Kemajuan Peradaban Islam Masa Daulah Ayyubiyah
Kemajuan peradaban Islam pada masa Daulah Ayyubiyah (1171–1260 M) ditandai dengan berkembangnya berbagai bidang kehidupan, terutama pendidikan, ilmu pengetahuan, arsitektur, dan kebudayaan. Pada masa pemerintahan Salahuddin al-Ayyubi dan para penerusnya, pembangunan lembaga pendidikan seperti madrasah mengalami kemajuan pesat. Madrasah digunakan sebagai pusat pembelajaran ilmu agama, bahasa, sejarah, serta berbagai ilmu pengetahuan.
Selain itu, pembangunan masjid, benteng, rumah sakit, dan fasilitas umum semakin berkembang. Kota-kota seperti Kairo, Damaskus, dan Aleppo menjadi pusat kegiatan intelektual dan kebudayaan yang penting di dunia Islam.
Dalam bidang sosial dan politik, Daulah Ayyubiyah berhasil memperkuat persatuan umat Islam serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan berbagai sarana umum. Salahuddin al-Ayyubi juga dikenal karena sikap toleran dan kebijaksanaannya dalam menghadapi masyarakat yang berbeda agama. Kemajuan arsitektur terlihat dari pembangunan benteng-benteng pertahanan, masjid, dan madrasah dengan gaya khas Islam. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa masa Daulah Ayyubiyah tidak hanya dikenal karena perjuangan mempertahankan wilayah Islam, tetapi juga sebagai periode penting dalam perkembangan pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan peradaban Islam.
1. Proses Berdirinya Daulah Ayyubiyah
Dalam bidang sosial dan politik, Daulah Ayyubiyah berhasil memperkuat persatuan umat Islam serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan berbagai sarana umum. Salahuddin al-Ayyubi juga dikenal karena sikap toleran dan kebijaksanaannya dalam menghadapi masyarakat yang berbeda agama. Kemajuan arsitektur terlihat dari pembangunan benteng-benteng pertahanan, masjid, dan madrasah dengan gaya khas Islam. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa masa Daulah Ayyubiyah tidak hanya dikenal karena perjuangan mempertahankan wilayah Islam, tetapi juga sebagai periode penting dalam perkembangan pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan peradaban Islam.
1. Proses Berdirinya Daulah Ayyubiyah
Daulah Ayyubiyah adalah sebuah dinasti sunni yang berkuasa di Mesir, Suriah, sebagian Yaman, Irak, Mekah, Hejaz dan Dyarbakir. Dinasti Ayyubiyah didirikan oleh Shalahuddīn al-Ayyubi. Penamaan al-Ayyubiyah dinisbatkan kepada nama belakangnya Al-Ayyubi, diambil dari nama kakeknya yang bernama Ayyub. Nama besar dinasti ini diperoleh sejak Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi berhasil mendirikan kesultanan yang bermazhab Sunni, menggantikan kesultanan Fathimiyah yang bermazhab Syi’ah.
Dalam perkembangannya tercatat bahwa dinasti di Mesir yang paling berpengaruh dalam membangun kejayaan Islam salah satunya adalah Daulah Ayyubiyah yang didirikan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi mengukir kejayaan Islam pada masanya.
a. Keruntuhan Daulah Abbasiyah
Daulah Abbasiyah yang pernah mencapai puncak kejayaan dalam sejarah peradaban Islam, mulai menampakkan kemunduran pada periode kedua kekhalifahannya. Kelemahan bidang politik dan pemerintahan menjadi salah satu penyebab utama dari keruntuhan Daulah Abbasiyah. Hal ini disebabkan karena periode kedua pemerintahan Daulah Abbasiyah tidak mandiri dalam bidang politik dan pemerintahan.
Lemahnya pemerintahan Daulah Abbasiyah ini dimanfaatkan oleh daulah daulah kecil untuk melepaskan diri dari kekuasaan Abbasiyah. Antara lain : 1. Daulah Idrisiyah di Maroko (172-311 H/788-932 M) 2. Daulah Aghlabiyah di Tunisia (184-296 H/800-909 M) 3. Dulah Thuluniyah (254-292 H/868-905 M) 4. Daulah Ikhsidiyah (323-358 H/935-969 M) 5. Daulah Hamdaniyah (293-394 H/905-1004 M) 6. Daulah Thahiriyah (205-259 H/821-873 M)
b. Berdirinya Daulah Fathimiyah (297-567 H/909-1171 M)
c. Proses Terbentuknya Daulah Ayyubiyah
a. Kemajuan Bidang Pendidikan
Pemerintahan Daulah Ayyubiyah telah berhasil menjadikan Damaskus sebagai kota pendidikan. Damaskus, ibu kota Suriah, masih menyimpan bukti yang menunjukkan jejak arsitektur dan pendidikan yang dikembangkan para penguasa Daulah Ayyubiyah tersebut. Mereka tidak hanya merenovasi dinding-dinding pertahanan kota, menambahkan beberapa pintu gerbang dan menara, serta membangun gedung-gedung pemerintahan yang masih bisa digunakan hingga kini, tetapi juga mendirikan madrasah sebagai sekolah pertama di Damaskus yang difokuskan untuk pengembangan ilmu hadist.
