Shalat Istisqa: Pengertian, Tata Cara, Niat, Doa, dan Keutamaannya

Shalat Istisqa merupakan salah satu ibadah yang dilakukan umat Islam ketika mengalami kekeringan atau membutuhkan turunnya hujan. Istisqa berarti memohon hujan kepada Allah SWT. Ibadah ini menjadi bentuk pengakuan bahwa hujan dan seluruh rezeki yang ada di bumi pada hakikatnya merupakan karunia dan kehendak Allah SWT.


Ketika hujan tidak kunjung turun dan terjadi kekeringan, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak doa, istighfar, sedekah, serta melakukan shalat Istisqa. Pelaksanaan shalat ini juga mengajarkan manusia untuk kembali mendekatkan diri kepada Allah, memohon ampun atas dosa dan kesalahan, serta menyadari keterbatasan manusia di hadapan Sang Pencipta.

Pengertian Shalat Istisqa

Secara bahasa, istisqa (الاستسقاء) berarti meminta atau memohon air, khususnya memohon turunnya hujan. Sedangkan secara istilah, shalat Istisqa adalah shalat sunnah yang dikerjakan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan ketika terjadi kekeringan atau hujan tidak kunjung turun. Shalat Istisqa termasuk sunnah muakkadah, yaitu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan.

Pelaksanaannya didasarkan pada tuntunan Rasulullah ﷺ yang pernah melakukan shalat Istisqa dan berdoa kepada Allah agar diberikan hujan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ ١٠ يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ ١١

Artinya : “Maka aku berkata kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.”(Qs. Nuh: 10–11)

Ayat tersebut menunjukkan pentingnya istighfar sebagai salah satu bentuk ikhtiar untuk memohon rahmat dan pertolongan Allah SWT.

Dalil tentang Shalat Istisqa

Pelaksanaan shalat Istisqa memiliki dasar dari hadis Rasulullah ﷺ. Salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Zaid radhiyallahu 'anhu. Ia menceritakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ keluar menuju tempat shalat, kemudian beliau menghadap kiblat, membalik selendangnya, lalu melaksanakan shalat dua rakaat.

Hadis tersebut menjadi salah satu dasar bahwa shalat Istisqa dilakukan dengan dua rakaat, disertai doa memohon turunnya hujan kepada Allah SWT.

Dalam pelaksanaannya, Rasulullah ﷺ juga memperbanyak doa dan memohon ampun kepada Allah. Hal ini menunjukkan bahwa istisqa bukan sekadar kegiatan meminta hujan, tetapi juga momentum untuk melakukan introspeksi dan meningkatkan ketakwaan.

Hukum Shalat Istisqa

Syekh Taqiyuddin al-Hisni (wafat 829 H) menjelaskan bahwa shalat Istisqa hukumnya adalah sunnah muakkadah, yaitu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan.

الْإِسْتِسْقَاءُ طَلَبُ السُّقْيَا مِنَ اللهِ تَعَالَى عِنْدَ الْحَاجَةِ وَصَلَاتُهُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ

Artinya : “Istisqa adalah memohon turunnya hujan kepada Allah Ta‘ala ketika dibutuhkan. Adapun shalat istisqa hukumnya sunnah muakkadah.” (Taqiyuddin al-Hisni, Kifayah al-Akhyar [Beirut: Dar al-Fikr], vol. 1, h. 153)

Ibadah ini dapat dilakukan secara berjamaah di tempat terbuka, seperti lapangan atau tanah lapang. Sebelum melaksanakannya, umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh, seperti bertobat, beristighfar, bersedekah, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan meninggalkan perbuatan maksiat.

Tujuannya adalah agar manusia benar-benar menyadari bahwa mereka membutuhkan pertolongan dan rahmat Allah SWT.

Kapan Shalat Istisqa Dilaksanakan?

Shalat Istisqa dilaksanakan ketika terjadi kekeringan atau hujan tidak turun dalam waktu yang menyebabkan masyarakat mengalami kesulitan.

