Abu Nawas Mendapat Perintah yang Membingungkan
Pada suatu pagi, suasana istana Baghdad tiba-tiba menjadi tegang. Para pengawal berdiri tegak. Para pelayan berjalan dengan langkah hati-hati. Bahkan kucing istana yang biasanya bebas tidur di atas karpet pun memilih bersembunyi di balik tiang.
Hari itu, Raja memanggil Abu Nawas.
“Abu Nawas!” seru seorang pengawal.
Abu Nawas datang dengan wajah santai.
“Ya, Baginda. Saya datang.”
Raja menatapnya serius.
“Aku mempunyai tugas untukmu.”
Abu Nawas langsung mengangguk.
“Baik, Baginda. Kalau tugasnya membawa makanan, saya siap. Kalau tugasnya membawa uang, saya lebih siap lagi.”
Raja mengerutkan dahi.
“Ini bukan waktunya bercanda!”
“Maaf, Baginda. Saya kira wajah Baginda sedang latihan menjadi patung.”
Para pengawal menahan tawa.
Raja menarik napas panjang.
“Dengarkan baik-baik. Aku ingin engkau pergi ke taman istana.”
“Baik.”
“Di sana ada sebuah pohon tua.”
“Baik.”
“Ambillah sesuatu yang ada di bawah pohon itu.”
“Baik.”
Raja kemudian berkata dengan sangat serius,
“Namun, jangan mengambilnya dengan tangan kanan.”
Abu Nawas terdiam.
“Baik, Baginda.”
“Dan jangan pula mengambilnya dengan tangan kiri.”
Abu Nawas mulai menggaruk kepala.
“Baik, Baginda.”
“Jangan menggunakan kaki.”
Abu Nawas semakin bingung.
“Jangan menggunakan tongkat.”
“Baik.”
“Jangan meminta bantuan orang lain.”
“Baik.”
Raja tersenyum puas.
“Nah, sekarang berangkatlah!”
Abu Nawas menatap Raja.
“Baginda…”
“Apa?”
“Apakah saya boleh menggunakan otak?”
Raja terdiam.
Para pengawal langsung menundukkan kepala agar tidak terlihat tertawa.
Abu Nawas Menuju Taman
Abu Nawas berjalan menuju taman istana sambil terus memikirkan perintah Raja.
“Tidak boleh tangan kanan. Tidak boleh tangan kiri. Tidak boleh kaki. Tidak boleh tongkat. Tidak boleh meminta bantuan.”
Ia berhenti di tengah jalan.
“Kalau begini caranya, mungkin Raja ingin aku mengambil benda itu menggunakan pikiran.”
Seorang penjaga taman melihat Abu Nawas.
“Kenapa Anda tampak bingung?”
“Aku sedang menjalankan perintah Raja.”
“Perintah apa?”
Abu Nawas menghela napas.
“Perintah yang membuat otakku ingin mengajukan surat pengunduran diri.”
Penjaga itu tertawa.
“Memangnya apa yang harus Anda ambil?”
“Aku tidak tahu.”
“Lalu bagaimana Anda tahu benda itu?”
Abu Nawas menggeleng.
“Itulah masalahnya. Aku disuruh mengambil sesuatu, tetapi tidak diberi tahu sesuatu itu apa.”
Penjaga taman mengangguk pelan.
“Wah, itu memang membingungkan.”
“Bukan hanya membingungkan. Kalau kebingungan bisa dijual, aku sudah menjadi orang kaya.”
Benda Misterius di Bawah Pohon
Akhirnya Abu Nawas sampai di bawah pohon tua.
Ia melihat sebuah benda tergeletak di tanah.
Ternyata benda itu adalah sebuah apel.
Abu Nawas tersenyum.
“Oh, jadi ini rupanya!”
Ia hendak mengambil apel tersebut dengan tangan kanan.
Tiba-tiba ia teringat pesan Raja.
“Tidak boleh tangan kanan.”
Ia mencoba dengan tangan kiri.
