka?"
Senyum yang Tak Terduga
Abu Nawas tidak langsung menjawab. Ia menundukkan kepala sejenak, seperti sedang berpikir. Balairung pun hening. Semua mata tertuju padanya. Ada yang menahan napas, ada yang menyeringai sinis, ada yang merasa kasihan. Mereka semua yakin, kali ini Abu Nawas akan kalah. Teka-teki itu terlalu mustahil, bahkan untuk orang paling cerdik di negeri itu.
Namun ketika Abu Nawas mengangkat kepala, ia tersenyum. Senyum yang sama, senyum yang selalu membuat orang merasa ada sesuatu yang belum mereka pahami.
"Tuanku," ujarnya pelan. "Hamba tahu jawabannya."
Balairung pun gempar. Para menteri saling pandang. Para ulama mengerutkan dahi. Raja Harun sendiri tampak terkejut, meski ia berusaha menyembunyikannya.
"Katakan," perintah sang raja.
Abu Nawas menarik napas panjang. "Jawabannya adalah: kesempatan."
Balairung pun hening. Namun hening kali ini berbeda. Hening yang menyadarkan. Hening yang membuat semua orang menoleh ke arah Abu Nawas dengan mata terbelalak.
"Jelaskan," ujar sang raja dengan suara bergetar.
Penjelasan yang Membuat Raja Terdiam
Abu Nawas mengangguk. "Tuanku, kesempatan tidak bisa dilihat. Kita tidak pernah tahu kapan ia datang, dari mana ia berasal, dan ke mana ia pergi. Kesempatan tidak bisa didengar. Ia tidak pernah bersuara, tidak pernah memanggil, tidak pernah mengumumkan kedatangannya. Kesempatan tidak bisa disentuh. Kita tidak bisa menggenggamnya, tidak bisa menyimpannya di dalam peti, tidak bisa mengikatnya dengan tali. Kesempatan tidak bisa dicium. Ia tidak punya bau, tidak punya aroma, tidak punya wangi. Kesempatan tidak bisa dirasakan. Ia tidak punya rasa, tidak punya bentuk, tidak punya wujud."
Raja Harun terdiam. Para menteri pun mulai mengangguk pelan.
"Namun," lanjut Abu Nawas. "Kesempatan ada di setiap tempat, di setiap waktu, di setiap manusia. Ia bisa membuat orang kaya menjadi miskin, jika ia menyia-nyiakannya. Ia bisa membuat orang miskin menjadi kaya, jika ia memanfaatkannya. Ia bisa membuat raja kehilangan mahkotanya, jika ia lengah. Ia bisa membuat pengemis mendapatkan istana, jika ia berani bermimpi. Kesempatan tidak pernah meminta, namun selalu memberi. Ia tidak pernah datang, namun selalu pergi. Sebab ketika kesempatan itu lewat, ia tidak akan pernah kembali."
Balairung pun sunyi. Tidak ada suara, tidak ada gerakan. Bahkan angin yang bertiup pun seolah berhenti. Raja Harun menatap Abu Nawas lama sekali. Wajahnya yang tadinya penuh keyakinan perlahan berubah. Bukan marah, bukan bingung, melainkan takjub.
Raja yang Tak Bisa Berkata Apa-apa
Raja Harun bangkit dari singgasananya. Ia melangkah mendekati Abu Nawas, lalu meletakkan tangannya di bahu pria itu. Ia membuka mulut, namun tidak ada kata yang keluar. Ia ingin memuji, namun pujian terasa terlalu kecil. Ia ingin berterima kasih, namun terima kasih terasa terlalu dangkal. Ia hanya bisa terdiam, memandang Abu Nawas dengan mata yang bergetar.
"Abu Nawas," ujarnya akhirnya dengan suara pelan. "Aku menyusun teka-teki ini selama berbulan-bulan. Aku melibatkan orang-orang paling pandai di negeri ini. Kami semua yakin, tidak ada seorang pun yang bisa menjawabnya. Namun engkau... engkau menjawabnya dalam sekejap, seolah jawabannya sudah ada di depan mata kami sejak awal."
Abu Nawas menundukkan kepala. "Tuanku, banyak hal yang paling sulit dipahami justru ada di depan mata kita. Kita terlalu sibuk mencari yang jauh, hingga lupa melihat yang dekat."
Raja Harun pun terdiam. Ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menatap Abu Nawas, lalu menatap para menteri, lalu menatap langit-langit balairung yang tinggi. Ia merasa kecil. Bukan karena ia kalah, melainkan karena ia sadar, selama ini ia telah menyia-nyiakan banyak kesempatan untuk belajar dari orang yang paling sederhana di negerinya.