Hal tersebut lantaran shalat Istisqa termasuk shalat yang mempunyai sebab tertentu (dzatu sabab). Karena itu, pelaksanaannya mengikuti keberadaan sebab tersebut. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Syekh Nawawi al-Bantani berikut:

بل تصلى فِي أَي وَقت كَانَ من ليل أَو نَهَار لِأَنَّهَا ذَات سَبَب فدارت مَعَ سَببهَا

Artinya : “Shalat tersebut (Istisqa) boleh dilaksanakan kapan saja, baik pada malam maupun siang hari, karena shalat Istisqa termasuk shalat yang memiliki sebab. Karena itu, hukum pelaksanaannya mengikuti sebab yang melatarbelakanginya.” (Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani, Nihayah az-Zain fi Irsyad al-Mubtadiin [Beirut: Dar al-Fikr], h. 112)

Kekeringan dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan, seperti berkurangnya persediaan air, terganggunya pertanian, berkurangnya air untuk kebutuhan sehari-hari, serta munculnya berbagai kesulitan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.

Dalam kondisi tersebut, umat Islam dianjurkan untuk melakukan ikhtiar lahir dan batin. Ikhtiar lahir dapat berupa pengelolaan air dan lingkungan dengan baik, sedangkan ikhtiar batin dilakukan dengan doa, istighfar, sedekah, dan shalat Istisqa.

Persiapan Sebelum Shalat Istisqa

Sebelum melaksanakan shalat Istisqa, umat Islam dianjurkan untuk mempersiapkan diri dengan memperbanyak amal kebaikan. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:
1. Memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah
2. Bertaubat dari dosa dan kesalahan
3. Memperbanyak sedekah dan membantu orang yang membutuhkan
4. Memperbaiki hubungan dengan sesama manusia
5. Memperbanyak doa dan amal saleh
6. Meninggalkan perbuatan maksiat dan kezaliman
7. Menghadirkan rasa rendah hati dan penuh harap kepada Allah SWT.

Persiapan tersebut memiliki pesan penting bahwa seorang muslim tidak hanya meminta sesuatu kepada Allah, tetapi juga berusaha memperbaiki diri.

Tata Cara Shalat Istisqa

Secara umum, shalat Istisqa dilaksanakan sebanyak dua rakaat secara berjamaah. Tata caranya memiliki beberapa kemiripan dengan shalat Id, meskipun terdapat perbedaan dalam beberapa rincian menurut pendapat ulama dan mazhab.

Terkait hal itu, simak penjelasan Imam Ibn Qasim al-Ghazi (wafat 918 H) berikut:

وَيُصَلِّي بِهِمُ الْإِمَامُ أَوْ نَائِبُهُ رَكْعَتَيْنِ كَصَلَاةِ الْعِيْدَيْنِ فِيْ كَيْفِيَّتِهِمَا، مِنَ الْإِفْتِتَاحِ وَالتَّعَوُّذِ وَالتَّكْبِيْرِ سَبْعًا فِيْ الرَّكْعَةِ الْأُولَى، وَخَمْسًا فِيْ الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ بِرَفْعِ يَدَيْهِ ثُمَّ يَخْطُبُ نَدْبًا خُطْبَتَيْنِ كَخُطْبَتَيِ الْعِيْدَيْنِ فِيْ الْأَرْكَانِ وَغَيْرِهَا. لَكِنْ يَسْتَغْفِرُ اللهَ تَعَالَى فِيْ الْخُطْبَتَيْنِ بَدَلَ التَّكْبِيْرِ أَوَّلَهُمَا فِيْ خُطْبَتَيِ الْعِيْدَيْنِ فَيَفْتَتِحُ الْخُطْبَةَ الْأُوْلَى بِاالْإِسْتِغْفَارِ تِسْعًا وَالْخُطْبَةَ الثَّانِيَةَ سَبْعًا