“Tidak boleh tangan kiri.”
Ia berpikir sejenak.
“Kalau begitu, aku bisa menggunakan kaki.”
Namun Raja juga melarang menggunakan kaki.
Abu Nawas duduk di bawah pohon.
“Baginda benar-benar ingin membuatku kurus. Baru satu tugas saja sudah membuatku olahraga otak.”
Ia memperhatikan apel itu dari berbagai arah.
Kemudian muncul sebuah ide.
Abu Nawas mengambil sehelai kain dari sakunya.
Ia meletakkan kain di atas tanah, lalu menggulung apel tersebut menggunakan kain hingga apel masuk ke dalam lipatan.
Setelah itu ia menarik kain tersebut dengan giginya. Apel pun berhasil terangkat tanpa menggunakan tangan kanan, tangan kiri, kaki, tongkat, ataupun bantuan orang lain.
Abu Nawas tertawa puas.
“Ha! Kalau Raja memberi perintah yang sulit, jangan lawan perintahnya. Cari celah yang tidak dilarang.”
Raja Semakin Bingung
Abu Nawas kembali ke istana membawa apel.
Raja melihatnya dengan heran.
“Bagaimana kau mengambilnya?”
“Dengan cara yang Baginda perintahkan.”
Raja mengangkat alis.
“Aku melarang tangan kanan.”
“Saya tidak menggunakannya.”
“Aku juga melarang tangan kiri.”
“Saya juga tidak menggunakannya.”
“Tidak menggunakan kaki?”
“Tidak.”
“Tidak menggunakan tongkat?”
“Tidak.”
“Dan kau tidak meminta bantuan?”
“Tidak, Baginda.”
Raja semakin penasaran.
“Lalu bagaimana?”
Abu Nawas menyerahkan apel itu.
“Saya menggunakan kain dan gigi.”
Raja menatap apel tersebut.
Kemudian menatap Abu Nawas.
Kemudian menatap apel lagi.
“Dengan gigi?”
“Benar, Baginda.”
Raja tertawa.
“Abu Nawas, kau memang aneh!”
Abu Nawas tersenyum.
“Terima kasih, Baginda. Saya menganggapnya sebagai pujian.”
Perintah Kedua yang Lebih Membingungkan
Raja ternyata belum puas.
Ia berkata,
“Baiklah, Abu Nawas. Aku punya tugas kedua.”
Abu Nawas langsung mundur satu langkah.
“Baginda, apakah tugas kedua ini masih ada hubungannya dengan apel?”
“Tidak.”
“Syukurlah.”
“Aku ingin kau berdiri di hadapanku, tetapi jangan berdiri.”
Abu Nawas terdiam.
Para pengawal mulai saling pandang.
“Baginda,” kata Abu Nawas pelan, “ini perintah atau teka-teki?”
“Lakukan saja!”
Abu Nawas kemudian duduk di lantai.
Raja berkata,
“Bukankah aku menyuruhmu berdiri?”
“Benar, Baginda.”
“Kenapa kau malah duduk?”
Abu Nawas tersenyum.
“Saya berdiri di hadapan Baginda sebagai seorang manusia yang sedang duduk.”
Raja terdiam.
“Jawaban macam apa itu?”
“Jawaban yang sesuai dengan perintah Baginda.”
Raja mulai tertawa.
Para pengawal pun tidak mampu menahan tawa lagi.
Abu Nawas Menjelaskan Rahasianya
Raja kemudian berkata,
“Abu Nawas, sebenarnya aku sengaja memberimu perintah yang membingungkan.”
“Saya sudah menduganya, Baginda.”
“Aku ingin mengetahui apakah kau akan menyerah ketika menghadapi sesuatu yang sulit.”
Abu Nawas mengangguk.
“Sekarang Baginda sudah tahu jawabannya.”
“Dan apa jawabannya?”
“Kalau perintahnya membingungkan, jangan buru-buru mengeluh. Pikirkan dulu maksudnya.”
Raja tersenyum.
