Abu Nawas dan Pedagang yang Terlalu Pelit
Di sebuah pasar yang ramai di Baghdad, hiduplah seorang pedagang bernama Hamid.
Ia dikenal sebagai pedagang yang pandai mencari keuntungan. Barang dagangannya selalu laris, tokonya tidak pernah sepi, dan hartanya semakin bertambah.
Pedagang yang Terlalu Perhitungan
Beberapa hari kemudian, Abu Nawas kembali ke pasar.
Ia melihat Hamid sedang menjual kurma.
“Berapa harga kurmamu?” tanya Abu Nawas.
“Sepuluh dirham sekantong.”
Abu Nawas mengambil satu buah kurma.
“Kalau saya hanya membeli satu?”
“Setengah dirham.”
Abu Nawas mengambil kurma yang lain.
“Kalau saya membeli dua?”
“Satu dirham.”
“Kalau tiga?”
“Satu setengah dirham.”
Abu Nawas tersenyum.
“Wah, kau benar-benar pandai menghitung.”
Hamid bangga.
“Tentu saja. Kalau tidak pandai menghitung, bagaimana saya bisa menjadi kaya?”
Abu Nawas kemudian bertanya,
“Kalau saya membeli satu kantong penuh?”
“Sepuluh dirham.”
“Kalau saya membeli dua?”
“Dua puluh dirham.”
“Tidak ada diskon?”
“Tidak.”
“Bonus satu buah?”
“Tidak.”
Abu Nawas tertawa.
“Baiklah.”
Ia kemudian pergi tanpa membeli apa pun.
Hamid menggeleng.
“Dasar Abu Nawas. Datang hanya untuk bertanya.”
Namun ia tidak tahu bahwa Abu Nawas sedang merencanakan sesuatu.
Rencana Abu Nawas
Keesokan harinya, Abu Nawas datang ke pasar membawa sebuah timbangan.
Hamid melihatnya.
“Untuk apa kau membawa timbangan?”
“Aku ingin membeli sesuatu darimu.”
Hamid langsung tersenyum.
“Silakan. Apa yang ingin kau beli?”
“Aku ingin membeli satu kantong kurma.”
“Sepuluh dirham.”
Abu Nawas mengeluarkan uang.
“Nah, ini sepuluh dirham.”
Hamid menerima uang tersebut.
Abu Nawas kemudian berkata,
“Tetapi saya punya satu permintaan.”
“Apa?”
“Saya ingin memilih sendiri kurma-kurma yang akan saya masukkan ke dalam kantong.”
Hamid mengangguk.
“Silakan.”
Abu Nawas mengambil satu kurma.
“Yang ini bagus.”
Ia mengambil lagi.
“Yang ini juga.”
Kemudian satu lagi.
Dan satu lagi.
Hamid mulai gelisah.
“Abu Nawas, jangan pilih terlalu lama.”
“Saya ingin mendapatkan kurma terbaik.”
Akhirnya kantong itu penuh.
Abu Nawas menyerahkannya kepada Hamid.
“Nah, sekarang timbang.”
Hamid menimbangnya.
“Beratnya hampir dua kali lipat dari kantong biasa!”
Abu Nawas tersenyum.
“Bagus.”
Hamid kebingungan.
“Kenapa bagus?”
“Karena saya ingin bertanya.”
“Apa?”
“Jika saya membayar sepuluh dirham untuk satu kantong, apakah saya boleh mengambil kurma sebanyak yang saya inginkan selama masih menggunakan satu kantong?”
Hamid terdiam.
Ia baru menyadari bahwa dirinya sendiri telah memberikan kesempatan kepada Abu Nawas untuk memilih kurma sebanyak mungkin.
“Tetapi...”
Abu Nawas memotong,
“Bukankah kau sendiri yang mengatakan harganya berdasarkan kantong?”
Orang-orang di sekitar mereka mulai tertawa.
Hamid menggaruk kepalanya.