Artinya : “Imam atau wakilnya memimpin jamaah melaksanakan dua rakaat shalat Istisqa dengan tata cara seperti shalat ’Id. Pada rakaat pertama, setelah takbiratul ihram dan doa iftitah, dilakukan tujuh kali takbir tambahan dengan mengangkat kedua tangan. Pada rakaat kedua dilakukan lima kali takbir tambahan dengan cara yang sama. Setelah itu, imam disunnahkan menyampaikan dua khutbah sebagaimana dua khutbah ’Id, baik dari segi rukun maupun ketentuan lainnya. Perbedaannya, pada khutbah Istisqa, takbir di awal khutbah diganti dengan istighfar kepada Allah Ta’ala. Khutbah pertama diawali dengan istighfar sebanyak sembilan kali, sedangkan khutbah kedua sebanyak tujuh kali.” (Muhammad bin Qasim al-Ghazi, Fath al-Qarib al-Mujib [Beirut: Dar al-Fikr], h. 106)

Berikut gambaran tata cara shalat Istisqa:

1. Berniat Shalat Istisqa

Niat dilakukan di dalam hati untuk melaksanakan shalat sunnah Istisqa karena Allah SWT.
Lafal niat yang umum diajarkan adalah:

أُصَلِّي سُنَّةَ الِاسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

Ushallī sunnatal-istisqā'i rak'ataini lillāhi ta'ālā.
Artinya: “Saya berniat shalat sunnah Istisqa dua rakaat karena Allah Ta'ala.”
Niat pada dasarnya adalah maksud dalam hati. Karena itu, yang terpenting adalah menghadirkan niat untuk melaksanakan shalat Istisqa karena Allah SWT.

2. Takbiratul Ihram

Imam memulai shalat dengan takbiratul ihram, kemudian membaca doa iftitah dan dilanjutkan dengan bacaan shalat sebagaimana biasanya. Dalam beberapa tuntunan, terdapat tambahan takbir pada rakaat pertama dan kedua, sebagaimana tata cara shalat Id. Rincian jumlah dan posisi takbir dapat berbeda berdasarkan pendapat fikih yang diikuti.

3. Membaca Al-Fatihah dan Surah

Setelah takbir dan bacaan yang sesuai tuntunan, imam membaca surah Al-Fatihah kemudian dilanjutkan dengan surah dari Al-Qur'an.

4. Rukuk dan Sujud

Selanjutnya shalat dilakukan seperti shalat pada umumnya, yaitu rukuk, bangkit dari rukuk, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua.

5. Rakaat Kedua

Pada rakaat kedua dilakukan takbir sesuai tata cara yang digunakan, kemudian membaca Al-Fatihah dan surah Al-Qur'an. Setelah itu dilanjutkan dengan rukuk, iktidal, sujud, duduk di antara dua sujud, sujud kedua, kemudian tahiyat akhir dan salam.

6. Khutbah dan Doa

Setelah shalat, imam menyampaikan khutbah dan memperbanyak doa kepada Allah SWT agar menurunkan hujan yang membawa manfaat. Dalam pelaksanaan shalat Istisqa, doa merupakan bagian yang sangat penting karena tujuan utama ibadah ini adalah memohon pertolongan Allah SWT.

Doa Shalat Istisqa

Salah satu doa yang masyhur untuk memohon hujan adalah:

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

Allahumma aghitsnā, Allahumma aghitsnā, Allahumma aghitsnā.
Artinya: “Ya Allah, berilah kami pertolongan dengan menurunkan hujan. Ya Allah, berilah kami pertolongan dengan menurunkan hujan. Ya Allah, berilah kami pertolongan dengan menurunkan hujan.”

Terdapat pula doa:

اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا مَرِيعًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ

Artinya secara umum: “Ya Allah, berilah kami hujan yang memberikan pertolongan, menyegarkan, menyuburkan, bermanfaat dan tidak membahayakan, yang segera dan tidak ditunda.”

