Buya Hamka: Ulama, Sastrawan, dan Pemikir yang Tak Lekang oleh Zaman
Buya Hamka bukan sekadar nama besar dalam sejarah Indonesia. Ia adalah sosok langka yang mampu menyatukan dunia ulama, sastrawan, dan pemikir dalam satu pribadi yang utuh. Karyanya melampaui zamannya, dan pemikirannya masih relevan bagi generasi yang hidup puluhan tahun setelah kepergiannya.
Haji Abdul Malik Karim Amrullah nama yang kemudian disingkat menjadi Hamka lahir pada 17 Februari 1908 di Sungai Batang, Tanjung Raya, Agam, Sumatra Barat. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga ulama yang ketat. Ayahnya, Haji Abdul Karim Amrullah atau yang dikenal sebagai Haji Rasul, adalah pelopor Gerakan Islah di Minangkabau. Pendidikan agama menjadi makanan sehari-harinya sejak kecil.
Dari Tepi Danau Maninjau ke Panggung Nasional
Namun Hamka muda bukanlah tipe yang sekadar mengikuti jalur yang telah disiapkan. Ia dikenal sebagai "Si Bujang Jauh" karena kegemarannya merantau. Pada usia 16 tahun, ia pergi ke Yogyakarta dan berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan Islam seperti H.O.S Tjokroaminoto dan Ki Bagus Hadikusumo. Di sana pula ia mulai menyelami pemikiran pembaharu Islam seperti Muhammad Abduh dan Rashid Rida.
Yang menarik, Hamka adalah seorang otodidak sejati. Ia tidak pernah menamatkan pendidikan formal yang tinggi, tetapi kemampuannya dalam berbagai bidang ilmu filsafat, sastra, sejarah, sosiologi, dan politik tidak perlu diragukan lagi. Dengan penguasaan bahasa Arab yang mendalam, ia meneliti karya-karya ulama besar Timur Tengah, sekaligus menggali pemikiran sarjana Barat seperti Freud, Toynbee, dan Sartre.
Sastrawan yang Menulis dengan Hati
Nama Hamka mulai melambung sebagai sastrawan ketika ia menerbitkan novel-novel yang hingga kini masih dibaca. Di Bawah Lindungan Ka'bah (1936) dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (1937) menjadi karya ikonik yang tidak hanya memikat pembaca di Indonesia, tetapi juga di Malaysia, Singapura, dan Brunei.
Yang membuat karya-karya Hamka istimewa bukan sekadar alur ceritanya. Novel-novelnya adalah cerminan batin manusia dan pergulatan antara adat, agama, serta kemanusiaan. Dalam Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, ia mengkritisi sistem kasta sosial dalam masyarakat Minangkabau dan mempertanyakan keadilan cinta. Dalam Di Bawah Lindungan Ka'bah, ia menyentuh tema ketulusan dan pengorbanan yang melampaui batas-batas sosial .
Beberapa karya Hamka bahkan telah diadaptasi menjadi film layar lebar, membuktikan bahwa daya tarik narasinya tetap hidup di era visual. Tidak berlebihan jika disebut bahwa Hamka adalah salah satu sastrawan Indonesia yang paling berpengaruh dalam membentuk cara masyarakat memahami agama dan budaya melalui medium sastra.
Ulama yang Berdakwah dengan Pena
Jika ada satu kalimat yang paling menggambarkan semangat Hamka sebagai ulama, mungkin ini: "Tinta seorang ulama lebih berharga daripada darah seorang syuhada". Baginya, menulis adalah bagian dari jihad intelektual.
Karya keulamaan Hamka yang paling monumental adalah Tafsir Al-Azhar, sebuah tafsir Al-Qur'an 30 juz yang ditulisnya dalam kondisi yang sangat tidak ideal: di balik jeruji besi. Ketika Orde Lama menahannya karena perbedaan pandangan politik, Hamka justru menghasilkan karya yang hingga kini menjadi rujukan penting di dunia Islam Nusantara.
Selain Tafsir Al-Azhar, Hamka menulis lebih dari seratus judul buku, mulai dari Tasawuf Moden, Falsafah Hidup, Lembaga Hidup, hingga Lembaga Budi. Karya-karyanya menjadi jembatan antara khazanah klasik Islam dan tantangan modernitas yang dihadapi umat.
Keteguhan yang Tak Tergoyahkan
Hamka dikenal sebagai sosok yang teguh pada prinsip namun tetap terbuka pada perbedaan. Keteguhan ini terlihat jelas ketika ia menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama pada tahun 1975.
