Duldul, Bighal Rasulullah SAW yang Menjadi Saksi Sejarah Islam

Ketika membaca kisah kehidupan Nabi Muhammad ﷺ, kita biasanya lebih banyak mengenal para sahabat, peperangan, dakwah, dan berbagai mukjizat beliau. Namun, ada pula kisah menarik tentang hewan-hewan yang pernah dekat dengan Rasulullah ﷺ. Salah satunya adalah Duldul, seekor bighal yang disebut dalam berbagai sumber sejarah Islam sebagai salah satu tunggangan Rasulullah ﷺ.


Duldul bukanlah kuda, melainkan bighal (bagal), yaitu hewan hasil persilangan antara kuda dan keledai. Namanya tercatat dalam sejumlah kitab sirah dan sejarah Islam. Kisahnya menarik karena Duldul tidak hanya menjadi tunggangan Rasulullah ﷺ, tetapi juga disebut masih hidup setelah wafatnya beliau dan kemudian berada di tangan keluarga Ali bin Abi Thalib Ra.

Duldul Hadiah dari Penguasa Mesir

Kisah Duldul bermula ketika Rasulullah ﷺ mengirim surat kepada sejumlah penguasa di luar Jazirah Arab sebagai bagian dari dakwah Islam. Salah satu surat tersebut dikirim kepada al-Muqawqis, penguasa Mesir.

Al-Muqawqis tidak menerima ajakan Rasulullah ﷺ untuk memeluk Islam, tetapi ia menghormati beliau dan mengirimkan sejumlah hadiah ke Madinah. Di antara hadiah tersebut terdapat dua orang hamba perempuan, beberapa pakaian, dan seekor bighal.

Bighal yang diberikan kepada Rasulullah ﷺ itulah yang kemudian dikenal dengan nama Duldul.
Dalam sumber-sumber sejarah, Duldul disebut sebagai salah satu tunggangan Rasulullah ﷺ. Dengan demikian, hewan yang awalnya berasal dari Mesir tersebut kemudian menjadi bagian dari kehidupan Nabi Muhammad ﷺ di Madinah.

Apa Arti Nama Duldul?

Nama Duldul (دُلْدُل) merupakan nama yang dikenal dalam sumber-sumber Arab untuk bighal Rasulullah ﷺ.

Beberapa sumber sejarah memberikan keterangan mengenai warna dan sifat Duldul. Namun, terdapat perbedaan dalam sejumlah riwayat mengenai beberapa detail fisiknya, termasuk jenis kelaminnya. Karena itu, penyebutan yang paling aman adalah bighal Duldul tanpa terlalu memastikan detail yang tidak memiliki kesepakatan riwayat.

Yang jelas, nama Duldul telah menjadi bagian dari catatan sejarah tentang hewan tunggangan Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ Menunggangi Duldul

Setelah menjadi milik Rasulullah ﷺ, Duldul digunakan sebagai tunggangan beliau.

Salah satu riwayat yang menarik menceritakan bahwa Ibnu Abbas Ra pernah membantu Rasulullah ﷺ mempersiapkan Duldul. Setelah perlengkapan tunggangan disiapkan, Rasulullah ﷺ menaiki Duldul dan Ibnu Abbas kemudian ikut membonceng.

Kisah seperti ini memberikan gambaran sederhana mengenai kehidupan Rasulullah ﷺ. Di balik peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah Islam, terdapat pula aktivitas sehari-hari seperti perjalanan, menggunakan kendaraan, dan memperhatikan hewan tunggangan.

Rasulullah ﷺ sendiri dikenal sebagai sosok yang memperlakukan hewan dengan baik. Karena itu, kisah tentang Duldul juga dapat menjadi pengingat mengenai pentingnya memperlakukan makhluk hidup dengan penuh kasih sayang.

Duldul dalam Perjalanan Sejarah Rasulullah ﷺ

Nama Duldul muncul dalam berbagai catatan sejarah yang membahas tunggangan Rasulullah ﷺ. Dalam beberapa sumber, Duldul juga dikaitkan dengan sejumlah perjalanan dan peristiwa pada masa Nabi ﷺ.

Akan tetapi, terdapat banyak kisah populer yang beredar di masyarakat mengenai Duldul, terutama yang menghubungkannya secara rinci dengan peperangan tertentu. Tidak semua detail tersebut memiliki kekuatan riwayat yang sama.

Karena itu, ketika menulis kisah Duldul, penting untuk membedakan antara informasi yang tercatat dalam sumber sejarah dengan cerita tambahan yang berkembang dalam tradisi populer.

Hal ini penting agar kisah Rasulullah ﷺ disampaikan dengan penuh penghormatan sekaligus tidak memberikan kepastian terhadap sesuatu yang sebenarnya masih diperselisihkan.

Setelah Rasulullah ﷺ Wafat

Bagian yang membuat kisah Duldul semakin menarik adalah kehidupannya setelah Rasulullah ﷺ wafat.
Rasulullah ﷺ wafat pada tahun 11 Hijriah. Namun, menurut sejumlah sumber sejarah, Duldul masih hidup setelah wafatnya beliau.