Madrasah yang didirikan Nuruddin di Aleppo (Halb), Emessa, Hamah dan Ba’labak mengikuti madzhab Syafi’i. Pembangunan dan pengadaan fasilitas kesehatan untuk rakyat berupa Rumah sakit terus menerus mengalami pembenahan. Rumah Sakit Al-Nuri ini, menjadi rumah sakit kedua di Damaskus setelah rumah sakit al-walid dan ditambah fungsinya tidak hanya sebagai tempat pengobatan, juga sebagai sekolah kedokteran.
b. Bidang Ekonomi dan Perdagangan
Dalam hal perekonomian pemerintahan Daulah Ayyubiyah bekerja sama dengan penguasa muslim di wilayah lain, membangun perdagangan dengan kota-kota di laut Tengah, lautan Hindia dan menyempurnakan sistim perpajakan. Hubungan internasional dalam perdagangan baik jalur laut maupun jalur darat semakin ramai dan membawa pengaruh bagi negara Eropa dan negara-negara yang dikuasainya.
d. Militer dan Sistem Pertahanan
Pada masa pemerintahan Shalahuddin, kekuatan militernya terkenal sangat tangguh. Pasukannya diperkuat oleh pasukan Barbar, Turki dan Afrika. Selain juga memiliki alat-alat perang, pasukan berkuda, pedang dan panah dinasti ini juga memiliki burung elang sebagai kepala burung-burung dalam peperangan.
Shalahuddin juga membuat bangunan monumental berupa tembok kota di Kairo dan Muqattam yaitu benteng Qal’al Jabal atau lebih dikenal dengan sebutan benteng Shalahuddin Al-Ayyubi, yang sampai hari ini masih berdiri dengan megahnya. Benteng ini terletak bersebelahan Bukit Muqattam dan berhampiran dengan Medan Sayyidah Aisyah. Ide membuat benteng ini hasil pemikirannya sendiri yang direalisasikan pada tahun 1183M.
Untuk memasuki benteng, terdapat beberapa pintu utama diantaranya pintu Fath, pintu Nasr, pintu Khalk dan pintu Luq. Kemudian terdapat saluan air berasal dari sungai Nil, yang pada masa itu menjadi bekal minum para tentara. Pada zaman kerajaan Usmaniyyah benteng ini mengalami perluasan. Di bahagian utara benteng terletak Masjid Mohammad Ali Pasha yang terbuat dari marmer dan granit.
e. Bidang Pertanian
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Mesir dan daerah lainnya pada sektor pertanian, Daulah Ayyubiyah telah menggunakan sistem irigasi, pembangunan waduk dan bendungan serta terusan untuk mengairi kebun dan pertanian. Para petanian merasakan manfaat dari fungsi irigasi, waduk, dan terusan yang dibangun ini.
Dalam perkembangannya tercatat bahwa dinasti di Mesir yang paling berpengaruh dalam membangun kejayaan Islam salah satunya adalah Daulah Ayyubiyah yang didirikan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi mengukir kejayaan Islam pada masanya.
a. Keruntuhan Daulah Abbasiyah
Daulah Abbasiyah yang pernah mencapai puncak kejayaan dalam sejarah peradaban Islam, mulai menampakkan kemunduran pada periode kedua kekhalifahannya. Kelemahan bidang politik dan pemerintahan menjadi salah satu penyebab utama dari keruntuhan Daulah Abbasiyah. Hal ini disebabkan karena periode kedua pemerintahan Daulah Abbasiyah tidak mandiri dalam bidang politik dan pemerintahan.