Ketika pemerintah melalui Menteri Agama memintanya mencabut fatwa MUI yang mengharamkan umat Islam mengikuti perayaan Natal bersama, Hamka menolak. Ia memilih mundur dari jabatannya daripada mencabut fatwa yang diyakini benar. Sikap ini menunjukkan integritas yang tidak bisa dibeli dengan jabatan atau kekuasaan.
Alasan Hamka menerima posisi Ketua MUI pun menarik untuk dicermati. Ia melihatnya sebagai cara untuk menghadapi ideologi komunis yang saat itu dianggap ancaman, sekaligus memperbaiki hubungan umat Islam dengan pemerintah yang selalu diliputi kecurigaan. Hamka berpikir strategis, bukan sekadar simbolis.
Warisan yang Tak Lekang
Buya Hamka meninggal pada 24 Juli 1981, tepat di bulan Ramadan. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga warisan yang tak ternilai.
Apa yang membuat Hamka tetap relevan hingga kini? Pertama, ia adalah contoh nyata bahwa ilmu tidak selalu harus datang dari jalur formal. Kedua, ia membuktikan bahwa agama dan sastra bukan dua dunia yang terpisah keduanya bisa saling memperkaya. Ketiga, ia menunjukkan bahwa berdakwah bisa dilakukan dengan berbagai cara: melalui mimbar, melalui tulisan, dan melalui karya sastra.
Yang paling penting, Hamka meletakkan dasar bahwa Islam dan kebangsaan bukan dua hal yang bertentangan. Ia adalah bukti hidup bahwa seorang Muslim bisa sekaligus menjadi nasionalis sejati. Pemikirannya tentang nasionalisme dalam pendidikan Islam, misalnya, telah diimplementasikan dalam kurikulum Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar yang didirikannya.
Penutup
"Kalau perahunya telah dikayuh ke tengah, dia tak boleh surut pulang. Meskipun bagaimana besar gelombang, biarkan kemudi patah, biarpun layar robek, itu lebih mulia daripada membalik haluan pulang."
Kutipan ini, yang sering dikaitkan dengan Buya Hamka, merangkum semangat hidupnya. Ia tidak pernah surut dari perjuangan, tidak pernah kompromi dengan prinsip yang diyakini benar, dan tidak pernah berhenti berkarya hingga akhir hayatnya.
Buya Hamka adalah bukti bahwa seorang ulama bisa menjadi sastrawan, seorang pemikir bisa menjadi pejuang, dan seorang individu bisa menginspirasi jutaan orang tanpa pernah kehilangan jati dirinya. Namanya mungkin telah tiada, tetapi karyanya akan terus dibaca, pemikirannya akan terus dikaji, dan teladannya akan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Dari Tepi Danau Maninjau ke Panggung Nasional
Namun Hamka muda bukanlah tipe yang sekadar mengikuti jalur yang telah disiapkan. Ia dikenal sebagai "Si Bujang Jauh" karena kegemarannya merantau. Pada usia 16 tahun, ia pergi ke Yogyakarta dan berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan Islam seperti H.O.S Tjokroaminoto dan Ki Bagus Hadikusumo. Di sana pula ia mulai menyelami pemikiran pembaharu Islam seperti Muhammad Abduh dan Rashid Rida.
Yang menarik, Hamka adalah seorang otodidak sejati. Ia tidak pernah menamatkan pendidikan formal yang tinggi, tetapi kemampuannya dalam berbagai bidang ilmu filsafat, sastra, sejarah, sosiologi, dan politik tidak perlu diragukan lagi. Dengan penguasaan bahasa Arab yang mendalam, ia meneliti karya-karya ulama besar Timur Tengah, sekaligus menggali pemikiran sarjana Barat seperti Freud, Toynbee, dan Sartre.
Sastrawan yang Menulis dengan Hati
Nama Hamka mulai melambung sebagai sastrawan ketika ia menerbitkan novel-novel yang hingga kini masih dibaca. Di Bawah Lindungan Ka'bah (1936) dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (1937) menjadi karya ikonik yang tidak hanya memikat pembaca di Indonesia, tetapi juga di Malaysia, Singapura, dan Brunei.
Yang membuat karya-karya Hamka istimewa bukan sekadar alur ceritanya. Novel-novelnya adalah cerminan batin manusia dan pergulatan antara adat, agama, serta kemanusiaan. Dalam Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, ia mengkritisi sistem kasta sosial dalam masyarakat Minangkabau dan mempertanyakan keadilan cinta. Dalam Di Bawah Lindungan Ka'bah, ia menyentuh tema ketulusan dan pengorbanan yang melampaui batas-batas sosial .
