Abu Nawas Mencari Orang yang Lebih Bodoh Darinya
Pada suatu pagi di kota Baghdad, Abu Nawas berjalan santai melewati pasar. Wajahnya tampak serius, tetapi matanya sesekali melirik para pedagang yang sedang sibuk menawarkan dagangan.
Tiba-tiba ia berhenti di depan sebuah toko.
“Wahai Abu Nawas!” seru seorang pedagang. “Mengapa engkau tampak kebingungan?”
Abu Nawas tersenyum.
“Aku sedang mencari seseorang.”
“Siapa?”
“Orang yang lebih bodoh dariku.”
Pedagang itu terbelalak.
“Lebih bodoh darimu? Untuk apa?”
“Aku ingin belajar sesuatu darinya,” jawab Abu Nawas sambil tertawa kecil.
Kabar aneh itu segera menyebar ke seluruh pasar. Orang-orang pun mulai mengikuti Abu Nawas karena penasaran.
Mencari Orang yang Lebih Bodoh
Abu Nawas berjalan dari satu tempat ke tempat lain.
Ia melihat seorang lelaki membeli seekor kambing dengan harga sangat mahal.
“Apakah engkau tidak tahu harga kambing itu terlalu tinggi?” tanya Abu Nawas.
“Aku tahu,” jawab lelaki itu.
“Lalu mengapa kau membelinya?”
“Karena aku sangat menyukai kambing ini.”
Abu Nawas menggeleng.
“Bukan dia yang kucari.”
Tak jauh dari sana, ia melihat seorang pemuda menjatuhkan uangnya sendiri ke sungai.
“Wahai pemuda! Mengapa kau membuang uang?”
Pemuda itu menjawab, “Aku ingin melihat apakah uangku bisa berenang.”
Orang-orang tertawa.
Abu Nawas menghela napas.
“Ini memang bodoh, tetapi belum tentu lebih bodoh dariku.”
Ia kemudian melanjutkan perjalanan.
Bertemu Seorang Lelaki Tua
Menjelang sore, Abu Nawas sampai di sebuah rumah sederhana. Di depan rumah itu, seorang lelaki tua sedang menggali tanah.
Abu Nawas memperhatikannya.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Abu Nawas.
“Aku sedang mencari harta karun.”
“Apakah engkau tahu di mana harta itu berada?”
“Tidak.”
“Apakah ada petanya?”
“Tidak.”
“Apakah ada orang yang memberitahumu?”
“Tidak.”
Abu Nawas tertawa.
“Jadi, kau menggali tanah tanpa tahu apa yang kau cari?”
“Benar.”
Abu Nawas kemudian duduk di samping lelaki itu.
“Wahai orang tua, tampaknya aku sudah menemukan orang yang kucari.”
Lelaki tua itu tersenyum.
“Apakah aku lebih bodoh darimu?”
“Awalnya aku mengira begitu,” jawab Abu Nawas. “Tetapi sekarang aku justru merasa dirimu lebih bijaksana.”
Lelaki tua itu menghentikan galiannya.
“Bagaimana mungkin?”
Abu Nawas menjawab,
“Engkau menggali tanah karena berharap menemukan sesuatu yang berharga. Sedangkan aku berkeliling kota mencari orang yang lebih bodoh dariku. Bukankah pencarianku jauh lebih sia-sia?”
Orang-orang yang mengikuti Abu Nawas langsung tertawa.
Pelajaran dari Sang Raja
Keesokan harinya, cerita itu sampai ke telinga Sultan. Abu Nawas pun dipanggil ke istana.
“Benarkah engkau berkeliling kota mencari orang yang lebih bodoh darimu?” tanya Sultan.
“Benar, Paduka.”
“Dan apakah engkau menemukannya?”
Abu Nawas menundukkan kepala.
“Tidak, Paduka.”
Sultan tertawa.
“Lalu apa yang engkau pelajari?”
Abu Nawas menjawab,
“Aku belajar bahwa manusia sering sibuk mencari kesalahan orang lain, tetapi lupa melihat kebodohan dirinya sendiri.”
Sultan terdiam sejenak, lalu tersenyum.
“Jawabanmu selalu saja membuatku berpikir.”
Abu Nawas membungkuk.
“Paduka, orang yang paling sulit kita kenali adalah diri kita sendiri.”
Pesan Moral
Kisah Abu Nawas ini mengajarkan bahwa sebelum menilai kebodohan atau kesalahan orang lain, kita harus terlebih dahulu melihat diri sendiri. Jangan sampai kita sibuk mencari kekurangan orang lain, sementara kita tidak menyadari kekurangan yang ada dalam diri kita.