“Jadi, menurutmu setiap masalah bisa diselesaikan dengan akal?”
“Tidak semuanya, Baginda.”
Raja terkejut.
“Tidak?”
“Kalau masalahnya lapar, tetap harus makan.”
Raja tertawa keras.
“Ha ha ha! Benar juga!”
Abu Nawas menambahkan,
“Kalau masalahnya tidak punya uang…”
“Apa solusinya?”
“Jangan pergi ke pasar.”
Raja semakin tertawa.
“Kenapa?”
“Karena kalau pergi ke pasar, masalahnya akan bertambah. Yang tadinya tidak punya uang, nanti juga tidak punya sandal.”
Para pengawal tertawa terbahak-bahak.
Raja Mengakui Kecerdikan Abu Nawas
Hari itu Raja akhirnya mengakui bahwa Abu Nawas bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu mencari jalan keluar ketika menghadapi perintah yang sulit.
Raja berkata,
“Abu Nawas, mulai sekarang aku akan berhati-hati jika memberimu perintah.”
Abu Nawas tersenyum.
“Itu keputusan yang bijaksana, Baginda.”
“Kenapa?”
“Karena setiap perintah yang Baginda berikan akan saya pikirkan dari depan, belakang, samping, bahkan dari bawah meja.”
Raja kembali tertawa.
“Pergilah, Abu Nawas!”
Abu Nawas membungkuk.
“Dengan senang hati, Baginda.”
Saat berjalan keluar istana, Abu Nawas bergumam,
“Untung tadi hanya apel. Kalau yang disuruh mengambil seekor unta, bisa-bisa aku harus menggulungnya dengan kain.”
Hikmah Cerita
Dari kisah Abu Nawas Mendapat Perintah yang Membingungkan, kita dapat belajar bahwa masalah yang tampak sulit tidak selalu harus dihadapi dengan kepanikan. Kadang-kadang, kita hanya perlu berhenti sejenak, memahami masalah, kemudian mencari cara yang kreatif untuk menyelesaikannya.
Jangan cepat menyerah hanya karena sebuah perintah atau masalah terlihat membingungkan. Gunakan akal, tetap tenang, dan carilah jalan keluar dengan bijaksana.
“Abu Nawas!” seru seorang pengawal.
Abu Nawas datang dengan wajah santai.
“Ya, Baginda. Saya datang.”
Raja menatapnya serius.
“Aku mempunyai tugas untukmu.”
Abu Nawas langsung mengangguk.
“Baik, Baginda. Kalau tugasnya membawa makanan, saya siap. Kalau tugasnya membawa uang, saya lebih siap lagi.”
Raja mengerutkan dahi.
“Ini bukan waktunya bercanda!”
“Maaf, Baginda. Saya kira wajah Baginda sedang latihan menjadi patung.”
Para pengawal menahan tawa.
Raja menarik napas panjang.
“Dengarkan baik-baik. Aku ingin engkau pergi ke taman istana.”
“Baik.”
“Di sana ada sebuah pohon tua.”
“Baik.”
“Ambillah sesuatu yang ada di bawah pohon itu.”
“Baik.”
Raja kemudian berkata dengan sangat serius,
“Namun, jangan mengambilnya dengan tangan kanan.”
Abu Nawas terdiam.
“Baik, Baginda.”
“Dan jangan pula mengambilnya dengan tangan kiri.”
Abu Nawas mulai menggaruk kepala.
“Baik, Baginda.”
“Jangan menggunakan kaki.”
Abu Nawas semakin bingung.
“Jangan menggunakan tongkat.”
“Baik.”
“Jangan meminta bantuan orang lain.”
“Baik.”
Raja tersenyum puas.
“Nah, sekarang berangkatlah!”
Abu Nawas menatap Raja.
“Baginda…”
“Apa?”
“Apakah saya boleh menggunakan otak?”
Raja terdiam.
Para pengawal langsung menundukkan kepala agar tidak terlihat tertawa.