Terdapat pula doa:

اللَّهُمَّ سُقْيَا رَحْمَةٍ وَلَا سُقْيَا عَذَابٍ وَلَا مَحْقٍ وَلَا بَلَاءٍ وَلَا هَدْمٍ. اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا هَنِيئًا مَرِيْئًا مَرِيْعًا غَدَقًا مُجَلِّلًا سَحًّا طَبَقًا دَائِمًا. اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ. اللَّهُمَّ إِنَّ بِالْعِبَادِ وَالْبِلَادِ مِنَ الْجُهْدِ وَالْجُوْعِ وَالضَّنْكِ مَا لَا نَشْكُوْ إِلَّا إِلَيْكَ. اللَّهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ وَأَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ وَاكْشِفْ عَنَّا مِنَ الْبَلَاءِ مَا لَا يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا

Artinya: “Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan sebagai rahmat, bukan hujan yang mendatangkan azab, kehancuran, bencana, ataupun kerusakan. Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang baik, menyegarkan, menyuburkan, lebat, merata, deras, melimpah, dan terus-menerus. Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan dan janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa. Ya Allah, sungguh para hamba dan negeri-negeri sedang mengalami kesulitan, kelaparan, dan kesempitan yang tidak kami adukan kecuali hanya kepada-Mu. Ya Allah, tumbuhkanlah tanaman bagi kami, limpahkanlah susu dari hewan ternak kami, turunkanlah kepada kami keberkahan dari langit, tumbuhkanlah untuk kami keberkahan dari bumi, dan singkirkanlah dari kami berbagai bencana yang tidak dapat disingkirkan oleh siapa pun selain Engkau. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon ampun kepada-Mu. Sungguh, Engkau Maha Pengampun. Maka turunkanlah kepada kami hujan dari langit dengan deras.”

Doa dapat disampaikan dengan penuh ketundukan dan harapan kepada Allah SWT.

7. Sunnah-sunnah Ketika Melaksanakan Shalat Istisqa

Dalam pelaksanaan shalat Istisqa, terdapat beberapa amalan yang dianjurkan berdasarkan tuntunan Nabi Muhammad ﷺ. Di antaranya adalah:

• Keluar menuju tempat shalat dengan penuh kerendahan hati
• Memperbanyak istighfar
• Memperbanyak doa
• Memperbanyak sedekah
• Bertobat kepada Allah SWT
• Menghindari kesombongan dan kemaksiatan
• Berdoa agar hujan yang turun menjadi hujan yang bermanfaat
• Tidak berlebihan dalam meminta hujan hingga menyebabkan mudarat.

Sebagaimana penjelasan Syekh Nawawi, dalam pelaksanaan shalat Istisqa utamanya pada sekitar sepertiga bagian khutbah kedua terdapat kesunnahan bagi khatib untuk menghadap kiblat, kemudian membalik dan memindahkan posisi selendang atau kain yang dikenakannya dari sisi kanan ke kiri atau sebaliknya. Amalan ini juga bisa dilakukan oleh jamaah laki-laki yang hadir, sedangkan jamaah perempuan tidak dianjurkan melakukannya.

Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nihayah az-Zain menjelaskan:

وَحِكْمَةُ التَّحْوِيْلِ التَّفَاؤُلُ بِتَغَيُّرِ الْحَالِ مِنْ شِدَّةٍ إِلَى رَخَاءٍ فَيُغَيِّرُوْنَ بَوَاطِنَهُمْ بِالتَّوْبَةِ وَظَوَاهِرَهُمْ بِتَحْوِيْلِ أَرْدِيَتِهِمْ وَتَنْكِيْسِهَا وَيُتْرَكُ الرِّدَاءُ مُحَوَّلًا مُنَكَّسًا حَتَّى تُنْزَعَ الثِّيَابُ

Artinya : “Hikmah dari membalik selendang adalah sebagai bentuk optimisme supaya keadaan berubah dari kesulitan menuju kelapangan. Karena itu, mereka mengubah keadaan batin dengan bertaubat, sementara secara lahiriah diwujudkan dengan membalik selendang. Selendang itu dibiarkan dalam keadaan demikian hingga pakaian dilepas.” (Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani, Nihayah az-Zain fi Irsyad al-Mubtadi’in [Beirut: Dar al-Fikr], h. 113)

Perbedaan Shalat Istisqa dan Shalat Id

Shalat Istisqa memiliki beberapa kemiripan dengan shalat Id karena sama-sama dapat dilakukan secara berjamaah di tempat terbuka dan memiliki khutbah. Namun, keduanya memiliki tujuan yang berbeda.

