Tjokroaminoto: Guru Para Pemimpin Pergerakan Indonesia

Dalam sejarah kebangkitan nasional Indonesia, ada satu nama yang menempati posisi istimewa. Ia tidak pernah menjadi presiden atau perdana menteri, tetapi ia mendidik tokoh-tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Dialah Haji Oemar Said Tjokroaminoto, yang oleh generasi setelahnya dijuluki sebagai "Guru Bangsa."


Tjokroaminoto lahir pada 16 Agustus 1882 di Ponorogo, Jawa Timur, dalam keluarga priyayi. Ayahnya adalah seorang wedana, dan kakeknya pernah menjabat sebagai bupati Ponorogo. Latar belakang ini memberinya akses ke pendidikan Barat yang saat itu hanya dinikmati segelintir pribumi, hingga ia lulus dari OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren) di Magelang.

Dari Putra Priyayi hingga Nakhoda Pergerakan

Setelah lulus, Tjokroaminoto sempat bekerja sebagai pegawai pemerintah. Namun ia cepat menyadari bahwa dalam birokrasi kolonial, seorang priyayi pribumi dituntut untuk tunduk dan menghamba kepada orang Belanda. Hal itu tidak bisa ia terima. Pada tahun 1905, ia meninggalkan pekerjaannya dan pindah ke Surabaya, memulai babak hidup yang sama sekali berbeda.

Tahun 1912 menjadi titik balik. Pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI), Haji Samanhudi, mengirim utusan untuk mengundangnya bergabung. Tjokroaminoto menerima undangan itu, tetapi ia mengajukan satu gagasan kunci: SDI harus diubah menjadi Sarekat Islam (SI), tidak lagi terbatas pada kalangan pedagang, melainkan terbuka bagi semua orang Indonesia. Gagasan itu diterima, dan lahirlah organisasi massa nasional pertama dalam sejarah Indonesia.

Peneleh: Rumah Kos yang Menjadi Kawah Candradimuka

Jika Tjokroaminoto adalah jiwa pergerakan nasional, maka rumahnya di Gang Peneleh, Surabaya, adalah jantungnya. Sejak 1915, ia tinggal di gang sempit dekat Kalimas itu, dan rumahnya bukan sekadar tempat tinggal, melainkan semacam "sekolah politik" informal.

Istrinya membuka rumah kos sederhana. Lantai atas dibagi menjadi sekitar sepuluh kamar sempit. Kamar-kamar itu tanpa jendela, tanpa kasur, hanya beralas tikar, dan gelap sehingga lampu harus dinyalakan bahkan di siang hari. Namun justru di kamar-kamar sempit itulah tinggal sejumlah pemuda yang kelak mengubah wajah Indonesia.

Sukarno adalah yang paling terkenal di antara mereka. Pada 1916, Sukarno yang berusia 15 tahun datang dari Blitar untuk bersekolah di Surabaya, dan ayahnya menitipkannya kepada Tjokroaminoto. Selama mondok, Sukarno tidak hanya tinggal di rumah itu, tetapi juga sering ikut dalam diskusi politik di ruang tamu, mendengarkan pergulatan berbagai ideologi. Ia kemudian mengenang bahwa di rumah sederhana itulah benih nasionalismenya mulai tumbuh.

Serumah dengan Sukarno, ada pula tokoh-tokoh yang kelak menempuh jalan sangat berbeda. Semaoen, Alimin, Musso nama-nama yang kemudian lekat dengan Partai Komunis Indonesia; dan Kartosoewirjo, yang menjadi pendiri Negara Islam Indonesia dan akhirnya dihukum mati atas perintah Sukarno. Rumah kos Tjokroaminoto seperti kuali peleburan ideologi, tempat berkumpulnya pemuda-pemuda dengan keyakinan dan cita-cita berbeda, meski kelak mereka berpisah jalan, bahkan saling berhadapan.