Pelajaran di Balairung
Para hadirin pun akhirnya tersadar. Mereka yang tadinya menyeringai sinis kini menundukkan kepala. Mereka yang tadinya merasa paling pandai kini merasa kecil. Para menteri yang gagal menjawab hanya bisa menghela napas, menyadari bahwa kecerdasan sejati tidak selalu bersemayam di balik pakaian mewah dan gelar yang panjang.
Raja Harun kembali ke singgasananya. Ia memandang seluruh hadirin dengan mata yang berbeda. "Hari ini," ujarnya dengan suara yang lebih pelan, namun penuh makna. "Aku belajar sesuatu. Bahwa teka-teki yang paling mustahil sekalipun, jika dihadapi dengan hati yang tenang dan pikiran yang jernih, akan menemukan jawabannya. Dan bahwa kebijaksanaan tidak selalu datang dari mereka yang berpakaian mewah atau bergelar tinggi. Terkadang, ia datang dari orang yang paling sederhana di antara kita."
Abu Nawas hanya tersenyum. Ia tidak meminta hadiah emas, tidak meminta jabatan, tidak meminta pujian. Ia hanya berkata, "Tuanku, hamba hanya menjawab dengan apa yang hamba pahami. Tidak lebih."
Penutup: Kesempatan yang Tak Pernah Kembali
Maka pulanglah Abu Nawas ke rumahnya yang sederhana, dengan langkah yang sama tenangnya seperti saat ia datang. Ia tidak membawa hadiah emas, tidak membawa piagam penghargaan, tidak membawa jabatan baru. Ia hanya membawa senyum, dan hati yang bersih.
Sementara di istana, Raja Harun duduk seorang diri di ruang kerjanya. Ia memandang ke luar jendela, memikirkan kata-kata Abu Nawas. Bahwa kesempatan tidak bisa dilihat, tidak bisa didengar, tidak bisa disentuh, tidak bisa dicium, tidak bisa dirasakan. Namun ia bisa membuat orang kaya menjadi miskin, dan orang miskin menjadi kaya. Ia tidak pernah meminta, namun selalu memberi. Ia tidak pernah datang, namun selalu pergi.
Raja Harun pun tersenyum. Bukan senyum kemenangan, melainkan senyum seseorang yang baru saja belajar sesuatu yang tidak ada di dalam kitab mana pun.
Sejak hari itu, Raja Harun tidak pernah lagi menyia-nyiakan kesempatan. Ia belajar mendengarkan, belajar melihat, belajar memahami. Ia belajar bahwa kebijaksanaan tidak selalu datang dari singgasana. Terkadang, ia datang dari orang yang paling sederhana di antara kita.
Dan di dalam hati Raja Harun, sejak hari itu, tersimpan satu nama yang selalu membuatnya tersenyum. Abu Nawas.
Di rumahnya yang sederhana, Abu Nawas sedang duduk di depan pintu, memandang langit malam yang penuh bintang. Ia belum tidur, seperti ada sesuatu yang membuatnya terjaga. Ketika seorang pengawal istana datang mengetuk pintunya dan menyampaikan panggilan raja, Abu Nawas hanya tersenyum. Ia bangkit, memakai sandalnya, dan berkata pelan, "Sudah hamba tunggu."
Perintah yang Membuat Semua Terdiam
Ketika Abu Nawas tiba di balairung, suasana di sana begitu hening. Raja Harun duduk di singgasananya dengan wajah serius, tidak seperti biasanya yang selalu tersenyum penuh teka-teki. Di sekelilingnya, para menteri, ulama, dan pujangga istana berdiri dengan wajah pucat. Mereka semua sudah mendengar teka-teki itu, dan tidak satu pun dari mereka yang berani menjawab.
"Abu Nawas," ujar sang raja dengan suara berat. "Aku sudah mengumpulkan orang-orang paling pandai di negeri ini. Mereka semua gagal menjawab teka-tekiku. Kini giliranmu."
Abu Nawas menundukkan kepala. "Hamba siap mendengarkan, Tuanku."
Raja Harun menarik napas panjang. "Teka-teki ini adalah teka-teki yang aku susun sendiri, bersama para penasihatku, selama berbulan-bulan. Aku yakin, tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menjawabnya."
Semua mata tertuju pada raja. Balairung pun sunyi, bahkan suara napas pun terdengar seperti gemuruh.
