Abu Nawas Mengaku Gila untuk Menyelamatkan Diri

Pagi itu, Abu Nawas sedang duduk santai di kedai sambil menikmati secangkir teh.
Ia sama sekali tidak menyangka bahwa beberapa saat kemudian dirinya akan menjadi buronan kerajaan. Tiba-tiba, suara derap kuda terdengar dari kejauhan. Sekelompok pengawal kerajaan berhenti tepat di depan kedai.


“Apakah di sini Abu Nawas?” tanya kepala pengawal.
Orang-orang di kedai langsung menoleh.
Abu Nawas yang mendengar pertanyaan itu buru-buru menundukkan kepala.
Seorang pengunjung menunjuk kepadanya.
“Itu orangnya!”
Kepala pengawal segera mendekat.
“Abu Nawas, ikut kami ke istana!”
Abu Nawas berdiri perlahan.
“Boleh saya tahu, kesalahan saya apa?”
“Raja memerintahkanmu menghadap.”
“Apakah saya akan diberi hadiah?”
“Entahlah.”
“Kalau begitu, saya mulai curiga.”
Para pengawal tidak menjawab.
Abu Nawas akhirnya mengikuti mereka.
Namun di perjalanan, ia mengetahui bahwa dirinya sedang menghadapi masalah serius.

Tuduhan di Istana

Sesampainya di istana, Abu Nawas dibawa ke hadapan Raja Harun al-Rasyid.
Raja terlihat marah.
“Abu Nawas!”
“Ya, Paduka.”
“Aku mendapat laporan bahwa engkau telah menghina salah seorang pejabat kerajaan.”
Abu Nawas terkejut.
“Menghina? Saya?”
“Benar!”
“Siapa yang melaporkan?”
Seorang pejabat maju.
“Saya, Paduka.”
Abu Nawas memandang pejabat tersebut.
Ia mengenalnya sebagai orang yang beberapa hari sebelumnya pernah berselisih dengannya.
Pejabat itu berkata,
“Abu Nawas mengatakan bahwa saya adalah orang paling bodoh di Baghdad.”
Abu Nawas menggeleng.
“Saya tidak pernah mengatakan seperti itu.”
“Dia berbohong!” seru pejabat tersebut.
Raja mengangkat tangan.
“Cukup!”
Kemudian raja menatap Abu Nawas.
“Jika tuduhan ini benar, engkau akan menerima hukuman.”
Abu Nawas mulai berpikir.
Ia tahu, jika ia membela diri dengan marah, keadaan justru akan semakin buruk.
Namun ia juga tidak ingin dihukum karena sesuatu yang tidak dilakukannya.
Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya.
Abu Nawas tersenyum.

Abu Nawas Mulai Bertingkah Aneh

Raja bertanya,
“Abu Nawas, apakah kau mengakui kesalahanmu?”
Abu Nawas tidak menjawab.
Ia justru berjalan mengelilingi ruangan.
Kemudian ia mendekati sebuah tiang.
“Yang Mulia, apakah tiang ini sudah makan pagi?”
Semua orang terdiam.
Raja mengerutkan kening.
“Apa maksudmu?”
Abu Nawas menoleh.
“Paduka, tiang ini belum menjawab.”
Beberapa pejabat mulai berbisik.
Abu Nawas kemudian melihat sebuah kendi.
“Wah, kendi ini tampaknya sedang marah.”
Kepala pengawal memandang raja dengan bingung.
“Paduka... sepertinya Abu Nawas sedang tidak waras.”
Raja tidak langsung menjawab.
Ia memperhatikan Abu Nawas.
Abu Nawas kemudian mengambil sebuah sandal dan berbicara kepadanya.
“Wahai sandal, apakah kau melihat siapa yang menghina pejabat tadi?”
Ruangan pecah dalam kebingungan.
Sang pejabat yang menuduh Abu Nawas mulai tersenyum.
“Paduka, lihatlah! Jelas sekali dia sudah gila.”
Abu Nawas justru tersenyum dalam hati.
“Sepertinya rencanaku berhasil.”

Raja Mulai Curiga

Raja Harun al-Rasyid memang terkenal cerdas.
Ia tidak langsung percaya.
“Abu Nawas.”
Abu Nawas menoleh.
“Ya, Paduka?”
“Apakah kau mengenalku?”
Abu Nawas berpikir sebentar.
Kemudian ia menunjuk raja.
“Engkau...”
Raja menunggu.
“...sepertinya penjaga toko di dekat rumah saya.”
Para pejabat terkejut.
Raja hampir tertawa, tetapi segera menahan diri.
“Penjaga toko?”
“Iya. Tapi mengapa pakaianmu sangat bagus?”
Para pejabat semakin yakin bahwa Abu Nawas benar-benar kehilangan akal.
Raja kemudian berkata,
“Panggil tabib kerajaan.”
Abu Nawas langsung menjawab,
“Jangan! Tabib itu juga gila!”
Tabib yang baru masuk langsung terkejut.
“Saya?”
Abu Nawas menunjuknya.
“Ya, kamu. Kemarin kamu memberi saya obat pahit. Saya yakin kamu ingin membuat semua orang menjadi gila.”
Ruangan semakin ramai.
Beberapa pejabat bahkan tidak mampu menahan tawa.
Namun Raja tetap memperhatikan Abu Nawas dengan serius.