Penjelajah Islam dan Keadilan Sosial

Warisan politik Tjokroaminoto yang paling inti adalah pemikirannya tentang "Islam dan Sosialisme." Di era ketika kolonialisme dan Marxisme sama-sama menyusup ke Indonesia, ia berusaha merumuskan jawaban yang mampu merespons ketidakadilan sosial tanpa meninggalkan iman Islam.

Pada 1924, ia menerbitkan buku Islam dan Sosialisme, yang memaparkan pandangannya secara sistematis. Ia berargumen bahwa Islam dan sosialisme bertemu pada tiga prinsip dasar: kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan. 

Namun ia sekaligus mengkritik kecenderungan materialistis sosialisme Barat, dengan menegaskan bahwa kesejahteraan sejati tidak hanya menyangkut hal material, melainkan juga kebahagiaan dunia dan akhirat.

Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh pembaharu Mesir seperti Muhammad Abduh dan Rashid Rida, dan cenderung pada Islam modernis yang lebih praktis dan menekankan persatuan. Ia berulang kali menegaskan satu hal: misi Islam adalah mewujudkan keadilan di muka bumi, dan kolonialisme adalah bentuk ketidakadilan yang paling nyata.

"Raja Tanpa Mahkota" dan Warisannya

Pemerintah Belanda memberinya julukan De Ongekroonde van Java Raja Tanpa Mahkota dari Jawa. Julukan itu sekaligus pengakuan atas pengaruhnya yang luar biasa dan cerminan kekhawatiran kaum kolonial. Di bawah kepemimpinannya, Sarekat Islam pernah menjadi organisasi massa nasional pertama dengan anggota mencapai jutaan orang.

Pada 17 Desember 1934, Tjokroaminoto meninggal di Yogyakarta pada usia 52 tahun. Kepergiannya menandai titik balik sebuah zaman. Pemuda-pemuda yang pernah belajar di rumahnya kini telah menempuh jalan masing-masing: Sukarno sedang membangun teori nasionalismenya, Semaoen dan Musso telah jauh di jalan komunisme, dan Kartosoewirjo mulai merancang cita-cita negara Islamnya.

Sejarah Indonesia setelah itu, dalam banyak hal, menjadi pertarungan antara ide-ide dan kekuatan para "murid" tersebut. Pada 1948, Sukarno memerintahkan penumpasan pemberontakan PKI di Madiun, dan sahabat masa kecilnya, Musso, tewas dalam konflik itu. Pada 1962, ia menandatangani vonis mati terhadap Kartosoewirjo. Tjokroaminoto mungkin tidak pernah menyangka bahwa persaudaraan yang tumbuh di ruang tamunya dahulu akan berakhir dengan cara seperti itu.

Namun warisan Tjokroaminoto yang paling mendalam mungkin bukan organisasi atau sistem pemikiran tertentu, melainkan semangat: bagaimana seorang intelektual pribumi di zaman penindasan mampu menyatukan kesadaran kebangkitan sebuah bangsa berkat keyakinan, ilmu, dan kesetiaan kepada rakyat. Rumahnya terbuka, pikirannya inklusif, dan murid-muridnya beragam meski keberagaman itu akhirnya berujung tragis, hal itu justru membuktikan betapa dalam dan luas pengaruh Tjokroaminoto.

Pada 1961, Presiden Sukarno menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional. Kini namanya diabadikan pada jalan-jalan dan universitas di berbagai daerah, serta muncul dalam buku sejarah dan layar film. Tetapi yang benar-benar membuat Tjokroaminoto tetap "hidup" adalah semangat dari pesan yang ia tinggalkan bagi murid-muridnya: "Jika kamu ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan berbicaralah seperti orator."

Dari kamar kos sempit di Gang Peneleh, para pemuda itu keluar membawa cita-cita masing-masing. Ada yang menjadi presiden pertama, ada yang menjadi pejuang revolusi, ada yang menjadi pemimpin pemberontakan. Dan orang yang mengajari mereka berpikir, berbicara, dan berjuang, tetaplah sosok yang duduk di ruang tamu itu, menemani mereka berdiskusi hingga larut malam sang "Cokro," guru para pemimpin pergerakan Indonesia.