Duldul kemudian dikaitkan dengan Ali bin Abi Thalib Ra, salah seorang sahabat terdekat Rasulullah ﷺ sekaligus menantu beliau.

Dalam riwayat sejarah yang masyhur, Duldul kemudian berpindah dari Ali kepada putranya, Hasan bin Ali Ra, kemudian kepada Husain bin Ali Ra, dan selanjutnya kepada Muhammad bin al-Hanafiyyah.

Dengan demikian, bighal yang pernah menjadi tunggangan Rasulullah ﷺ tersebut terus hidup di tengah keluarga Ali Ra setelah Rasulullah ﷺ wafat.

Duldul Menjadi Tua

Seiring berjalannya waktu, Duldul tentu mengalami proses penuaan.

Salah satu riwayat sejarah menyebutkan bahwa ketika sudah sangat tua, gigi Duldul mulai tanggal. Karena itu, makanan seperti biji-bijian harus dipersiapkan sedemikian rupa agar dapat dimakan.
Ada pula sumber yang menyebut bahwa Duldul mengalami kebutaan pada masa tuanya.

Bayangkan, seekor bighal yang pernah ditunggangi Rasulullah ﷺ masih hidup bertahun-tahun setelah beliau wafat. Ia kemudian menyaksikan pergantian generasi dan berada di lingkungan keluarga Ali Ra.

Tentu saja, kita tidak mengetahui secara pasti usia Duldul. Namun, catatan sejarah tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Duldul dikenang cukup lama dalam sejarah Islam.

Bagaimana Akhir Kehidupan Duldul?

Mengenai akhir kehidupan Duldul, terdapat beberapa versi riwayat. Sebagian sumber menyebutkan bahwa Duldul akhirnya mati setelah mencapai usia yang sangat tua. Ada pula riwayat yang menceritakan bahwa Duldul mati di suatu tempat setelah mengalami kelemahan karena usia.

Karena terdapat perbedaan dalam sumber-sumber sejarah mengenai detail tersebut, kita sebaiknya tidak menyampaikan satu versi sebagai fakta yang mutlak.

Yang lebih penting adalah kisah perjalanan Duldul sejak menjadi hadiah untuk Rasulullah ﷺ hingga masa tuanya setelah beliau wafat.

Duldul dan Buraq, Apakah Sama?

Ada satu hal yang perlu diluruskan. Duldul bukanlah Buraq. Duldul adalah bighal yang disebut sebagai salah satu tunggangan Rasulullah ﷺ. Sementara Buraq adalah kendaraan yang dikaitkan dengan peristiwa Isra dan Mi'raj. Keduanya merupakan dua hal yang berbeda dan tidak boleh dicampuradukkan.

Pelajaran dari Kisah Duldul

1. Sejarah Islam memiliki banyak kisah menarik : Sejarah kehidupan Rasulullah ﷺ tidak hanya berisi peperangan dan peristiwa besar. Ada pula kisah sederhana tentang kehidupan sehari-hari yang membuat kita lebih mengenal kehidupan beliau.

2. Islam mengajarkan kasih sayang kepada hewan : Kisah Duldul dapat menjadi pengingat bahwa hewan juga merupakan makhluk Allah yang harus diperlakukan dengan baik.

3. Pentingnya menjaga keakuratan sejarah : Kisah-kisah tentang Rasulullah ﷺ harus disampaikan secara hati-hati. Jika suatu informasi berasal dari riwayat sejarah yang berbeda-beda, hendaknya kita menyebutkan bahwa terdapat perbedaan riwayat, bukan langsung menganggap semuanya sebagai fakta yang pasti.

4. Sebuah hewan dapat menjadi bagian dari catatan sejarah : Duldul menjadi menarik bukan karena ia memiliki kedudukan seperti manusia, tetapi karena ia pernah menjadi bagian dari kehidupan Rasulullah ﷺ dan kemudian dikenang dalam sumber-sumber sejarah Islam.

Kesimpulan

Duldul adalah bighal yang dalam berbagai sumber sejarah disebut sebagai salah satu tunggangan Rasulullah Muhammad ﷺ. Duldul dikenal sebagai hadiah yang dikirim oleh al-Muqawqis, penguasa Mesir, kepada Rasulullah ﷺ. Setelah digunakan sebagai tunggangan beliau, Duldul kemudian masih hidup setelah Rasulullah ﷺ wafat dan dikaitkan dengan keluarga Ali bin Abi Thalib Ra.

Kisah Duldul memang tidak sepanjang kisah para sahabat atau peristiwa besar dalam sirah Nabi. Namun, keberadaannya memberikan warna tersendiri dalam sejarah Islam. Ia menjadi salah satu saksi bisu perjalanan kehidupan Rasulullah ﷺ dan generasi awal umat Islam.

Pada akhirnya, kisah Duldul mengajarkan kepada kita bahwa sejarah Islam memiliki begitu banyak sisi menarik. Dari peristiwa besar hingga kisah sederhana tentang seekor bighal, semuanya dapat menjadi pintu untuk semakin mengenal kehidupan Rasulullah ﷺ. Wallahu a'lam bish-shawab.