Abu Nawas Menuju Taman
Abu Nawas berjalan menuju taman istana sambil terus memikirkan perintah Raja.
“Tidak boleh tangan kanan. Tidak boleh tangan kiri. Tidak boleh kaki. Tidak boleh tongkat. Tidak boleh meminta bantuan.”
Ia berhenti di tengah jalan.
“Kalau begini caranya, mungkin Raja ingin aku mengambil benda itu menggunakan pikiran.”
Seorang penjaga taman melihat Abu Nawas.
“Kenapa Anda tampak bingung?”
“Aku sedang menjalankan perintah Raja.”
“Perintah apa?”
Abu Nawas menghela napas.
“Perintah yang membuat otakku ingin mengajukan surat pengunduran diri.”
Penjaga itu tertawa.
“Memangnya apa yang harus Anda ambil?”
“Aku tidak tahu.”
“Lalu bagaimana Anda tahu benda itu?”
Abu Nawas menggeleng.
“Itulah masalahnya. Aku disuruh mengambil sesuatu, tetapi tidak diberi tahu sesuatu itu apa.”
Penjaga taman mengangguk pelan.
“Wah, itu memang membingungkan.”
“Bukan hanya membingungkan. Kalau kebingungan bisa dijual, aku sudah menjadi orang kaya.”
Benda Misterius di Bawah Pohon
Akhirnya Abu Nawas sampai di bawah pohon tua.
Ia melihat sebuah benda tergeletak di tanah.
Ternyata benda itu adalah sebuah apel.
Abu Nawas tersenyum.
“Oh, jadi ini rupanya!”
Ia hendak mengambil apel tersebut dengan tangan kanan.
Tiba-tiba ia teringat pesan Raja.
“Tidak boleh tangan kanan.”
Ia mencoba dengan tangan kiri.
“Tidak boleh tangan kiri.”
Ia berpikir sejenak.
“Kalau begitu, aku bisa menggunakan kaki.”
Namun Raja juga melarang menggunakan kaki.
Abu Nawas duduk di bawah pohon.
“Baginda benar-benar ingin membuatku kurus. Baru satu tugas saja sudah membuatku olahraga otak.”
Ia memperhatikan apel itu dari berbagai arah.
Kemudian muncul sebuah ide.
Abu Nawas mengambil sehelai kain dari sakunya.
Ia meletakkan kain di atas tanah, lalu menggulung apel tersebut menggunakan kain hingga apel masuk ke dalam lipatan.
Setelah itu ia menarik kain tersebut dengan giginya. Apel pun berhasil terangkat tanpa menggunakan tangan kanan, tangan kiri, kaki, tongkat, ataupun bantuan orang lain.
Abu Nawas tertawa puas.
“Ha! Kalau Raja memberi perintah yang sulit, jangan lawan perintahnya. Cari celah yang tidak dilarang.”
Raja Semakin Bingung
Abu Nawas kembali ke istana membawa apel.
Raja melihatnya dengan heran.
“Bagaimana kau mengambilnya?”
“Dengan cara yang Baginda perintahkan.”
Raja mengangkat alis.
“Aku melarang tangan kanan.”
“Saya tidak menggunakannya.”
“Aku juga melarang tangan kiri.”
“Saya juga tidak menggunakannya.”
“Tidak menggunakan kaki?”
“Tidak.”
“Tidak menggunakan tongkat?”
“Tidak.”
“Dan kau tidak meminta bantuan?”
“Tidak, Baginda.”
Raja semakin penasaran.
“Lalu bagaimana?”
Abu Nawas menyerahkan apel itu.
“Saya menggunakan kain dan gigi.”
Raja menatap apel tersebut.
Kemudian menatap Abu Nawas.
Kemudian menatap apel lagi.
“Dengan gigi?”
“Benar, Baginda.”
Raja tertawa.
“Abu Nawas, kau memang aneh!”
Abu Nawas tersenyum.
“Terima kasih, Baginda. Saya menganggapnya sebagai pujian.”
