Abu Nawas Hampir Dihukum Raja, Sampai Ia Mengucapkan Satu Kalimat

Istana Raja Harun pagi itu diliputi suasana yang berbeda dari biasanya. Tidak ada senyum, tidak ada tawa, tidak ada sorakan rakyat yang menonton dari kejauhan. Yang ada hanyalah wajah-wajah tegang para pengawal, para menteri yang berbaris dengan kepala tertunduk, dan para ulama yang berbisik dengan nada cemas. Kabar yang menyebar pun membuat seluruh negeri gempar. Raja Harun murka. Dan yang membuatnya murka tidak lain adalah Abu Nawas, pria sederhana yang selama ini dikenal karena kecerdikannya.


Tidak ada yang tahu pasti apa yang telah terjadi. Ada yang mengatakan Abu Nawas telah menghina raja di depan umum. Ada yang mengatakan ia telah menyebarkan kabar bohong tentang istana. Ada pula yang mengatakan ia telah menolak perintah raja dengan cara yang kurang ajar. 

Namun satu hal yang pasti: pagi itu, Abu Nawas digiring ke balairung dengan tangan terikat, dan wajah raja begitu gelap seperti langit yang hendak menurunkan badai. Hukuman pun telah disiapkan. Jika raja tidak mengubah keputusannya, Abu Nawas akan dihukum di depan seluruh rakyat keesokan harinya.

Tuduhan yang Menggema

Balairung pun hening ketika Raja Harun mulai berbicara. Suaranya berat, bergetar oleh amarah yang ia tahan sejak semalam.

"Abu Nawas," ujarnya lantang. "Engkau telah kuberi kepercayaan. Engkau telah kuberi tempat di istana ini. Engkau telah kudengarkan setiap kata-katamu, bahkan ketika kata-katamu membuatku terdiam. Namun hari ini, engkau telah melampaui batas."

Abu Nawas berdiri dengan tenang. Tangan terikat, namun wajahnya tidak menunjukkan rasa takut. Ia hanya menundukkan kepala, seperti biasa, dan menunggu raja melanjutkan.

"Engkau telah menyebarkan kabar bahwa aku, raja negeri ini, tidak adil dalam membagi tanah kepada rakyat," lanjut sang raja. "Engkau telah membuat rakyat meragukan keputusanku. Engkau telah membuat mereka berpikir bahwa rajanya tidak peduli pada mereka. Apakah engkau mengakui perbuatanmu?"

Balairung pun hening. Para menteri saling pandang. Para ulama menghela napas. Mereka semua tahu, jika Abu Nawas mengaku, hukuman pasti akan dijatuhkan. Namun jika ia membantah, ia bisa dianggap berbohong di hadapan raja, dan hukumannya bisa lebih berat lagi.

Tidak Ada yang Berani Membela

Di antara para hadirin, tidak ada satu pun yang berani membela Abu Nawas. Para menteri yang biasanya bersikap ramah kepadanya kini menundukkan kepala, takut terkena amarah raja. Para ulama yang biasanya mengagumi kecerdikannya kini diam, memilih menyelamatkan diri masing-masing. Bahkan para pengawal yang biasanya tersenyum kepadanya kini memasang wajah dingin, seperti tidak mengenalnya sama sekali.

Abu Nawas memandang sekelilingnya. Ia melihat wajah-wajah yang dulu pernah ia tolong, wajah-wajah yang dulu pernah ia hiburan dengan cerita-ceritanya, wajah-wajah yang dulu pernah tertawa bersamanya. Kini semuanya diam. Tidak ada yang berani membuka mulut. Tidak ada yang berani membela. Tidak ada yang berani berdiri di sampingnya.

Namun Abu Nawas tidak marah. Ia tidak kecewa. Ia hanya tersenyum tipis, senyum yang sama, senyum yang selalu membuat orang merasa ada sesuatu yang belum mereka pahami.