Abu Nawas Memberi Pelajaran
Hamid akhirnya menyerah.
“Baiklah. Bawa kurmamu.”
Abu Nawas mengambil kantong itu.
Namun sebelum pergi, ia berkata,
“Hamid, boleh saya bertanya sesuatu?”
“Apa lagi?”
“Apakah kau bahagia?”
Hamid terkejut.
“Pertanyaan macam apa itu?”
“Kau punya banyak uang. Tokomu ramai. Barang daganganmu laris. Tetapi kau selalu takut kehilangan sedikit saja.”
Hamid diam.
Abu Nawas melanjutkan,
“Orang yang terlalu pelit sebenarnya bukan sedang menjaga hartanya. Kadang-kadang justru hartanyalah yang menguasai dirinya.”
Beberapa pedagang di sekitar mereka mengangguk.
Hamid tidak menjawab.
Kejadian Tak Terduga
Sore harinya, hujan deras turun di Baghdad.
Air mulai menggenangi jalan pasar.
Atap beberapa toko bocor.
Toko Hamid juga terkena banjir.
Air masuk ke dalam gudang dan membasahi sebagian barang dagangannya.
Hamid panik.
“Tolong! Tolong!”
Ia berusaha mengangkat karung-karung barang sendirian.
Namun terlalu berat.
Beberapa pedagang datang membantu.
Abu Nawas juga ikut membantu.
Setelah keadaan mulai aman, Hamid duduk kelelahan.
Ia memandang Abu Nawas.
“Kenapa kau membantuku?”
Abu Nawas tersenyum.
“Karena membantu orang yang sedang kesusahan tidak membutuhkan perhitungan.”
Hamid terdiam.
Ia teringat pengemis yang pernah ia usir.
Ia teringat tetangga yang pernah meminta bantuan.
Ia teringat betapa seringnya ia menolak berbagi hanya karena takut kehilangan sedikit hartanya.
Untuk pertama kalinya, Hamid merasa malu.
Perubahan Hamid
Keesokan harinya, Hamid membuka tokonya seperti biasa.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Di depan tokonya ia meletakkan sebuah keranjang berisi roti.
Seorang pengemis datang.
“Tuan, bolehkah saya meminta sedikit makanan?”
Hamid tersenyum.
“Tentu. Ambillah.”
Pengemis itu terkejut.
“Gratis, Tuan?”
“Gratis.”
“Benarkah?”
Hamid mengangguk.
“Ambillah secukupnya.”
Kabar tentang perubahan Hamid segera menyebar di pasar.
Orang-orang tidak lagi menyebutnya sebagai pedagang paling pelit.
Kini mereka mulai menyebutnya sebagai pedagang yang suka membantu.
Abu Nawas yang mendengar kabar itu tersenyum.
Seorang pedagang bertanya,
“Abu Nawas, apa yang sebenarnya kau lakukan kepada Hamid?”
Abu Nawas menjawab,
“Saya tidak melakukan apa-apa.”
“Lalu kenapa dia berubah?”
Abu Nawas tertawa.
“Saya hanya membantunya melihat bahwa harta akan menjadi lebih berarti ketika sebagian darinya bisa membuat orang lain bahagia.”
Pesan Moral
Kisah Abu Nawas dan pedagang yang terlalu pelit mengajarkan bahwa harta bukan hanya untuk disimpan, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk berbuat kebaikan.
Beberapa pelajaran yang dapat kita ambil:
Ia dikenal sebagai pedagang yang pandai mencari keuntungan. Barang dagangannya selalu laris, tokonya tidak pernah sepi, dan hartanya semakin bertambah.
Gambar: Abu Nawas dan Pedagang Pelit
Namun ada satu hal yang membuat orang-orang di pasar tidak menyukainya.
Hamid sangat pelit.
Memberi sedikit makanan kepada orang yang kelaparan saja ia merasa rugi. Bahkan kepada tetangganya yang pernah membantunya, ia selalu menghitung setiap pemberian.