Lemahnya pemerintahan Daulah Abbasiyah ini dimanfaatkan oleh daulah daulah kecil untuk melepaskan diri dari kekuasaan Abbasiyah. Antara lain : 1. Daulah Idrisiyah di Maroko (172-311 H/788-932 M) 2. Daulah Aghlabiyah di Tunisia (184-296 H/800-909 M) 3. Dulah Thuluniyah (254-292 H/868-905 M) 4. Daulah Ikhsidiyah (323-358 H/935-969 M) 5. Daulah Hamdaniyah (293-394 H/905-1004 M) 6. Daulah Thahiriyah (205-259 H/821-873 M)
b. Berdirinya Daulah Fathimiyah (297-567 H/909-1171 M)
Daulah Fathimiyyah adalah satu-satunya daulah Syiah dalam Islam, nama daulah ini dinisbatkan kepada putri Nabi Muhammad Saw, Fathimah Az-Zahra. Didirikan oleh Said ibn Husain yang merupakan keturunan Syi’ah Ismailiyah. Gerakan pendirian Daulah Fathimiyah tidak terlepas dari peran serta seorang pengikut Syi’ah bernama Abu Abdillah Asya’si.
Setelah kaum Alawiyyin mampu menaklukan Daulah Aghlabiyah di Tunisia, berdirilah Daulah Fathimiyah dengan khalifah pertama Ubaidillah al Mahdi dengan ibukota pemerintahannya kota Qairawan, Tunisia. Pada tahun 358 H/969 M, panglima tentara Daulah Fathimiyah bernama Jauhar As-Siqli mampu merebut Mesir dari kekuasaan Daulah Ikhsyidiyah.
Setelah menguasai Mesir, panglima Jauhar As-Siqli membangun sebuah kota yang megah bernama Al-Qahirah (Kairo). Sejak saat itu Daulah Fathimiyah memindahkan ibu kotanya ke Kairo, Mesir. Secara keseluruhan Daulah Fathimiyyah berkuasa selama 262 tahun dengan khalifah pertamanya Ubaidillah Al-Mahdi dan khalifah terakhirnya Al-Adid Billah.
Daulah Fathimiyah mencapai puncak kejayaannya pada saat khalifah kelima yaitu Khalifah Abu Manshur Nizar Al-Aziz (975-996 M) berkuasa. Di bawah kekuasaanya Mesir hidup dalam kedamaian, dan pada masa Khalifah Al-Muiz Lidinillah Masjid Al-Azhar yang kemudian hari menjadi Universitas Al-Azhar dibangun.
c. Proses Terbentuknya Daulah Ayyubiyah
Daulah Fathimiyah saat dipimpin oleh khalifah terakhinya bernama Khalifah Al-Adid Billah (1160-1171 M) mengalami kemunduran dan kondisi pemerintahan yang lemah. Selain karena musim peceklik, adanya penyerbuan tentara salib ke Mesir, dan konflik internal pemerintahan Daulah Fathimiyah.
Dalam kondisi Mesir seperti itu, seorang panglima bernama Assaduddin Syirkuh bersama saudaranya Shalahuddin Al-Ayyubi ditugaskan oleh gubernur Syiria, Nuruddin Zangi untuk datang ke Mesir dengan tujuan mengusir tentara salib sekaligus menguasai Mesir.
Rupanya proses ini tidak berjalan mulus, seorang perdana menteri Daulah Fathimiyah bernama Syawwar, telah melakukan persengkongkolan dengan tentara salib. Akhirnya, panglima Assaduddin Syirkuh dan Shalahuddin Al Ayyubi menagkap perdana menteri Syawwar. Kemudian, kedudukan Syawwar digantikan oleh Assaduddin Syirkuh yang kemudian wafat setelah menjabat sebagai perdana menteri selama dua bulan. Salahuddin Al-Ayyubi akhirnya didapuk menjadi perdana menteri menggatikan Assaduddin Syirkuh.
Saat Khalifah Al-Adid Billah sakit, kedudukan Salahuddin Al-Ayyubi semakin kuat. Shalahuddin Al-Ayyubi mendapat dukungan penuh dari rakyat Mesir, apalagi Shalahuddin Al-Ayyubi dan rakyat Mesir sama-sama memiliki faham Islam Sunni. Bertepatan dengan wafatnya Khalifah Al-Adid Billah pada 10 Muharram 1171 M, Salahuddin Al-Ayyubi memproklamirkan berdirinya Daulah Ayyubiyah dan berkahirnya pemerintahan Daulah Fathimiyah.