Hukuman yang Menanti

Raja Harun bangkit dari singgasananya. Ia melangkah mendekati Abu Nawas, lalu berkata dengan suara yang lebih berat lagi.

"Abu Nawas, aku telah memutuskan. Besok pagi, engkau akan dihukum di depan seluruh rakyat. Engkau akan dipukul seratus kali di depan umum, agar seluruh negeri tahu apa yang terjadi pada orang yang berani menentang rajanya."

Balairung pun gempar. Para menteri saling pandang dengan wajah pucat. Hukuman seratus kali pukulan bukanlah hukuman yang ringan. Bahkan orang yang paling kuat pun bisa tewas. Namun tidak ada satu pun yang berani membantah. Tidak ada satu pun yang berani memohon. Tidak ada satu pun yang berani mengangkat suara.

Abu Nawas menundukkan kepala. Ia tidak membantah, tidak memohon, tidak meronta. Ia hanya berkata pelan, "Hamba siap menerima hukuman, Tuanku."

Raja Harun mengerutkan dahi. Ia tidak menyangka Abu Nawas akan menerima hukuman itu begitu saja. Ia mengira pria itu akan membela diri, akan berdebat, akan menggunakan kecerdikannya seperti biasa. Namun ia hanya menerima. Dan itu justru membuat raja semakin curiga.

Satu Kalimat yang Mengubah Segalanya

Ketika pengawal hendak membawa Abu Nawas ke penjara, pria itu tiba-tiba berhenti. Ia menoleh ke arah raja, dan berkata dengan suara yang pelan namun jelas, "Tuanku, izinkan hamba mengucapkan satu kalimat sebelum hamba dibawa pergi."

Raja Harun mengangkat alis. "Katakan."

Abu Nawas menarik napas panjang. Ia memandang raja lekat-lekat, lalu berkata, "Tuanku, jika Paduka menghukum hamba karena menyebarkan kabar yang tidak benar, maka Paduka telah menghukum orang yang salah. Namun jika Paduka menghukum hamba karena menyebarkan kabar yang benar, maka Paduka telah mengakui bahwa kabar itu benar. Dan jika kabar itu benar, maka yang seharusnya dihukum bukanlah hamba, melainkan orang yang membuat kabar itu menjadi benar."

Balairung pun hening. Hening yang begitu dalam, hingga suara napas pun terdengar seperti gemuruh. Raja Harun terdiam. Wajahnya yang tadinya gelap perlahan berubah. Bukan marah, bukan bingung, melainkan takjub. Ia menatap Abu Nawas lama sekali, seperti seseorang yang baru saja melihat cermin untuk pertama kalinya.

Raja yang Tak Bisa Berkata Apa-apa

Raja Harun mundur selangkah. Ia membuka mulut, namun tidak ada kata yang keluar. Ia ingin membantah, namun tidak tahu harus membantah apa. Ia ingin marah, namun amarahnya terasa menguap begitu saja. Ia ingin menghukum, namun hukuman terasa tidak adil.

"Engkau... engkau mengatakan bahwa kabar itu benar?" tanya sang raja akhirnya dengan suara bergetar.

Abu Nawas menundukkan kepala. "Hamba tidak mengatakan bahwa kabar itu benar, Tuanku. Hamba hanya mengatakan bahwa jika Paduka menghukum hamba karena kabar itu, maka Paduka telah mengakui bahwa kabar itu benar. Hamba tidak pernah menyebarkan kabar itu. Hamba hanya menjawab pertanyaan rakyat yang datang kepada hamba. Dan hamba menjawab dengan jujur."

Raja Harun pun duduk kembali di singgasananya. Ia memandang seluruh hadirin dengan mata yang berbeda. Ia melihat para menteri yang menundukkan kepala, para ulama yang diam, para pengawal yang memasang wajah dingin. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani membela Abu Nawas. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani mengatakan kebenaran. Dan di hadapannya, seorang pria dengan tangan terikat justru mengatakan kebenaran itu tanpa rasa takut.

