Abu Nawas Pura-Pura Tidak Mengenal Raja

Pada suatu pagi, Raja Baghdad merasa bosan berada di istana. Setiap hari ia melihat wajah para pejabat, para pengawal, dan para pelayan yang selalu berkata hal yang sama.


“Baginda sangat bijaksana!”
“Baginda sangat tampan!”
“Baginda sangat hebat!”

Lama-lama Raja curiga.
“Jangan-jangan mereka memujiku karena takut, bukan karena benar-benar berpikir begitu.”
Akhirnya Raja memutuskan menyamar.
Ia mengenakan pakaian sederhana dan pergi ke pasar bersama seorang pengawal kepercayaannya.
Di tengah keramaian pasar, Raja melihat Abu Nawas sedang membeli roti.
Raja tersenyum.
“Nah, ini kesempatan bagus. Aku ingin melihat apakah Abu Nawas bisa mengenaliku.”
Ia mendekati Abu Nawas.
“Permisi, Tuan.”
Abu Nawas menoleh.
“Ya?”
“Apakah Anda mengenal saya?”

Abu Nawas memperhatikan wajah lelaki itu.
Kemudian ia melihat pakaiannya.
Lalu melihat sandal.
Setelah itu ia kembali melihat wajahnya.
“Tidak.”
Raja tersenyum puas.
“Bagus. Berarti penyamaranku berhasil.”
Namun sebelum Raja pergi, Abu Nawas berkata,
“Tapi saya mengenal orang yang menyamar sebagai Baginda Raja.”
Raja langsung terkejut.

Abu Nawas Mulai Berakting

Raja menelan ludah.
“Siapa?”
Abu Nawas menunjuk ke arahnya.
“Orang itu.”
Raja tertawa gugup.
“Jangan bercanda!”
“Saya serius.”
“Bagaimana kau tahu?”

Abu Nawas mendekat dan berbisik,
“Karena orang biasa tidak berjalan di pasar sambil dikawal dari jarak tiga langkah.”
Raja menoleh ke belakang.
Pengawal yang menyamar masih berdiri tidak jauh darinya.
Abu Nawas melanjutkan,
“Selain itu, orang biasa kalau membeli kurma biasanya bertanya harganya.”
“Lalu?”
“Orang ini malah berkata, ‘Berapa harga kurma?’ lalu penjual langsung menjawab, ‘Terserah Baginda.’”

Raja memejamkan mata.
Ia lupa bahwa pengawal dan pedagang istana sudah mengenalnya.
“Baiklah,” kata Raja. “Tapi jangan katakan kepada siapa pun.”
Abu Nawas mengangguk.
“Tentu.”
Raja tersenyum lega.
Namun kemudian Abu Nawas berkata,
“Baginda…”

Raja terkejut.
“Jangan panggil aku Baginda!”
“Baik, Yang Mulia.”
“Jangan juga!”
“Baik, Raja.”
“Abu Nawas!”
Abu Nawas tertawa.

Raja Memberi Tantangan

Raja kemudian mendapat ide.
“Abu Nawas, aku ingin menguji kecerdikanmu.”
“Silakan.”
“Aku akan kembali ke istana terlebih dahulu. Setelah itu aku akan menyamar lagi.”
“Baik.”
“Ketika kita bertemu lagi, kau harus berpura-pura tidak mengenalku.”

Abu Nawas mengerutkan dahi.
“Kenapa saya harus berpura-pura?”
“Karena aku ingin melihat seberapa baik kau menjaga rahasia.”
Abu Nawas mengangguk.
“Baiklah.”
“Dan ingat, jangan sekali pun memanggilku Raja.”
“Siap.”
Raja pun pergi.

Raja Datang Lagi dengan Penyamaran Berbeda

Beberapa jam kemudian, Abu Nawas sedang duduk di sebuah kedai.
Tiba-tiba datang seorang lelaki berpakaian seperti pedagang tua.
Ia memakai jubah lusuh, membawa tongkat, dan mengenakan sorban besar.
Ia menghampiri Abu Nawas.
“Permisi. Apakah Anda Abu Nawas?”
Abu Nawas menatapnya.
“Siapa Anda?”
“Aku hanya pedagang biasa.”
“Baik.”

Pedagang itu duduk.
“Aku ingin bertanya sesuatu.”
“Silakan.”
“Apakah kau mengenal Raja Baghdad?”
Abu Nawas menggeleng.
“Tidak.”
Pedagang itu tersenyum.
“Bagus. Sekarang apakah kau mengenalku?”