Sebuah Ujian

Raja kemudian mengambil sebuah cincin dari jarinya.
Ia meletakkannya di atas meja.
“Abu Nawas, kalau kau benar-benar tidak waras, tentu kau tidak tahu benda apa ini.”
Abu Nawas berjalan mendekati meja.
Ia melihat cincin itu.
“Benda apa itu?”
“Cincin.”
Abu Nawas mengangguk.
“Oh, saya kira kue.”
Semua orang tertawa.
Raja tersenyum.
“Kalau begitu, ambillah.”
Abu Nawas mengambil cincin itu.
Kemudian ia memasukkannya ke dalam mulut.
“Hmm... rasanya tidak seperti kue.”
Raja langsung berdiri.
“Jangan dimakan!”
Abu Nawas segera mengeluarkan cincin itu.
“Kenapa, Paduka? Bukankah tadi Paduka menyuruh saya mengambilnya?”
Raja menatap Abu Nawas beberapa saat.
Kemudian ia tertawa.
“Hahaha! Cukup!”
Semua orang terdiam.
Raja berkata,
“Berhenti berpura-pura.”
Abu Nawas langsung berdiri tegak.
“Baik, Paduka.”
Para pejabat terkejut.
“Jadi selama ini kau berpura-pura?”
Abu Nawas tersenyum.
“Tentu saja.”

Kebenaran Terungkap

Raja bertanya,
“Kenapa kau melakukan semua itu?”
Abu Nawas menjawab,
“Karena saya tahu ada orang yang ingin menjebak saya.”
Ia menunjuk pejabat yang sebelumnya menuduhnya.
“Dia sedang mencari alasan agar saya dihukum. Kalau saya terus membantah, mungkin saya tidak akan dipercaya.”
Pejabat itu langsung gelisah.
“Tuduhan itu tidak benar!”
Abu Nawas kemudian berkata,
“Kalau begitu, mari kita periksa siapa saja yang berada di kedai ketika peristiwa itu terjadi.”
Raja memerintahkan pengawal mencari saksi.
Tidak lama kemudian, beberapa orang didatangkan ke istana.
Mereka memberikan kesaksian.
Ternyata Abu Nawas memang tidak pernah menghina pejabat tersebut.
Justru pejabat itulah yang sebelumnya telah membuat keributan dan kemudian mencoba menimpakan kesalahan kepada Abu Nawas.
Raja menjadi sangat marah.
“Jadi kau telah memberikan laporan palsu kepadaku?”
Pejabat tersebut menundukkan kepala.
“Ampun, Paduka.”
Raja kemudian memerintahkan agar pejabat itu menerima hukuman sesuai kesalahannya.
Setelah keadaan kembali tenang, Raja menatap Abu Nawas.
“Kau memang aneh.”
Abu Nawas tersenyum.
“Terima kasih, Paduka.”
“Aku belum selesai. Kau memang aneh, tetapi kali ini keanehanmu menyelamatkanmu.”
Abu Nawas membungkuk.
“Saya hanya berusaha agar tidak dihukum karena kesalahan yang tidak saya lakukan.”
Raja tertawa.
“Pergilah sebelum aku berubah pikiran dan benar-benar mengirimmu ke tabib kerajaan.”
Abu Nawas segera menjawab,
“Kalau begitu, saya pergi sekarang juga, Paduka!”
Semua orang tertawa.

Hari itu Abu Nawas berhasil menyelamatkan dirinya bukan dengan kekerasan, bukan pula dengan kemarahan.
Ia menggunakan ketenangan, kecerdikan, dan keberanian.
Namun yang paling penting, ia tidak menggunakan kecerdasannya untuk merugikan orang lain. Ia hanya mencari cara agar kebenaran dapat terungkap.
Terkadang, ketika berada dalam situasi sulit, kita memang perlu menahan emosi dan berpikir lebih tenang. Sebab keputusan yang diambil dalam keadaan marah sering kali justru memperburuk masalah.

Pesan Moral

Dari kisah Abu Nawas ini, kita dapat mengambil beberapa pelajaran:
  • Jangan mudah panik ketika menghadapi tuduhan. Tenangkan diri sebelum mengambil tindakan.
  • Kecerdikan dapat menjadi jalan keluar dari masalah, tetapi harus digunakan secara bijaksana.
  • Jangan membalas fitnah dengan fitnah. Carilah bukti dan biarkan kebenaran berbicara.
  • Jangan mudah percaya pada sebuah tuduhan sebelum mengetahui kebenarannya.
  • Kesabaran dan ketenangan sering kali lebih kuat daripada kemarahan.
Pesan utama: Ketika berada dalam masalah, jangan biarkan kepanikan menguasai diri. Berpikirlah tenang, karena jalan keluar terkadang muncul dari sesuatu yang tidak terpikirkan oleh orang lain.

Posting Komentar untuk "Abu Nawas Mengaku Gila untuk Menyelamatkan Diri"