"Lepaskan ikatannya," perintah sang raja dengan suara pelan.

Pelajaran di Balairung

Para pengawal pun melepaskan ikatan di tangan Abu Nawas. Pria itu mengusap pergelangan tangannya perlahan, lalu menundukkan kepala kepada raja. Ia tidak tersenyum sombong, tidak menatap para menteri dengan sinis, tidak membanggakan dirinya. Ia hanya berdiri dengan tenang, seperti biasa.

Raja Harun memandangnya lama sekali. "Abu Nawas," ujarnya akhirnya. "Engkau hampir kuhukum karena sesuatu yang tidak engkau lakukan. Engkau hampir kehilangan nyawamu karena kabar yang bukan berasal dari mulutmu. Namun engkau tidak membantah dengan amarah, tidak membela diri dengan teriakan, tidak memohon dengan air mata. Engkau hanya mengucapkan satu kalimat, dan kalimat itu membuatku sadar betapa bodohnya aku."

Abu Nawas menundukkan kepala. "Tuanku, hamba tidak bermaksud membuat Paduka merasa bodoh. Hamba hanya mengatakan apa yang hamba pahami."

Raja Harun menggelengkan kepala. "Justru itu, Abu Nawas. Engkau tidak pernah bermaksud apa-apa. Engkau hanya mengatakan kebenaran. Dan kebenaran itulah yang membuatku terdiam."

Pencarian Kebenaran

Raja Harun pun memerintahkan agar kabar yang beredar diselidiki. Ia mengirim para pengawal untuk mencari siapa yang sebenarnya menyebarkan kabar itu. Dan setelah penyelidikan yang panjang, akhirnya kebenaran pun terungkap. Kabar itu disebarkan oleh seorang menteri yang iri kepada Abu Nawas, karena kedekatannya dengan raja. Menteri itu telah menyebarkan kabar bohong, lalu menuduh Abu Nawas sebagai penyebarnya.

Menteri itu pun dihukum. Ia dipecat dari jabatannya, dan diusir dari istana. Sementara Abu Nawas, ia tidak menuntut apa pun. Ia tidak meminta hadiah, tidak meminta jabatan, tidak meminta balas dendam. Ia hanya berkata, "Hamba hanya ingin kebenaran ditegakkan. Selebihnya, hamba serahkan kepada Paduka."

Raja Harun pun tersenyum. Bukan senyum kemenangan, melainkan senyum seseorang yang baru saja belajar sesuatu yang tidak ada di dalam kitab mana pun.

Penutup: Satu Kalimat yang Mengubah Segalanya

Maka pulanglah Abu Nawas ke rumahnya yang sederhana, dengan langkah yang sama tenangnya seperti saat ia datang. Ia tidak membawa hadiah emas, tidak membawa piagam penghargaan, tidak membawa jabatan baru. Ia hanya membawa senyum, dan hati yang bersih.

Sementara di istana, Raja Harun duduk seorang diri di ruang kerjanya. Ia memandang ke luar jendela, memikirkan satu kalimat yang diucapkan Abu Nawas. Satu kalimat yang telah menyelamatkan nyawanya, satu kalimat yang telah membuka matanya, satu kalimat yang telah mengubah segalanya.

Sejak hari itu, Raja Harun tidak pernah lagi menghukum orang berdasarkan kabar yang belum terbukti. Ia belajar mendengarkan, belajar menyelidiki, belajar memahami. Ia belajar bahwa kebenaran tidak selalu datang dari mereka yang berpakaian mewah atau bergelar tinggi. Terkadang, ia datang dari orang yang paling sederhana di antara kita.

Dan di dalam hati Raja Harun, sejak hari itu, tersimpan satu nama yang selalu membuatnya tersenyum. Abu Nawas.