Suatu hari, seorang pengemis datang ke tokonya.
“Tuan, bolehkah saya meminta sedikit roti? Sejak kemarin saya belum makan.”
Hamid langsung menggeleng.
“Tidak ada makanan gratis di sini.”
“Sedikit saja, Tuan.”
“Kalau sedikit tetap saja harus dibayar.”
Pengemis itu pergi dengan wajah sedih.
Kebetulan, Abu Nawas sedang berjalan melewati pasar dan melihat kejadian tersebut.
Ia berhenti sejenak.
“Hamid,” katanya, “bukankah rezeki yang kita miliki juga berasal dari Allah?”
Hamid menjawab,
“Benar.”
“Lalu mengapa kau takut sekali memberikan sedikit?”
Hamid tersenyum sinis.
“Karena saya bekerja keras untuk mendapatkan semuanya.”
Abu Nawas mengangguk.
“Baiklah. Sepertinya kau memang perlu diberi pelajaran.”
Hamid sangat pelit.
Memberi sedikit makanan kepada orang yang kelaparan saja ia merasa rugi. Bahkan kepada tetangganya yang pernah membantunya, ia selalu menghitung setiap pemberian.
Suatu hari, seorang pengemis datang ke tokonya.
“Tuan, bolehkah saya meminta sedikit roti? Sejak kemarin saya belum makan.”
Hamid langsung menggeleng.
“Tidak ada makanan gratis di sini.”
“Sedikit saja, Tuan.”
“Kalau sedikit tetap saja harus dibayar.”
Pengemis itu pergi dengan wajah sedih.
Kebetulan, Abu Nawas sedang berjalan melewati pasar dan melihat kejadian tersebut.
Ia berhenti sejenak.
“Hamid,” katanya, “bukankah rezeki yang kita miliki juga berasal dari Allah?”
Hamid menjawab,
“Benar.”
“Lalu mengapa kau takut sekali memberikan sedikit?”
Hamid tersenyum sinis.
“Karena saya bekerja keras untuk mendapatkan semuanya.”
Abu Nawas mengangguk.
“Baiklah. Sepertinya kau memang perlu diberi pelajaran.”
Pedagang yang Terlalu Perhitungan
Beberapa hari kemudian, Abu Nawas kembali ke pasar.
Ia melihat Hamid sedang menjual kurma.
“Berapa harga kurmamu?” tanya Abu Nawas.
“Sepuluh dirham sekantong.”
Abu Nawas mengambil satu buah kurma.
“Kalau saya hanya membeli satu?”
“Setengah dirham.”
Abu Nawas mengambil kurma yang lain.
“Kalau saya membeli dua?”
“Satu dirham.”
“Kalau tiga?”
“Satu setengah dirham.”
Abu Nawas tersenyum.
“Wah, kau benar-benar pandai menghitung.”
Hamid bangga.
“Tentu saja. Kalau tidak pandai menghitung, bagaimana saya bisa menjadi kaya?”
Abu Nawas kemudian bertanya,
“Kalau saya membeli satu kantong penuh?”
“Sepuluh dirham.”
“Kalau saya membeli dua?”
“Dua puluh dirham.”
“Tidak ada diskon?”
“Tidak.”
“Bonus satu buah?”
“Tidak.”
Abu Nawas tertawa.
“Baiklah.”
Ia kemudian pergi tanpa membeli apa pun.
Hamid menggeleng.
“Dasar Abu Nawas. Datang hanya untuk bertanya.”
Namun ia tidak tahu bahwa Abu Nawas sedang merencanakan sesuatu.
Rencana Abu Nawas
Keesokan harinya, Abu Nawas datang ke pasar membawa sebuah timbangan.
Hamid melihatnya.
“Untuk apa kau membawa timbangan?”
“Aku ingin membeli sesuatu darimu.”
Hamid langsung tersenyum.
