Abu Nawas Membalas Kesombongan Orang Kaya

Di kota Baghdad, hiduplah seorang saudagar kaya bernama Malik. Harta Malik sangat banyak. Ia memiliki rumah besar, kebun luas, kuda-kuda pilihan, dan pelayan yang jumlahnya lebih banyak daripada sandal di pasar.


Namun, ada satu hal yang membuat Malik terkenal.
Bukan karena kebaikannya.
Bukan pula karena kemurahan hatinya.
Ia terkenal karena kesombongannya.

Setiap pergi ke pasar, Malik selalu mengenakan pakaian mahal dan perhiasan berkilauan.
Ia senang berjalan di tengah orang banyak sambil membanggakan kekayaannya.
“Lihatlah jubahku! Kain ini didatangkan dari negeri jauh!”
“Lihat cincinku! Harganya seratus dinar!”
“Dan lihat kudaku! Tidak ada kuda seperti ini di seluruh Baghdad!”
Orang-orang hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala.
Suatu hari, Malik melihat Abu Nawas sedang duduk sederhana di sebuah kedai.
Ia menghampiri Abu Nawas.
“Abu Nawas!”

Abu Nawas menoleh.
“Wah, siapa ini?”
“Aku Malik!”
Abu Nawas memperhatikan pakaiannya.
“Oh, maaf. Saya hampir tidak mengenalimu.”
Malik tersenyum bangga.
“Kenapa?”
“Saya kira tadi toko perhiasan berjalan.”
Orang-orang di kedai langsung tertawa.
Malik sedikit tersinggung.

Tantangan dari Si Kaya

Malik duduk di depan Abu Nawas.
“Kau memang suka bercanda.”
Abu Nawas mengangguk.
“Daripada menangis, lebih baik tertawa.”
Malik kemudian membuka kantong uangnya.
Ia mengeluarkan beberapa keping emas.
“Lihat ini!”

Abu Nawas melihatnya.
“Emas?”
“Ya!”
“Bagus.”
“Tidak hanya itu.”
Malik mengeluarkan lebih banyak keping emas.
“Ini hanya sebagian kecil dari kekayaanku.”
Abu Nawas mengangguk.
“Luar biasa.”
Malik semakin bangga.
“Rumahku memiliki dua puluh kamar.”
Abu Nawas bertanya,
“Untuk apa sebanyak itu?”
“Untuk menunjukkan bahwa aku kaya.”
“Oh.”

Abu Nawas mengangguk.
“Kalau begitu, kamar-kamar itu bekerja keras.”
Malik mengerutkan dahi.
“Bekerja keras?”
“Ya. Mereka harus terus mengingatkan semua orang bahwa pemiliknya kaya.”
Orang-orang kembali tertawa.
Malik mulai merasa Abu Nawas sedang mengejeknya.
“Abu Nawas, kau hanya iri karena tidak sekaya aku.”
Abu Nawas tersenyum.
“Benar.”

Malik tersenyum puas.
“Nah, akhirnya kau mengaku juga.”
Abu Nawas melanjutkan,
“Saya iri.”
“Karena?”
“Saya tidak punya waktu untuk menghitung berapa banyak harta yang saya punya.”
Malik terdiam.
Orang-orang kembali tertawa.

Abu Nawas Menerima Tantangan

Malik tidak mau kalah.
“Aku punya tantangan untukmu.”
“Silakan.”
“Aku akan membuktikan bahwa orang kaya lebih berharga daripada orang miskin.”
Abu Nawas mengangkat alis.
“Bagaimana caranya?”
“Kita pergi ke pasar. Aku akan bertanya kepada orang-orang siapa yang lebih mereka hormati: aku atau kau.”

Abu Nawas berpikir sebentar.
“Baik.”
Mereka pun berjalan menuju pasar.
Malik berjalan dengan dada dibusungkan.
Abu Nawas berjalan santai di sampingnya.

Kekayaan Mulai Dipamerkan

Sesampainya di pasar, Malik menghampiri seorang pedagang.
“Menurutmu, siapa yang lebih pantas dihormati? Aku atau Abu Nawas?”
Pedagang itu melihat Malik.
“Kalau dari pakaian, tentu Tuan Malik.”
Malik tersenyum lebar.
“Nah! Kau dengar, Abu Nawas?”

Abu Nawas mengangguk.
“Tentu.”
Malik kemudian bertanya kepada pedagang lain.
“Siapa yang lebih hebat?”
“Malik!”
“Siapa yang lebih kaya?”
“Malik!”
“Siapa yang lebih tampan?”

Pedagang itu ragu.
Malik menunggu dengan penuh percaya diri.
Akhirnya pedagang menjawab,
“Yang ini saya tidak berani menjawab.”
Malik tersinggung.
“Kenapa?”
“Saya takut salah dan kehilangan pelanggan.”
Abu Nawas tertawa.

Abu Nawas Mengajukan Pertanyaan

Setelah beberapa orang menjawab bahwa Malik lebih kaya, Malik semakin sombong.
“Nah, sekarang kau sudah melihat sendiri.”
Abu Nawas mengangguk.
“Benar.”
“Jadi, aku menang.”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Saya belum bertanya.”

Abu Nawas kemudian mendekati seorang nenek yang sedang menjual sayuran.
“Nek, saya mau bertanya.”
“Apa, Nak?”
“Kalau ada dua orang datang kepadamu, yang satu kaya tetapi sombong, sedangkan yang satu sederhana tetapi suka membantu, siapa yang lebih senang Nenek temui?”
Nenek itu tersenyum.
“Yang suka membantu.”
Malik langsung terdiam.
Abu Nawas menoleh kepadanya.
“Bagaimana?”
Malik menjawab,
“Itu hanya satu orang.”