2. Peradaban Islam Masa Daulah Ayyubiyah
2. Peradaban Islam Masa Daulah Ayyubiyah
a. Kemajuan Bidang Pendidikan
Pemerintahan Daulah Ayyubiyah telah berhasil menjadikan Damaskus sebagai kota pendidikan. Damaskus, ibu kota Suriah, masih menyimpan bukti yang menunjukkan jejak arsitektur dan pendidikan yang dikembangkan para penguasa Daulah Ayyubiyah tersebut. Mereka tidak hanya merenovasi dinding-dinding pertahanan kota, menambahkan beberapa pintu gerbang dan menara, serta membangun gedung-gedung pemerintahan yang masih bisa digunakan hingga kini, tetapi juga mendirikan madrasah sebagai sekolah pertama di Damaskus yang difokuskan untuk pengembangan ilmu hadist.
Madrasah ini terus berkembang dan menyebar ke seluruh pelosok Suriah. Madrasah yang dibangun merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masjid atau sebagai sekolah masjid. Lembaga pendidikan ini secara formal menerima murid murid dan mengikuti model madrasah yang dikembangkan pada masa Nizhamiyah.
Madrasah yang didirikan Nuruddin di Aleppo (Halb), Emessa, Hamah dan Ba’labak mengikuti madzhab Syafi’i. Pembangunan dan pengadaan fasilitas kesehatan untuk rakyat berupa Rumah sakit terus menerus mengalami pembenahan. Rumah Sakit Al-Nuri ini, menjadi rumah sakit kedua di Damaskus setelah rumah sakit al-walid dan ditambah fungsinya tidak hanya sebagai tempat pengobatan, juga sebagai sekolah kedokteran.
Pada bangunan monumen-monumen, penguasa Daulah Ayyubiyah menorehkan seni menulis indah. Prasasti-prasasti yang ditulisnya menjadi daya tarik para ahli paleografi (ilmu tulisan kuno) Arab. Sejak saat itu diperkirakan seni kaligrafi (khat) Arab gaya Kufi muncul dan berkembang. Kaligrafi gaya Kufi kemudian diperbaharui dan melahirkan gaya kaligrafi Naskhi. Salah satu prasasti yang sampai saat ini masih bisa dilihat dan dibaca terdapat di menara benteng Aleppo.
Disebutkan dalam catatan orang Suriah dan Hittiyah, benteng pertahanan tersebut merupakan mahakarya arsitektural Arab kuno dan terus ada berkat jasa pemeliharaan dan renovasi. Pengembangan masjid sebagai lembaga pendidikan atau sekolah masjid, juga sebagai mausoleum menunjukkan pada masa Daulah Ayyubiyah terbangun konsep multifungsi yang berhubungan dengan masjid di Suriah.
Bahkan pada pemerintahan selanjutnya, setelah Daulah Ayyubiah, yaitu masa pemerintahan Daulah Mamluk, melahirkan satu tradisi baru, yaitu menguburkan para pendiri sekolah masjid di bawah kubah bangunan yang mereka dirikan. Selanjutnya, Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi juga mencurahkan perhatian pada bidang pendidikan dan aristektur. Ia memperkenalkan pendidikan Madrasah ke berbagai wilayah di bawah kekuasaannya, seperti ke Yerusalem, Mesir dan lain-lain.
Ibnu Jubayr menyebutkan ada beberapa juga madrasah di kota Iskandariah. Di antara madrasah terkemuka dan terbesar berada di Kairo dan memakai namanya sendiri, yaitu Madrasah al-Shalahiyah. Menurut sejarah Islam, jika Nizham al-Mulk adalah orang yang mula-mula mendirikan madrasah, yaitu Madarasah Nizhamiyah, maka setelah Madrasah Nizhamiah ini, madrasah terbesar adalah yang didirikan oleh Shalahuddin al- Ayyubi.
Sekarang, madrasah-madrasah tersebut tidak bisa ditemukan lagi, namun sisa sisa arsitekturalnya masih bisa dilihat. Pada tahun-tahun berikutnya, gaya arsitektur ini melahirkan beberapa monument Arab yang indah di Mesir. Salah satunya yang terindah dan menjadi model terbaik adalah Madrasah Sultan Hasan di Kairo.
Di samping mendirikan sejumlah madrasah, Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi juga membangun dua rumah sakit di Kairo. Bangunan kedua rumah sakit itu dirancang mengikuti model rumah sakit Nuriyah di Damaskus, yakni selain sebagai tempat pengobatan, sekaligus sebagai sekolah kedokteran. Salah seorang dokter terkenal yang juga menjadi dokter pribadi Shalahuddin adalah Ibnu Maymun, beragama Yahudi.
b. Bidang Ekonomi dan Perdagangan
Dalam hal perekonomian pemerintahan Daulah Ayyubiyah bekerja sama dengan penguasa muslim di wilayah lain, membangun perdagangan dengan kota-kota di laut Tengah, lautan Hindia dan menyempurnakan sistim perpajakan. Hubungan internasional dalam perdagangan baik jalur laut maupun jalur darat semakin ramai dan membawa pengaruh bagi negara Eropa dan negara-negara yang dikuasainya.