“Silakan. Apa yang ingin kau beli?”
“Aku ingin membeli satu kantong kurma.”
“Sepuluh dirham.”
Abu Nawas mengeluarkan uang.
“Nah, ini sepuluh dirham.”
Hamid menerima uang tersebut.
Abu Nawas kemudian berkata,
“Tetapi saya punya satu permintaan.”
“Apa?”
“Saya ingin memilih sendiri kurma-kurma yang akan saya masukkan ke dalam kantong.”
Hamid mengangguk.
“Silakan.”
Abu Nawas mengambil satu kurma.
“Yang ini bagus.”
Ia mengambil lagi.
“Yang ini juga.”
Kemudian satu lagi.
Dan satu lagi.
Hamid mulai gelisah.
“Abu Nawas, jangan pilih terlalu lama.”
“Saya ingin mendapatkan kurma terbaik.”
Akhirnya kantong itu penuh.
Abu Nawas menyerahkannya kepada Hamid.
“Nah, sekarang timbang.”
Hamid menimbangnya.
“Beratnya hampir dua kali lipat dari kantong biasa!”
Abu Nawas tersenyum.
“Bagus.”
Hamid kebingungan.
“Kenapa bagus?”
“Karena saya ingin bertanya.”
“Apa?”
“Jika saya membayar sepuluh dirham untuk satu kantong, apakah saya boleh mengambil kurma sebanyak yang saya inginkan selama masih menggunakan satu kantong?”
Hamid terdiam.
Ia baru menyadari bahwa dirinya sendiri telah memberikan kesempatan kepada Abu Nawas untuk memilih kurma sebanyak mungkin.
“Tetapi...”
Abu Nawas memotong,
“Bukankah kau sendiri yang mengatakan harganya berdasarkan kantong?”
Orang-orang di sekitar mereka mulai tertawa.
Hamid menggaruk kepalanya.
Abu Nawas Memberi Pelajaran
Hamid akhirnya menyerah.
“Baiklah. Bawa kurmamu.”
Abu Nawas mengambil kantong itu.
Namun sebelum pergi, ia berkata,
“Hamid, boleh saya bertanya sesuatu?”
“Apa lagi?”
“Apakah kau bahagia?”
Hamid terkejut.
“Pertanyaan macam apa itu?”
“Kau punya banyak uang. Tokomu ramai. Barang daganganmu laris. Tetapi kau selalu takut kehilangan sedikit saja.”
Hamid diam.
Abu Nawas melanjutkan,
“Orang yang terlalu pelit sebenarnya bukan sedang menjaga hartanya. Kadang-kadang justru hartanyalah yang menguasai dirinya.”
Beberapa pedagang di sekitar mereka mengangguk.
Hamid tidak menjawab.
Kejadian Tak Terduga
Sore harinya, hujan deras turun di Baghdad.
Air mulai menggenangi jalan pasar.
Atap beberapa toko bocor.
Toko Hamid juga terkena banjir.
Air masuk ke dalam gudang dan membasahi sebagian barang dagangannya.
Hamid panik.
“Tolong! Tolong!”
Ia berusaha mengangkat karung-karung barang sendirian.
Namun terlalu berat.
Beberapa pedagang datang membantu.
Abu Nawas juga ikut membantu.
Setelah keadaan mulai aman, Hamid duduk kelelahan.
Ia memandang Abu Nawas.
“Kenapa kau membantuku?”
Abu Nawas tersenyum.
“Karena membantu orang yang sedang kesusahan tidak membutuhkan perhitungan.”
Hamid terdiam.
Ia teringat pengemis yang pernah ia usir.
Ia teringat tetangga yang pernah meminta bantuan.
Ia teringat betapa seringnya ia menolak berbagi hanya karena takut kehilangan sedikit hartanya.
Untuk pertama kalinya, Hamid merasa malu.
Perubahan Hamid
Keesokan harinya, Hamid membuka tokonya seperti biasa.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Di depan tokonya ia meletakkan sebuah keranjang berisi roti.
