Abu Nawas dan Kambing Milik Raja

Pada suatu pagi, suasana Istana Baghdad mendadak ramai. Para pengawal berlari ke sana kemari. Para pelayan saling bertanya. Bahkan para pejabat kerajaan ikut sibuk mencari sesuatu.


Yang hilang bukan mahkota.
Bukan pedang kerajaan.
Bukan pula peti emas.

Yang hilang adalah seekor kambing milik Raja.
Kambing itu bernama Barokah.
Raja sangat menyayanginya. Kambing tersebut memiliki bulu putih bersih dan tanduk yang indah.
“Cari sampai ketemu!” perintah Raja.
Para pengawal segera menyebar.
Sementara itu, Abu Nawas yang baru datang ke istana melihat keributan tersebut.
“Ada apa?” tanyanya.
Seorang pengawal menjawab,
“Kambing Raja hilang!”

Abu Nawas terkejut.
“Kambing?”
“Ya.”
“Syukurlah.”
Pengawal itu bingung.
“Kenapa malah bersyukur?”
“Karena kalau yang hilang Raja, kita semua pasti mendapat masalah yang jauh lebih besar.”
Pengawal menahan tawa.

Raja Mulai Marah

Abu Nawas kemudian menghadap Raja.
“Baginda, saya mendengar kambing kesayangan Baginda hilang.”
“Benar!”
“Sudah dicari?”
“Sudah!”
“Di kandang?”
“Sudah!”
“Di taman?”
“Sudah!”
“Di dapur?”

Raja menatap Abu Nawas.
“Untuk apa kambing dicari di dapur?”
Abu Nawas menjawab,
“Kalau kambingnya pintar, mungkin dia sedang mencari jalan menuju masa depan.”
Raja hampir tertawa, tetapi segera memasang wajah serius.
“Abu Nawas, ini bukan waktunya bercanda!”
“Maaf, Baginda. Kalau saya tidak bercanda, nanti saya ikut panik. Kalau saya panik, kambingnya tetap tidak ketemu.”
Raja menghela napas.
“Aku ingin kau membantu mencarinya.”
“Dengan senang hati.”

Abu Nawas Menemukan Kejanggalan

Abu Nawas pergi ke kandang.
Ia melihat pintu kandang terbuka.
Ia memeriksa tanah di sekitarnya.
“Aha!”
Seorang pengawal bertanya,
“Apa yang Anda temukan?”
“Jejak.”
“Jejak kambing?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Jejak kaki.”

Pengawal mengernyitkan dahi.
“Bukankah itu sama saja?”
Abu Nawas mengangguk.
“Benar. Tetapi kalau saya bilang jejak kambing, nanti kau mengira saya sudah berbicara dengan kambing.”
Ia kemudian mengikuti jejak tersebut.
Jejak itu menuju ke taman istana.
Di sana terdapat beberapa tanaman yang rusak.
Daun-daun berserakan.

Abu Nawas tersenyum.
“Sekarang saya tahu ke mana kambing itu pergi.”
Pengawal bertanya,
“Ke mana?”
Abu Nawas menunjuk tanaman.
“Ke tempat makan.”

Kambing Ditemukan

Mereka terus mengikuti jejak tersebut.
Akhirnya, di balik semak-semak, terdengar suara.
“Mbeeek!”
Pengawal berteriak,
“Ketemu!”
Ternyata kambing Raja sedang asyik memakan daun.
Abu Nawas menghampirinya.
“Barokah!”

Kambing itu menoleh.
“Mbeeek!”
Abu Nawas mengangguk.
“Jadi kau di sini?”
“Mbeeek!”
“Kau tahu seluruh istana mencarimu?”
“Mbeeek!”
Abu Nawas menoleh kepada pengawal.
“Dia bilang apa?”
Pengawal bingung.
“Tidak tahu.”
Abu Nawas menjawab,
“Dia bilang dia sedang sibuk makan. Jangan diganggu.”
Pengawal tertawa.

Masalah Baru

Namun ketika Abu Nawas hendak membawa kambing itu kembali, ia melihat sesuatu.
Di leher kambing terdapat sebuah pita merah.
Abu Nawas mengerutkan dahi.
“Siapa yang memasang pita ini?”
Pengawal menjawab,
“Tidak tahu.”

Abu Nawas memeriksanya.
Di balik pita terdapat sepotong kertas kecil.
Ia membukanya.
Tulisan di kertas itu berbunyi:
“Kambing ini bukan milik Raja.”
Abu Nawas terkejut.
“Wah!”
Pengawal panik.
“Apa yang terjadi?”
Abu Nawas menunjukkan kertas tersebut.
“Sepertinya ada orang yang sengaja membuat masalah.”

Istana Kembali Gempar

Abu Nawas membawa kambing dan kertas itu ke hadapan Raja.
“Baginda, kambingnya sudah ditemukan.”
Raja terlihat lega.
“Syukurlah!”
“Tetapi ada masalah.”
“Apa?”
Abu Nawas memberikan kertas itu.
Raja membacanya.
“‘Kambing ini bukan milik Raja.’ Apa maksudnya?”

Abu Nawas menjawab,
“Itulah yang harus kita cari tahu.”
Raja memanggil para penjaga kandang.
“Siapa yang bertanggung jawab merawat kambing ini?”
Seorang penjaga bernama Hamid maju.
“Saya, Baginda.”
“Apakah kambing ini memang milik kerajaan?”
“Benar, Baginda.”
“Apakah kau yakin?”