Sejak saat itu dunia ekonomi dan perdagangan sudah menggunakan sistem kredit, bank termasuk Letter of Credit, bahkan ketika itu sudah ada mata uang yang terbuat dari emas. Selain itu, dimulai percetakan mata uang dirham campuran (fulus). Percetakan fulus yang merupakan mata uang dari tembaga dimulai pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Al-Kamil ibn Al Adil Al-Ayyubi, percetakan uang fulus tersebut dimaksudkan sebagai alat tukar terhadap barang-barang yang tidak signifikan denga rasio 48 fulus untuk setiap dirhamnya.
Dalam bidang industri pada masa Ayyubiyah, sudah mengenal kemajuan di bidang industri dengan dibuatnya kincir oleh seorang Syiria yang lebih canggih dibanding buatan orang Barat. Juga sudah ada pabrik karpet, pabrik kain dan pabrik gelas.
d. Militer dan Sistem Pertahanan
Pada masa pemerintahan Shalahuddin, kekuatan militernya terkenal sangat tangguh. Pasukannya diperkuat oleh pasukan Barbar, Turki dan Afrika. Selain juga memiliki alat-alat perang, pasukan berkuda, pedang dan panah dinasti ini juga memiliki burung elang sebagai kepala burung-burung dalam peperangan.
Shalahuddin juga membuat bangunan monumental berupa tembok kota di Kairo dan Muqattam yaitu benteng Qal’al Jabal atau lebih dikenal dengan sebutan benteng Shalahuddin Al-Ayyubi, yang sampai hari ini masih berdiri dengan megahnya. Benteng ini terletak bersebelahan Bukit Muqattam dan berhampiran dengan Medan Sayyidah Aisyah. Ide membuat benteng ini hasil pemikirannya sendiri yang direalisasikan pada tahun 1183M.
Shalahuddin melihat bahwa Kota Kaherah begitu luas dan besar, dan membutuhkan sistem pertahanan benteng yang kokoh sebagaimana di Halab dan Syria. Shalahuddin al-Ayubi memerintahkan agar bahan batu yang digunakan untuk membangun pondasi benteng tersebut diambil dari batu-batu yang terdapat di Piramid di Giza. Benteng ini dikelilingi pagar yang tinggi dan kokoh.
Untuk memasuki benteng, terdapat beberapa pintu utama diantaranya pintu Fath, pintu Nasr, pintu Khalk dan pintu Luq. Kemudian terdapat saluan air berasal dari sungai Nil, yang pada masa itu menjadi bekal minum para tentara. Pada zaman kerajaan Usmaniyyah benteng ini mengalami perluasan. Di bahagian utara benteng terletak Masjid Mohammad Ali Pasha yang terbuat dari marmer dan granit.
Terdapat juga di dalam kawasan benteng ini Muzium Polis, Qasrul Jawhara (Muzium Permata) yang menyimpan perhiasan raja-raja Mesir. Terdapat juga Mathaf al-Fan al-Islami (Muzium Kesenian Islam) yang terletak di bab (pintu) Khalk yang menyimpan ribuan barang yang melambangkan kesenian Islam semenjak zaman Nabi Muhammad Saw, termasuk diantaranya surat Rasulullah Saw untuk penguasa Mesir saat itu bernama Maqauqis, agar beriman kepada Allah Swt.
e. Bidang Pertanian
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Mesir dan daerah lainnya pada sektor pertanian, Daulah Ayyubiyah telah menggunakan sistem irigasi, pembangunan waduk dan bendungan serta terusan untuk mengairi kebun dan pertanian. Para petanian merasakan manfaat dari fungsi irigasi, waduk, dan terusan yang dibangun ini.
Salah satu hasilnya produk panen berlimpah seperti, kurma, gula, dan gandum. Shalahuddin Al-Ayyubi memulai karir politiknya ketika ia masih muda. Ketika itu Sang Ayah yang bernama Najmuddin bin Ayyub menjabat sebagai komandan pasukan di kota Ba’labak (sebelah utara Suriah). Najmuddin bin Ayyub ditunjuk menjadi komandan oleh gubernur Nuruddin Zangi.
