Ulama Tafsir (Mufassir) Masa Daulah Abbasiyah
Ulama Tafsir (Mufassir) pada masa Daulah Abbasiyah merupakan bagian penting dalam perkembangan khazanah keilmuan Islam. Pada masa ini, kajian terhadap Al-Qur’an berkembang pesat seiring dengan tumbuhnya tradisi keilmuan, penerjemahan karya-karya ilmiah, serta berdirinya berbagai pusat pendidikan dan perpustakaan. Para mufassir berusaha menjelaskan makna ayat-ayat Al-Qur’an dengan pendekatan yang beragam, mulai dari riwayat hadis dan perkataan sahabat hingga analisis bahasa Arab, fikih, teologi, dan ilmu-ilmu lainnya.
Di antara tokoh penting yang dikenal dalam perkembangan tafsir pada masa ini adalah Imam ath-Thabari, yang melalui karya monumentalnya Jami‘ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an memberikan kontribusi besar terhadap tradisi tafsir bil-ma’tsur dan menjadi salah satu rujukan utama dalam kajian tafsir sepanjang sejarah Islam.
Perkembangan tafsir pada masa Abbasiyah tidak hanya menghasilkan karya-karya monumental, tetapi juga membentuk metodologi penafsiran yang terus memengaruhi ulama generasi berikutnya. Para mufassir pada periode ini memperkaya pemahaman terhadap Al-Qur’an dengan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu, seperti ilmu bahasa, qira’at, hadis, fikih, dan ilmu kalam.
1. Imam Ibnu Jarir At-Thabari
Nama lengkapnya Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib Al-Amali At-Tabari, lebih dikenal sebagai Ibnu Jarir atau At-Tabari. Lahir di daerah Amol, Tabaristan (sebelah selatan Laut Kaspia) pada tahun 838 M. Hidup dan tumbuh di lingkungan keluarga berada dan perhatian penuh terhadap pendidikan, terutama bidang keagamaan.
2. Imam Ibnu Katsir
Nama lengkapnya, Imaduddin Isma’il bin Umar bin Katsir Al-Qurasyi Al Bushrawi, dilahirkan di Mijdal, sebuah tempat di kota Bashrah pada tahun 701 H/1302 M). Ayahnya, seorang khatib dan meninggal ketika Ibnu Katsir baru berusia empat tahun. Selanjuntnya, diasuh dan dididik oleh kakaknya, Syaikh Abdul Wahhab. Pada usia lima tahun diajak pindah ke Damsyik, negeri Syam pada tahun 706 H. Beberapa karyanya yang terkenal adalah:
Perkembangan tafsir pada masa Abbasiyah tidak hanya menghasilkan karya-karya monumental, tetapi juga membentuk metodologi penafsiran yang terus memengaruhi ulama generasi berikutnya. Para mufassir pada periode ini memperkaya pemahaman terhadap Al-Qur’an dengan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu, seperti ilmu bahasa, qira’at, hadis, fikih, dan ilmu kalam.
Warisan intelektual tersebut menunjukkan bahwa masa Daulah Abbasiyah merupakan salah satu periode penting dalam sejarah perkembangan tafsir Al-Qur’an. Mempelajari para ulama tafsir pada masa ini memberikan gambaran tentang ketekunan para ilmuwan Muslim dalam menggali pesan Al-Qur’an sekaligus memperlihatkan besarnya kontribusi peradaban Islam terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Pada masa Daulah Abbasiyah, ilmu tafsir mengalami perkembangan sangat pesat, di masa Daulah Abbasiyah bermunculan karya-karya di bidang tafsir yang dapat dipelajari untuk generasi berikutnya. Pada masa itu metode tafsir mengacu pada dua cara:
Pada masa Daulah Abbasiyah, ilmu tafsir mengalami perkembangan sangat pesat, di masa Daulah Abbasiyah bermunculan karya-karya di bidang tafsir yang dapat dipelajari untuk generasi berikutnya. Pada masa itu metode tafsir mengacu pada dua cara:
a. Cara tradisional atau Tafsir bil Ma’sur yaitu cara menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan fatwa para sahabat Nabi Saw.
b. Cara Rasional atau Tafsir bir Ra’yi yaitu penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an dengan rasio atau akal.
b. Cara Rasional atau Tafsir bir Ra’yi yaitu penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an dengan rasio atau akal.
1. Imam Ibnu Jarir At-Thabari
Nama lengkapnya Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib Al-Amali At-Tabari, lebih dikenal sebagai Ibnu Jarir atau At-Tabari. Lahir di daerah Amol, Tabaristan (sebelah selatan Laut Kaspia) pada tahun 838 M. Hidup dan tumbuh di lingkungan keluarga berada dan perhatian penuh terhadap pendidikan, terutama bidang keagamaan.
Pada masanya, perkembangan kebudayaan Islam di bidang ilmu pengetahuan sedang mengalami kejayaan dan kemajuannya. Kondisi ini semakin mengembangkan kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan. Kegiatan menghafal Al-Qur’an dimulainya sejak usia 7 tahun, dan melakukan pencatatan hadis dimulai sejak usia 9 tahun. Semangatnya luar biasa dalam menuntut ilmu sekaligus juga semangat untuk melakukan ibadah. Pada usia 8 tahun, memperoleh kepercayaan menjadi imam salat.