Hamid mengangguk.
“Yakin.”
Abu Nawas bertanya,
“Dari mana kau tahu?”
Hamid menjawab,
“Karena kambing ini sudah lama berada di istana.”
Abu Nawas tersenyum.
“Berarti umur tinggal di istana menentukan kepemilikan?”

Hamid bingung.
“Bukan begitu.”
“Kalau begitu, saya harus hati-hati. Saya sudah sering berada di istana. Jangan-jangan saya juga dianggap milik kerajaan.”
Para pengawal langsung tertawa.
Raja pun tersenyum.

Abu Nawas Menguji Para Penjaga

Abu Nawas kemudian memiliki sebuah ide.
Ia membawa kambing itu ke tengah halaman.
“Baginda, izinkan saya melakukan percobaan.”
“Silakan.”
Abu Nawas berdiri di depan kambing.
Kemudian ia berkata,
“Barokah, ikut aku!”
Kambing itu diam.

Abu Nawas berjalan ke kiri.
Kambing tetap diam.
Ia berjalan ke kanan.
Kambing tetap diam.
Kemudian Abu Nawas mengambil seikat daun segar.
“Barokah!”
Kambing langsung mengejarnya.
Semua orang tertawa.
Raja bertanya,
“Jadi apa kesimpulannya?”

Abu Nawas menjawab,
“Kambing ini tidak peduli siapa Raja, siapa pejabat, dan siapa pengawal.”
“Lalu?”
“Dia hanya peduli siapa yang membawa makanan.”
Raja tertawa.
“Berarti kambing ini lebih jujur daripada sebagian manusia.”
Abu Nawas mengangguk.
“Benar, Baginda. Kambing tidak pernah berkata, ‘Saya setia kepada Raja,’ sambil diam-diam mencari daun.”

Kebenaran Terungkap

Abu Nawas kemudian memeriksa kandang sekali lagi.
Ia menemukan bahwa pintu kandang tidak rusak.
Artinya, kambing tidak mungkin keluar sendiri tanpa ada yang membuka pintu.
Ia juga menemukan sisa makanan di dekat kandang.
Setelah ditelusuri, ternyata salah seorang pelayan membuka kandang agar kambing keluar.

Pelayan tersebut akhirnya mengaku.
“Saya yang membukanya, Baginda.”
“Kenapa?”
“Saya ingin mengambil hati seorang pejabat. Saya pikir kambing itu akan terlihat lebih cantik jika diberi pita merah.”
Raja bertanya,
“Lalu siapa yang menulis pesan bahwa kambing ini bukan milikku?”
Pelayan itu terdiam.

Abu Nawas segera menyadari sesuatu.
Ia mengambil pita merah tersebut.
“Baginda, tulisan itu dibuat oleh orang yang ingin membuat kita curiga kepada penjaga kandang.”
Raja menatap para pelayan.
Akhirnya diketahui bahwa seorang pelayan lainlah yang menulis pesan tersebut karena ingin membuat penjaga kandang dihukum.

Abu Nawas Membuat Raja Tertawa

Setelah semuanya terungkap, Raja berkata,
“Jadi semua keributan ini hanya karena seekor kambing?”
Abu Nawas mengangguk.
“Benar, Baginda.”
Raja menggelengkan kepala.
“Padahal kambingnya sendiri tidak tahu apa-apa.”
Abu Nawas menunjuk kambing.
“Jangan salah, Baginda.”
“Apa?”
“Dia tahu banyak.”
“Apa yang dia tahu?”
“Dia tahu tempat makanan yang enak.”

Raja tertawa.
Abu Nawas melanjutkan,
“Dan menurut saya, itu pengetahuan yang sangat penting.”
Raja semakin tertawa.
“Abu Nawas, kau selalu punya jawaban aneh.”
Abu Nawas membungkuk.
“Terima kasih, Baginda.”
“Itu bukan pujian.”
“Tidak apa-apa. Saya terima saja.”

Pelajaran dari Seekor Kambing

Raja kemudian memerintahkan agar semua pelayan yang berbuat salah diberi hukuman yang sesuai.
Ia juga memerintahkan agar kambing kesayangannya dirawat dengan lebih baik.
Sementara itu, Abu Nawas berjalan meninggalkan istana.
Seorang pengawal mengejarnya.
“Abu Nawas!”
“Ya?”
“Menurutmu, siapa yang paling pintar dalam kejadian ini?”
Abu Nawas berpikir sebentar.
“Kambing.”

Pengawal terkejut.
“Kambing?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Karena semua orang ribut mencarinya, sementara dia santai makan daun.”
Pengawal tertawa.
Abu Nawas melanjutkan,
“Kadang-kadang, orang yang paling tenang justru paling tahu cara menikmati hidup.”
Dari kejauhan terdengar suara:
“Mbeeek!”

Abu Nawas menoleh.
“Lihat! Dia setuju.”
Pengawal tertawa.
“Bagaimana kau tahu?”
Abu Nawas menjawab,
“Karena kalau dia tidak setuju, dia pasti sudah menanduk kita.”

Hikmah Cerita

Kisah Abu Nawas dan Kambing Milik Raja mengajarkan bahwa masalah yang tampak besar sering kali menjadi semakin rumit karena manusia terburu-buru menuduh dan mengambil kesimpulan.
Abu Nawas menunjukkan pentingnya ketenangan, ketelitian, dan kemampuan melihat bukti sebelum menuduh seseorang.

Selain itu, kisah ini mengingatkan bahwa kejujuran lebih berharga daripada usaha mencari muka di hadapan orang yang berkuasa.

Dan tentu saja, ada satu pelajaran sederhana dari kambing Raja: Jangan terlalu banyak panik. Kalau lapar, makan dulu. Setelah kenyang, barulah berpikir.