Beberapa karya Hamka bahkan telah diadaptasi menjadi film layar lebar, membuktikan bahwa daya tarik narasinya tetap hidup di era visual. Tidak berlebihan jika disebut bahwa Hamka adalah salah satu sastrawan Indonesia yang paling berpengaruh dalam membentuk cara masyarakat memahami agama dan budaya melalui medium sastra.
Ulama yang Berdakwah dengan Pena
Jika ada satu kalimat yang paling menggambarkan semangat Hamka sebagai ulama, mungkin ini: "Tinta seorang ulama lebih berharga daripada darah seorang syuhada". Baginya, menulis adalah bagian dari jihad intelektual.
Karya keulamaan Hamka yang paling monumental adalah Tafsir Al-Azhar, sebuah tafsir Al-Qur'an 30 juz yang ditulisnya dalam kondisi yang sangat tidak ideal: di balik jeruji besi. Ketika Orde Lama menahannya karena perbedaan pandangan politik, Hamka justru menghasilkan karya yang hingga kini menjadi rujukan penting di dunia Islam Nusantara.
Selain Tafsir Al-Azhar, Hamka menulis lebih dari seratus judul buku, mulai dari Tasawuf Moden, Falsafah Hidup, Lembaga Hidup, hingga Lembaga Budi. Karya-karyanya menjadi jembatan antara khazanah klasik Islam dan tantangan modernitas yang dihadapi umat.
Keteguhan yang Tak Tergoyahkan
Hamka dikenal sebagai sosok yang teguh pada prinsip namun tetap terbuka pada perbedaan. Keteguhan ini terlihat jelas ketika ia menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama pada tahun 1975.
Ketika pemerintah melalui Menteri Agama memintanya mencabut fatwa MUI yang mengharamkan umat Islam mengikuti perayaan Natal bersama, Hamka menolak. Ia memilih mundur dari jabatannya daripada mencabut fatwa yang diyakini benar. Sikap ini menunjukkan integritas yang tidak bisa dibeli dengan jabatan atau kekuasaan.
Alasan Hamka menerima posisi Ketua MUI pun menarik untuk dicermati. Ia melihatnya sebagai cara untuk menghadapi ideologi komunis yang saat itu dianggap ancaman, sekaligus memperbaiki hubungan umat Islam dengan pemerintah yang selalu diliputi kecurigaan. Hamka berpikir strategis, bukan sekadar simbolis.
Warisan yang Tak Lekang
Buya Hamka meninggal pada 24 Juli 1981, tepat di bulan Ramadan. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga warisan yang tak ternilai.
Apa yang membuat Hamka tetap relevan hingga kini? Pertama, ia adalah contoh nyata bahwa ilmu tidak selalu harus datang dari jalur formal. Kedua, ia membuktikan bahwa agama dan sastra bukan dua dunia yang terpisah keduanya bisa saling memperkaya. Ketiga, ia menunjukkan bahwa berdakwah bisa dilakukan dengan berbagai cara: melalui mimbar, melalui tulisan, dan melalui karya sastra.
Yang paling penting, Hamka meletakkan dasar bahwa Islam dan kebangsaan bukan dua hal yang bertentangan. Ia adalah bukti hidup bahwa seorang Muslim bisa sekaligus menjadi nasionalis sejati. Pemikirannya tentang nasionalisme dalam pendidikan Islam, misalnya, telah diimplementasikan dalam kurikulum Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar yang didirikannya.
Penutup
"Kalau perahunya telah dikayuh ke tengah, dia tak boleh surut pulang. Meskipun bagaimana besar gelombang, biarkan kemudi patah, biarpun layar robek, itu lebih mulia daripada membalik haluan pulang."
Kutipan ini, yang sering dikaitkan dengan Buya Hamka, merangkum semangat hidupnya. Ia tidak pernah surut dari perjuangan, tidak pernah kompromi dengan prinsip yang diyakini benar, dan tidak pernah berhenti berkarya hingga akhir hayatnya.
Buya Hamka adalah bukti bahwa seorang ulama bisa menjadi sastrawan, seorang pemikir bisa menjadi pejuang, dan seorang individu bisa menginspirasi jutaan orang tanpa pernah kehilangan jati dirinya. Namanya mungkin telah tiada, tetapi karyanya akan terus dibaca, pemikirannya akan terus dikaji, dan teladannya akan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