Shalat Id dilaksanakan berkaitan dengan hari raya Idul Fitri atau Idul Adha, sedangkan shalat Istisqa dilaksanakan untuk memohon turunnya hujan ketika terjadi kekeringan atau kebutuhan terhadap air. Perbedaan lainnya berkaitan dengan waktu pelaksanaan dan beberapa rincian tata cara yang dijelaskan dalam kitab-kitab fikih.

Hikmah dan Keutamaan Shalat Istisqa

1. Mengajarkan Ketergantungan kepada Allah

Manusia memiliki berbagai kemampuan untuk mengelola alam, tetapi tetap memiliki keterbatasan. Hujan adalah salah satu nikmat yang sangat penting bagi kehidupan. Melalui Istisqa, manusia diingatkan bahwa segala sesuatu pada akhirnya berada dalam kekuasaan Allah SWT.

2. Mengajarkan Pentingnya Istighfar

Kondisi kekeringan menjadi momentum untuk memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah. Istighfar bukan hanya dilakukan ketika mengalami kesulitan, tetapi merupakan amalan yang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan seorang muslim.

3. Meningkatkan Kepedulian Sosial

Shalat Istisqa juga mengingatkan umat Islam untuk memperhatikan orang-orang yang mengalami kesulitan. Ketika terjadi kekeringan, masyarakat yang kekurangan air dan bahan pangan dapat menjadi kelompok yang paling terdampak. Oleh karena itu, sedekah dan membantu sesama menjadi bagian penting dari upaya menghadapi kesulitan.

4. Menumbuhkan Kerendahan Hati

Istisqa dilakukan dengan penuh ketundukan dan pengharapan. Hal tersebut mengajarkan bahwa manusia tidak boleh sombong terhadap kemampuan yang dimilikinya.

5. Mengingatkan Pentingnya Menjaga Lingkungan

Kekeringan juga dapat berkaitan dengan kondisi lingkungan, perubahan pola cuaca, kerusakan hutan, dan penggunaan sumber daya air yang tidak bijaksana. Karena itu, selain berdoa, manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan, menghemat air, melindungi sumber mata air, dan tidak melakukan kerusakan di bumi.

Apakah Shalat Istisqa Hanya untuk Meminta Hujan?

Tujuan utama shalat Istisqa memang memohon turunnya hujan. Namun, makna ibadah ini lebih luas. Istisqa merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT ketika manusia berada dalam keadaan membutuhkan. Seorang muslim diajarkan untuk menggabungkan doa dan ikhtiar.

Artinya, umat Islam tetap dianjurkan berdoa kepada Allah sekaligus melakukan usaha nyata, seperti menghemat air, memperbaiki sistem pengairan, menjaga hutan dan daerah resapan, serta membantu masyarakat yang terdampak kekeringan.

Kesimpulan

Shalat Istisqa adalah shalat sunnah yang dilakukan untuk memohon turunnya hujan kepada Allah SWT ketika terjadi kekeringan atau masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan air. Shalat ini umumnya dilaksanakan dua rakaat secara berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan khutbah dan doa.

Lebih dari sekadar memohon hujan, shalat Istisqa mengandung banyak pelajaran penting. Ibadah ini mengajarkan manusia untuk memperbanyak istighfar, bertobat, bersedekah, membantu sesama, serta menyadari bahwa manusia sangat membutuhkan rahmat dan pertolongan Allah SWT.

Ketika melaksanakan Istisqa, seorang muslim hendaknya tidak hanya berharap turunnya hujan, tetapi juga berusaha memperbaiki diri dan menjaga lingkungan. Dengan demikian, doa dan ikhtiar berjalan bersama dalam menghadapi kekeringan dan berbagai kesulitan kehidupan.

Referensi Sumber :
https://mui.or.id/public/baca/bimbingan/panduan-lengkap-shalat-istisqa-hukum-waktu-dan-tata-caranya-6aa7ba86444d0