"Teka-tekinya adalah," lanjut sang raja. "Aku memiliki sesuatu yang tidak bisa dilihat, tidak bisa didengar, tidak bisa disentuh, tidak bisa dicium, dan tidak bisa dirasakan. Namun ia ada di setiap tempat, di setiap waktu, di setiap manusia. Ia bisa membuat orang kaya menjadi miskin, dan orang miskin menjadi kaya. Ia bisa membuat raja kehilangan mahkotanya, dan pengemis mendapatkan istana. Ia tidak pernah meminta, namun selalu memberi. Ia tidak pernah datang, namun selalu pergi. Apa itu?"
Balairung pun hening. Para menteri saling pandang. Para ulama menggelengkan kepala. Para pujangga menundukkan wajah. Mereka semua sudah mendengar teka-teki itu, dan mereka semua tahu, tidak ada jawaban yang masuk akal.
Bisik-bisik yang Menggema
"Mustahil," bisik seorang menteri. "Tidak ada benda seperti itu di dunia ini."
"Raja pasti sedang menguji kesabaran kita," bisik yang lain. "Teka-teki ini tidak mungkin dijawab."
Seorang ulama tua menggelengkan kepala. "Aku sudah membaca ratusan kitab, namun tidak pernah menemukan sesuatu yang cocok dengan semua ciri itu. Tidak bisa dilihat, tidak bisa didengar, tidak bisa disentuh, tidak bisa dicium, tidak bisa dirasakan. Namun ia bisa membuat orang kaya menjadi miskin, dan orang miskin menjadi kaya. Apa itu? Tidak ada."
Para pujangga pun mengaku menyerah. Mereka sudah mencoba berbagai jawaban, mulai dari "waktu", "takdir", "cinta", hingga "kematian". Namun semua jawaban itu dibantah oleh raja. Waktu bisa dirasakan, takdir bisa dilihat jejaknya, cinta bisa disentuh melalui sentuhan, dan kematian bisa dicium baunya. Tidak ada yang cocok.
Raja Harun tersenyum tipis. "Jadi, Abu Nawas. Apakah engkau juga akan menyerah seperti mereka?"
Senyum yang Tak Terduga
Abu Nawas tidak langsung menjawab. Ia menundukkan kepala sejenak, seperti sedang berpikir. Balairung pun hening. Semua mata tertuju padanya. Ada yang menahan napas, ada yang menyeringai sinis, ada yang merasa kasihan. Mereka semua yakin, kali ini Abu Nawas akan kalah. Teka-teki itu terlalu mustahil, bahkan untuk orang paling cerdik di negeri itu.
Namun ketika Abu Nawas mengangkat kepala, ia tersenyum. Senyum yang sama, senyum yang selalu membuat orang merasa ada sesuatu yang belum mereka pahami.
"Tuanku," ujarnya pelan. "Hamba tahu jawabannya."
Balairung pun gempar. Para menteri saling pandang. Para ulama mengerutkan dahi. Raja Harun sendiri tampak terkejut, meski ia berusaha menyembunyikannya.
"Katakan," perintah sang raja.
Abu Nawas menarik napas panjang. "Jawabannya adalah: kesempatan."
Balairung pun hening. Namun hening kali ini berbeda. Hening yang menyadarkan. Hening yang membuat semua orang menoleh ke arah Abu Nawas dengan mata terbelalak.
"Jelaskan," ujar sang raja dengan suara bergetar.
Penjelasan yang Membuat Raja Terdiam
Abu Nawas mengangguk. "Tuanku, kesempatan tidak bisa dilihat. Kita tidak pernah tahu kapan ia datang, dari mana ia berasal, dan ke mana ia pergi. Kesempatan tidak bisa didengar. Ia tidak pernah bersuara, tidak pernah memanggil, tidak pernah mengumumkan kedatangannya. Kesempatan tidak bisa disentuh. Kita tidak bisa menggenggamnya, tidak bisa menyimpannya di dalam peti, tidak bisa mengikatnya dengan tali. Kesempatan tidak bisa dicium. Ia tidak punya bau, tidak punya aroma, tidak punya wangi. Kesempatan tidak bisa dirasakan. Ia tidak punya rasa, tidak punya bentuk, tidak punya wujud."
Raja Harun terdiam. Para menteri pun mulai mengangguk pelan.
"Namun," lanjut Abu Nawas. "Kesempatan ada di setiap tempat, di setiap waktu, di setiap manusia. Ia bisa membuat orang kaya menjadi miskin, jika ia menyia-nyiakannya. Ia bisa membuat orang miskin menjadi kaya, jika ia memanfaatkannya. Ia bisa membuat raja kehilangan mahkotanya, jika ia lengah. Ia bisa membuat pengemis mendapatkan istana, jika ia berani bermimpi. Kesempatan tidak pernah meminta, namun selalu memberi. Ia tidak pernah datang, namun selalu pergi. Sebab ketika kesempatan itu lewat, ia tidak akan pernah kembali."