Seorang pengemis datang.
“Tuan, bolehkah saya meminta sedikit makanan?”
Hamid tersenyum.
“Tentu. Ambillah.”
Pengemis itu terkejut.
“Gratis, Tuan?”
“Gratis.”
“Benarkah?”
Hamid mengangguk.
“Ambillah secukupnya.”
Kabar tentang perubahan Hamid segera menyebar di pasar.
Orang-orang tidak lagi menyebutnya sebagai pedagang paling pelit.
Kini mereka mulai menyebutnya sebagai pedagang yang suka membantu.
Abu Nawas yang mendengar kabar itu tersenyum.
Seorang pedagang bertanya,
“Abu Nawas, apa yang sebenarnya kau lakukan kepada Hamid?”
Abu Nawas menjawab,
“Saya tidak melakukan apa-apa.”
“Lalu kenapa dia berubah?”
Abu Nawas tertawa.
“Saya hanya membantunya melihat bahwa harta akan menjadi lebih berarti ketika sebagian darinya bisa membuat orang lain bahagia.”
Sejak saat itu, Hamid tetap menjadi pedagang yang pandai berdagang.
Ia tetap menghitung keuntungan dan menjaga hartanya.
Tetapi ia tidak lagi menjadi orang yang takut berbagi.
Ia mulai menyisihkan sebagian keuntungannya untuk membantu orang miskin, memberikan makanan kepada orang yang kelaparan, dan membantu pedagang kecil yang sedang kesulitan.
Suatu hari, Hamid berkata kepada Abu Nawas,
“Sekarang saya mengerti sesuatu.”
“Apa itu?”
“Orang yang terlalu pelit sebenarnya tidak pernah merasa cukup. Sebanyak apa pun hartanya, ia selalu takut kehilangan.”
Abu Nawas tersenyum.
“Dan orang yang mau berbagi?”
Hamid menjawab,
“Justru sering merasa lebih kaya.”
Abu Nawas mengangguk.
“Nah, sekarang kau sudah belajar.”
Ia tetap menghitung keuntungan dan menjaga hartanya.
Tetapi ia tidak lagi menjadi orang yang takut berbagi.
Ia mulai menyisihkan sebagian keuntungannya untuk membantu orang miskin, memberikan makanan kepada orang yang kelaparan, dan membantu pedagang kecil yang sedang kesulitan.
Suatu hari, Hamid berkata kepada Abu Nawas,
“Sekarang saya mengerti sesuatu.”
“Apa itu?”
“Orang yang terlalu pelit sebenarnya tidak pernah merasa cukup. Sebanyak apa pun hartanya, ia selalu takut kehilangan.”
Abu Nawas tersenyum.
“Dan orang yang mau berbagi?”
Hamid menjawab,
“Justru sering merasa lebih kaya.”
Abu Nawas mengangguk.
“Nah, sekarang kau sudah belajar.”
Pesan Moral
Kisah Abu Nawas dan pedagang yang terlalu pelit mengajarkan bahwa harta bukan hanya untuk disimpan, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk berbuat kebaikan.
Beberapa pelajaran yang dapat kita ambil:
- Jangan menjadi terlalu pelit. Hemat itu baik, tetapi pelit berbeda dengan hemat.
- Berbagi tidak membuat kita miskin. Kebaikan yang diberikan kepada orang lain justru dapat mendatangkan kebahagiaan.
- Jangan biarkan harta menguasai hati. Harta seharusnya menjadi alat, bukan sesuatu yang membuat kita takut sepanjang waktu.
- Bantulah orang yang sedang membutuhkan. Kita tidak pernah tahu kapan kita sendiri membutuhkan pertolongan.
- Kekayaan yang sebenarnya adalah hati yang merasa cukup dan mau berbagi.

Posting Komentar untuk "Abu Nawas dan Pedagang yang Terlalu Pelit"