Perintah Kedua yang Lebih Membingungkan
Raja ternyata belum puas.
Ia berkata,
“Baiklah, Abu Nawas. Aku punya tugas kedua.”
Abu Nawas langsung mundur satu langkah.
“Baginda, apakah tugas kedua ini masih ada hubungannya dengan apel?”
“Tidak.”
“Syukurlah.”
“Aku ingin kau berdiri di hadapanku, tetapi jangan berdiri.”
Abu Nawas terdiam.
Para pengawal mulai saling pandang.
“Baginda,” kata Abu Nawas pelan, “ini perintah atau teka-teki?”
“Lakukan saja!”
Abu Nawas kemudian duduk di lantai.
Raja berkata,
“Bukankah aku menyuruhmu berdiri?”
“Benar, Baginda.”
“Kenapa kau malah duduk?”
Abu Nawas tersenyum.
“Saya berdiri di hadapan Baginda sebagai seorang manusia yang sedang duduk.”
Raja terdiam.
“Jawaban macam apa itu?”
“Jawaban yang sesuai dengan perintah Baginda.”
Raja mulai tertawa.
Para pengawal pun tidak mampu menahan tawa lagi.
Abu Nawas Menjelaskan Rahasianya
Raja kemudian berkata,
“Abu Nawas, sebenarnya aku sengaja memberimu perintah yang membingungkan.”
“Saya sudah menduganya, Baginda.”
“Aku ingin mengetahui apakah kau akan menyerah ketika menghadapi sesuatu yang sulit.”
Abu Nawas mengangguk.
“Sekarang Baginda sudah tahu jawabannya.”
“Dan apa jawabannya?”
“Kalau perintahnya membingungkan, jangan buru-buru mengeluh. Pikirkan dulu maksudnya.”
Raja tersenyum.
“Jadi, menurutmu setiap masalah bisa diselesaikan dengan akal?”
“Tidak semuanya, Baginda.”
Raja terkejut.
“Tidak?”
“Kalau masalahnya lapar, tetap harus makan.”
Raja tertawa keras.
“Ha ha ha! Benar juga!”
Abu Nawas menambahkan,
“Kalau masalahnya tidak punya uang…”
“Apa solusinya?”
“Jangan pergi ke pasar.”
Raja semakin tertawa.
“Kenapa?”
“Karena kalau pergi ke pasar, masalahnya akan bertambah. Yang tadinya tidak punya uang, nanti juga tidak punya sandal.”
Para pengawal tertawa terbahak-bahak.
Raja Mengakui Kecerdikan Abu Nawas
Hari itu Raja akhirnya mengakui bahwa Abu Nawas bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu mencari jalan keluar ketika menghadapi perintah yang sulit.
Raja berkata,
“Abu Nawas, mulai sekarang aku akan berhati-hati jika memberimu perintah.”
Abu Nawas tersenyum.
“Itu keputusan yang bijaksana, Baginda.”
“Kenapa?”
“Karena setiap perintah yang Baginda berikan akan saya pikirkan dari depan, belakang, samping, bahkan dari bawah meja.”
Raja kembali tertawa.
“Pergilah, Abu Nawas!”
Abu Nawas membungkuk.
“Dengan senang hati, Baginda.”
Saat berjalan keluar istana, Abu Nawas bergumam,
“Untung tadi hanya apel. Kalau yang disuruh mengambil seekor unta, bisa-bisa aku harus menggulungnya dengan kain.”
Hikmah Cerita
Dari kisah Abu Nawas Mendapat Perintah yang Membingungkan, kita dapat belajar bahwa masalah yang tampak sulit tidak selalu harus dihadapi dengan kepanikan. Kadang-kadang, kita hanya perlu berhenti sejenak, memahami masalah, kemudian mencari cara yang kreatif untuk menyelesaikannya.
Jangan cepat menyerah hanya karena sebuah perintah atau masalah terlihat membingungkan. Gunakan akal, tetap tenang, dan carilah jalan keluar dengan bijaksana.