Abu Nawas mengangguk.
“Baik.”
Ia bertanya kepada pedagang buah.
Jawabannya sama.
Ia bertanya kepada tukang roti.
Jawabannya sama.
Ia bertanya kepada seorang pengemis.
Jawabannya bahkan lebih tegas.
“Orang yang baik!”
Malik mulai gelisah.

Pertanyaan yang Membuat Malik Terdiam

Abu Nawas kemudian bertanya kepada Malik,
“Boleh saya bertanya?”
“Apa?”
“Kalau suatu hari semua hartamu habis, apa yang tersisa?”
Malik terdiam.
“Rumah?”
“Rumah bisa dijual.”
“Kuda?”
“Bisa mati.”
“Emas?”
“Bisa hilang.”

Malik mulai berpikir.
Abu Nawas melanjutkan,
“Kalau semua itu hilang, siapa yang masih mau datang kepadamu?”
Malik tidak menjawab.
Abu Nawas tersenyum.
“Itulah sebabnya saya tidak terlalu takut menjadi miskin.”

Malik menatap Abu Nawas.
“Kenapa?”
“Karena kalau saya kehilangan uang, saya masih bisa berusaha mendapatkannya lagi.”
“Lalu?”
“Tetapi kalau saya kehilangan kepercayaan orang, saya tidak bisa membelinya dengan seluruh emasmu.”
Orang-orang yang mendengar perkataan itu menjadi diam.
Malik mulai menyadari kesalahannya.

Abu Nawas Memberikan Pelajaran

Malik akhirnya berkata,
“Jadi menurutmu, kekayaan tidak penting?”
Abu Nawas menggeleng.
“Bukan begitu.”
“Lalu?”
“Kekayaan itu penting.”

Malik tersenyum.
“Nah!”
“Tetapi,” lanjut Abu Nawas, “kekayaan akan menjadi lebih berharga jika pemiliknya juga memiliki hati yang baik.”
Malik terdiam.
Abu Nawas kemudian menunjuk kantong emas Malik.
“Uangmu bisa membeli makanan.”

Ia menunjuk pakaiannya.
“Pakaianmu bisa membuatmu terlihat mewah.”
Kemudian Abu Nawas menunjuk dadanya.
“Tetapi tidak ada satu pun emas yang bisa membeli rasa hormat.”
Malik menundukkan kepala.

Balasan Terakhir Abu Nawas

Malik akhirnya mengeluarkan beberapa keping emas.
“Abu Nawas, ambillah ini.”
Abu Nawas mundur.
“Untuk apa?”
“Sebagai tanda persahabatan.”
Abu Nawas tersenyum.
“Saya tidak bisa menerimanya.”

Malik terkejut.
“Kenapa?”
“Karena nanti kau akan mengatakan bahwa kau membeli persahabatan Abu Nawas.”
Malik langsung tertawa.
“Tidak, tidak!”
Abu Nawas akhirnya menerima satu keping emas.
“Baiklah, satu saja.”
“Kenapa satu?”
Abu Nawas memasukkannya ke kantong.
“Untuk membeli sesuatu.”
“Apa?”
“Cermin.”

Malik bingung.
“Untuk apa?”
Abu Nawas tersenyum.
“Supaya setiap pagi kau bisa melihat wajahmu dan bertanya: ‘Hari ini aku kaya karena hartaku atau karena kebaikanku?’”
Malik tertawa.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa diejek.
Justru ia merasa mendapatkan pelajaran.

Orang Kaya yang Berubah

Sejak hari itu, sikap Malik berubah.
Ia masih kaya.
Rumahnya masih besar.
Kudanya masih banyak.
Pakainya pun tetap bagus.
Tetapi ia mulai menggunakan hartanya untuk membantu orang lain.
Ia memberikan makanan kepada orang miskin, membantu pedagang kecil, dan tidak lagi membanggakan kekayaannya.

Suatu hari, Malik kembali bertemu Abu Nawas.
“Abu Nawas!”
“Ya?”
“Aku sudah berubah.”
Abu Nawas memperhatikannya.
“Bagus.”
“Aku sekarang tidak lagi suka pamer.”
“Hebat.”
“Aku juga sudah sering membantu orang.”
“Lebih hebat lagi.”

Malik tersenyum bangga.
“Bagaimana menurutmu?”
Abu Nawas menjawab,
“Sekarang kau sudah kaya.”
Malik terkejut.
“Bukankah dari dulu aku kaya?”
Abu Nawas tersenyum.
“Dulu kau hanya kaya uang.”
“Sekarang?”
“Sekarang kau mulai kaya hati.”

Malik tertawa.
“Abu Nawas, ternyata kau memang pandai.”
Abu Nawas mengangguk.
“Tentu.”
Malik bertanya,
“Tidak mau rendah hati sedikit?”
Abu Nawas menjawab,
“Kalau saya terlalu rendah hati, nanti orang-orang mengira saya sedang mencari uangmu.”
Malik tertawa terbahak-bahak.

Hikmah Cerita

Kekayaan bukanlah sesuatu yang salah. Yang menjadi masalah adalah ketika kekayaan membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain. Kisah Abu Nawas ini mengajarkan bahwa harta dapat membeli banyak hal, tetapi tidak dapat membeli ketulusan, persahabatan, dan rasa hormat.

Orang yang benar-benar kaya bukan hanya mereka yang memiliki banyak harta, tetapi mereka yang mampu menggunakan hartanya untuk kebaikan dan tetap rendah hati.