Ia melakukan perjalanan keilmuan ke kota Ray, Baghdad, Suriah dan juga di Mesir. Ke Rayy berguru kepada al-Razi, di bidang Hadist kepada Al-Musanna bin Ibrahim al-Ibili. Ke Baghdad ingin berguru kepada Ahmad bin Hanbal, sayang sesampainya disana ternyata telah wafat. Kemudian menuju dua kota besar di selatan Baghdad, yakni Basrah dan Kufah.
Di Basrah berguru kepada Muhammad bin’Abd Al-A’la Al-San’ani (w. 245 H/ 859 M), Muhammad bin Musa Al-Harasi (w. 248 H/ 862 M) dan Abu Al-‘As’as Ahmad bin Al-Miqdam (w. 253 H/ 857 M), dan Abu Al-Jawza’ Ahmad bin ‘Usman (w. 246 H/ 860 M). Khusus di bidang tafsir ia berguru kepada seorang Basrah Humayd bin Mas’adah dan Bisr bin Mu’az Al-‘Aqadi (w.akhir 245 H/ 859-860 M), meski sebelumnya pernah banyak menyerap pengetahuan tafsir dari seorang Kufah Hannad bin Al-Sari (w. 243 H/ 857 M).
Setelah beberapa waktu di dua kota tersebut, kemudian kembali ke Baghdad dan menetap untuk waktu yang lama. Ia memusatkan perhatian pada qira’ah (cara baca) dan fiqh dengan bimbingan guru, seperti Ahmad bin Yusuf Al-Sa’labi, Al Hasan Ibnu Muhammad Al-Sabbah Al-Za’farani dan Abi Sa’id al-Astakhari.
Kemudian, melakukan perjalanan keilmuan lagi ke berbagai kota untuk mendalami gramatika, sastra dan qira’ah. Hamzah dan Warasy termasuk orang-orang yang memberikan kontribusi ilmunya kepada At-Tabari. Keduanya tidak saja dikenal di Baghdad, tetapi juga di Mesir, Syam, Fustat, dan Beirut. Dorongan kuat untuk menulis kitab tafsir diberikan oleh salah seorang gurunya Sufyan Ibnu ‘Uyainah dan Waqi’ Ibnu Al-Jarrah, Syu’bah bin Al- Hajjaj, Yazid bin Harun dan ‘Abd Ibnu Hamid.
At-Tabari banyak menulis kitab berkaitan dengan berbagai bidang ilmu, seperti ilmu Tafsir, Ilmu Sejarah, Hadist, hukum, teolgi, etika, dan lain-lain. Di antara karyanya yang terkenal adalah Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk (Sejarah Para Rasul dan Raja), atau lebih dikenal sebagai Tarikh at-Tabari. Kitab ini berisi sejarah dunia hingga tahun 915, dan terkenal karena keakuratannya dalam menuliskan berbaga peristiwa dalam sejarah Arab dan Muslim.
Karya lainnya yang juga terkenal berupa tafsir Quran bernama Tafsir Al Tabari, yang sering digunakan sebagai sumber oleh pemikir muslim lainnya, seperti Baghawi, As-Suyuthi dan juga Ibnu Katsir. At-Tabari wafat pada hari Senin, 27 Syawal 310 H bertepatan dengan 17 Pebruari 923 M dalam usia 85 tahun.
2. Imam Ibnu Katsir
Nama lengkapnya, Imaduddin Isma’il bin Umar bin Katsir Al-Qurasyi Al Bushrawi, dilahirkan di Mijdal, sebuah tempat di kota Bashrah pada tahun 701 H/1302 M). Ayahnya, seorang khatib dan meninggal ketika Ibnu Katsir baru berusia empat tahun. Selanjuntnya, diasuh dan dididik oleh kakaknya, Syaikh Abdul Wahhab. Pada usia lima tahun diajak pindah ke Damsyik, negeri Syam pada tahun 706 H. Beberapa karyanya yang terkenal adalah:
1. Tafsir al-Qur-an, kitab tafsir dengan riwayat, telah diterbitkan berulang kali dan telah diringkas oleh banyak ulama.
2. Al-Bidaayah wan Nihayah, terdiri dari 14 jilid, berisi kisah-kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu, sirah Nabawiyah, sejarah Islam.
3. At-Takmiil fi Ma’rifatis Siqat wa Dhu’afa wal Majaahil. Di dalamnya terangkum dua kitab dari tulisan guru beliau, yaitu al-Mi zzi dan adz Dzahabi(Tahdzibul Kamal fi Asma Rijal) dan (Liizan I’tidal fii Naqdir Rijal) dengan disertai beberapa tambahan yang bermanfaat dalam masalah al jarh wat ta’dil.
4. Jami’ al-Masanid, berisi Musnad Imam bin Hanbal, A|-Bazzar, Abu Ya’la Al-Mushili, Ibnu Abi Syaibah, beserta Kutubus Sittah. Disusun berdasarkan bab-bab fiqih.
5. Thabaqaat asy-Syafi’iyyah, berisi biografi Imam Asy-Syafi’i.
6. Sirah Nabawiah, berisi sejarah Nabi Muhammad saw. Dan lain-lain. Menurut Al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani, Ibnu Katsir hilang penglihatan di akhir hayatnya dan wafat di Damaskus, Syam pada tahun 77 4 H/ 1373 M.