Balairung pun sunyi. Tidak ada suara, tidak ada gerakan. Bahkan angin yang bertiup pun seolah berhenti. Raja Harun menatap Abu Nawas lama sekali. Wajahnya yang tadinya penuh keyakinan perlahan berubah. Bukan marah, bukan bingung, melainkan takjub.
Raja yang Tak Bisa Berkata Apa-apa
Raja Harun bangkit dari singgasananya. Ia melangkah mendekati Abu Nawas, lalu meletakkan tangannya di bahu pria itu. Ia membuka mulut, namun tidak ada kata yang keluar. Ia ingin memuji, namun pujian terasa terlalu kecil. Ia ingin berterima kasih, namun terima kasih terasa terlalu dangkal. Ia hanya bisa terdiam, memandang Abu Nawas dengan mata yang bergetar.
"Abu Nawas," ujarnya akhirnya dengan suara pelan. "Aku menyusun teka-teki ini selama berbulan-bulan. Aku melibatkan orang-orang paling pandai di negeri ini. Kami semua yakin, tidak ada seorang pun yang bisa menjawabnya. Namun engkau... engkau menjawabnya dalam sekejap, seolah jawabannya sudah ada di depan mata kami sejak awal."
Abu Nawas menundukkan kepala. "Tuanku, banyak hal yang paling sulit dipahami justru ada di depan mata kita. Kita terlalu sibuk mencari yang jauh, hingga lupa melihat yang dekat."
Raja Harun pun terdiam. Ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menatap Abu Nawas, lalu menatap para menteri, lalu menatap langit-langit balairung yang tinggi. Ia merasa kecil. Bukan karena ia kalah, melainkan karena ia sadar, selama ini ia telah menyia-nyiakan banyak kesempatan untuk belajar dari orang yang paling sederhana di negerinya.
Pelajaran di Balairung
Para hadirin pun akhirnya tersadar. Mereka yang tadinya menyeringai sinis kini menundukkan kepala. Mereka yang tadinya merasa paling pandai kini merasa kecil. Para menteri yang gagal menjawab hanya bisa menghela napas, menyadari bahwa kecerdasan sejati tidak selalu bersemayam di balik pakaian mewah dan gelar yang panjang.
Raja Harun kembali ke singgasananya. Ia memandang seluruh hadirin dengan mata yang berbeda. "Hari ini," ujarnya dengan suara yang lebih pelan, namun penuh makna. "Aku belajar sesuatu. Bahwa teka-teki yang paling mustahil sekalipun, jika dihadapi dengan hati yang tenang dan pikiran yang jernih, akan menemukan jawabannya. Dan bahwa kebijaksanaan tidak selalu datang dari mereka yang berpakaian mewah atau bergelar tinggi. Terkadang, ia datang dari orang yang paling sederhana di antara kita."
Abu Nawas hanya tersenyum. Ia tidak meminta hadiah emas, tidak meminta jabatan, tidak meminta pujian. Ia hanya berkata, "Tuanku, hamba hanya menjawab dengan apa yang hamba pahami. Tidak lebih."
Penutup: Kesempatan yang Tak Pernah Kembali
Maka pulanglah Abu Nawas ke rumahnya yang sederhana, dengan langkah yang sama tenangnya seperti saat ia datang. Ia tidak membawa hadiah emas, tidak membawa piagam penghargaan, tidak membawa jabatan baru. Ia hanya membawa senyum, dan hati yang bersih.
Sementara di istana, Raja Harun duduk seorang diri di ruang kerjanya. Ia memandang ke luar jendela, memikirkan kata-kata Abu Nawas. Bahwa kesempatan tidak bisa dilihat, tidak bisa didengar, tidak bisa disentuh, tidak bisa dicium, tidak bisa dirasakan. Namun ia bisa membuat orang kaya menjadi miskin, dan orang miskin menjadi kaya. Ia tidak pernah meminta, namun selalu memberi. Ia tidak pernah datang, namun selalu pergi.
Raja Harun pun tersenyum. Bukan senyum kemenangan, melainkan senyum seseorang yang baru saja belajar sesuatu yang tidak ada di dalam kitab mana pun.
Sejak hari itu, Raja Harun tidak pernah lagi menyia-nyiakan kesempatan. Ia belajar mendengarkan, belajar melihat, belajar memahami. Ia belajar bahwa kebijaksanaan tidak selalu datang dari singgasana. Terkadang, ia datang dari orang yang paling sederhana di antara kita.
Dan di dalam hati Raja Harun, sejak hari itu, tersimpan satu nama yang selalu membuatnya tersenyum. Abu Nawas.