Orang yang bijaksana bukanlah orang yang merasa paling pintar, melainkan orang yang mau mengakui bahwa dirinya masih memiliki banyak kekurangan.
Tiba-tiba ia berhenti di depan sebuah toko.
Abu Nawas tersenyum.
“Aku sedang mencari seseorang.”
“Siapa?”
“Orang yang lebih bodoh dariku.”
Pedagang itu terbelalak.
“Lebih bodoh darimu? Untuk apa?”
“Aku ingin belajar sesuatu darinya,” jawab Abu Nawas sambil tertawa kecil.
Kabar aneh itu segera menyebar ke seluruh pasar. Orang-orang pun mulai mengikuti Abu Nawas karena penasaran.
Mencari Orang yang Lebih Bodoh
Abu Nawas berjalan dari satu tempat ke tempat lain.
Ia melihat seorang lelaki membeli seekor kambing dengan harga sangat mahal.
“Apakah engkau tidak tahu harga kambing itu terlalu tinggi?” tanya Abu Nawas.
“Aku tahu,” jawab lelaki itu.
“Lalu mengapa kau membelinya?”
“Karena aku sangat menyukai kambing ini.”
Abu Nawas menggeleng.
“Bukan dia yang kucari.”
Tak jauh dari sana, ia melihat seorang pemuda menjatuhkan uangnya sendiri ke sungai.
“Wahai pemuda! Mengapa kau membuang uang?”
Pemuda itu menjawab, “Aku ingin melihat apakah uangku bisa berenang.”
Orang-orang tertawa.
Abu Nawas menghela napas.
“Ini memang bodoh, tetapi belum tentu lebih bodoh dariku.”
Ia kemudian melanjutkan perjalanan.
Bertemu Seorang Lelaki Tua
Menjelang sore, Abu Nawas sampai di sebuah rumah sederhana. Di depan rumah itu, seorang lelaki tua sedang menggali tanah.
Abu Nawas memperhatikannya.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Abu Nawas.
“Aku sedang mencari harta karun.”
“Apakah engkau tahu di mana harta itu berada?”
“Tidak.”
“Apakah ada petanya?”
“Tidak.”
“Apakah ada orang yang memberitahumu?”
“Tidak.”
Abu Nawas tertawa.
“Jadi, kau menggali tanah tanpa tahu apa yang kau cari?”
“Benar.”
Abu Nawas kemudian duduk di samping lelaki itu.
“Wahai orang tua, tampaknya aku sudah menemukan orang yang kucari.”
Lelaki tua itu tersenyum.
“Apakah aku lebih bodoh darimu?”
“Awalnya aku mengira begitu,” jawab Abu Nawas. “Tetapi sekarang aku justru merasa dirimu lebih bijaksana.”
Lelaki tua itu menghentikan galiannya.
“Bagaimana mungkin?”
Abu Nawas menjawab,
“Engkau menggali tanah karena berharap menemukan sesuatu yang berharga. Sedangkan aku berkeliling kota mencari orang yang lebih bodoh dariku. Bukankah pencarianku jauh lebih sia-sia?”
Orang-orang yang mengikuti Abu Nawas langsung tertawa.
Pelajaran dari Sang Raja
Keesokan harinya, cerita itu sampai ke telinga Sultan. Abu Nawas pun dipanggil ke istana.
“Benarkah engkau berkeliling kota mencari orang yang lebih bodoh darimu?” tanya Sultan.
“Benar, Paduka.”
“Dan apakah engkau menemukannya?”
Abu Nawas menundukkan kepala.
“Tidak, Paduka.”
Sultan tertawa.
“Lalu apa yang engkau pelajari?”
Abu Nawas menjawab,
“Aku belajar bahwa manusia sering sibuk mencari kesalahan orang lain, tetapi lupa melihat kebodohan dirinya sendiri.”
Sultan terdiam sejenak, lalu tersenyum.
“Jawabanmu selalu saja membuatku berpikir.”
Abu Nawas membungkuk.
“Paduka, orang yang paling sulit kita kenali adalah diri kita sendiri.”
Pesan Moral
Kisah Abu Nawas ini mengajarkan bahwa sebelum menilai kebodohan atau kesalahan orang lain, kita harus terlebih dahulu melihat diri sendiri. Jangan sampai kita sibuk mencari kekurangan orang lain, sementara kita tidak menyadari kekurangan yang ada dalam diri kita.
Orang yang bijaksana bukanlah orang yang merasa paling pintar, melainkan orang yang mau mengakui bahwa dirinya masih memiliki banyak kekurangan.

Posting Komentar untuk "Abu Nawas Mencari Orang yang Lebih Bodoh Darinya"