Abu Nawas menggeleng lagi.
“Tidak.”
Pedagang itu semakin percaya diri.
“Benar-benar tidak?”
“Benar.”
“Padahal kita bertemu pagi tadi.”
Abu Nawas tetap tenang.
“Saya bertemu banyak orang pagi tadi.”

Raja tersenyum puas.
“Nah! Berarti penyamaranku berhasil.”
Abu Nawas mengangguk.
“Memang berhasil.”
“Bagaimana kau tahu aku orang yang sama?”
“Saya tidak tahu.”
Raja tertawa.
“Bagus!”
Abu Nawas kemudian berkata,
“Tapi saya tahu Anda Raja.”

Raja langsung berhenti tertawa.
“Kenapa?”
Abu Nawas menunjuk tongkatnya.
“Karena tongkat itu.”
“Apa yang salah dengan tongkatku?”
“Pedagang biasa membawa tongkat untuk berjalan.”
“Lalu?”
“Sedangkan Baginda membawa tongkat untuk memukul orang yang tidak berjalan cukup cepat.”
Raja terdiam.

Raja Semakin Penasaran

Raja mulai kesal.
“Abu Nawas, kau benar-benar mengenaliku?”
Abu Nawas menggeleng.
“Tidak.”
“Lalu kenapa kau tahu aku Raja?”
“Saya tidak mengenal orangnya.”
“Lalu?”
“Saya mengenal kebiasaannya.”

Raja mulai tertawa.
“Jadi kau bisa mengenali seseorang hanya dari kebiasaannya?”
“Tidak selalu.”
“Lalu bagaimana?”
“Kalau orang itu Raja, biasanya dia membawa masalah.”
Raja tertawa keras.
“Ha ha ha! Jadi aku dianggap masalah?”

Abu Nawas tersenyum.
“Bukan Baginda yang masalah.”
“Lalu?”
“Perintah Baginda yang sering membuat saya masalah.”
Raja mengangguk.
“Itu baru benar.”

Abu Nawas Mendapat Perintah Aneh

Raja kemudian berkata,
“Sekarang aku punya satu perintah.”
Abu Nawas langsung waspada.
“Perintah apa?”
“Kalau besok kita bertemu di pasar, kau harus mengatakan bahwa kau sama sekali tidak mengenalku.”
“Baik.”
“Bahkan kalau aku memanggil namamu.”
“Baik.”
“Bahkan kalau aku menyebut semua rahasiamu.”
“Baik.”
“Bahkan kalau aku mengatakan bahwa aku adalah Raja.”

Abu Nawas tersenyum.
“Baginda, kalau sampai begitu…”
“Apa?”
“Saya akan tetap tidak mengenal Baginda.”
Raja tertawa.
“Bagus!”
“Tapi saya akan mengenal orang yang mengaku sebagai Raja.”
“Kenapa?”
“Karena orang yang benar-benar Raja tidak perlu mengaku.”
Raja terdiam.
Kemudian ia mengangguk.
“Jawaban yang bagus.”

Keesokan Harinya di Pasar

Keesokan pagi, Raja benar-benar datang ke pasar.
Ia melihat Abu Nawas sedang berjalan.
“Abu Nawas!”
Abu Nawas berhenti.
Raja mendekat.
“Apakah kau mengenalku?”
Abu Nawas menggeleng.
“Tidak.”
“Aku Raja Baghdad.”

Abu Nawas mengangguk.
“Oh.”
Raja tersenyum.
“Sekarang kau percaya?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena kalau Baginda benar-benar Raja, Baginda pasti sudah tahu bahwa saya sedang menjalankan perintah Baginda.”
Raja langsung terdiam.
Beberapa orang di sekitar mereka mulai memperhatikan.
Abu Nawas kemudian berkata keras-keras,
“Maaf, Tuan. Saya tidak mengenal Anda.”

Raja menahan tawa.
“Bagus.”
Abu Nawas melanjutkan,
“Tapi kalau Anda benar-benar Raja, saya punya satu pertanyaan.”
“Apa?”
“Kenapa Baginda belum mentraktir saya sarapan?”
Raja tertawa terbahak-bahak.
“Abu Nawas! Kau memang tidak bisa dipercaya!”
Abu Nawas tersenyum.
“Justru karena saya bisa dipercaya, saya berani meminta sarapan.”

Raja Kalah oleh Abu Nawas

Raja akhirnya menyerah.
Ia berkata,
“Baiklah, Abu Nawas. Aku mengaku kalah.”
“Kalah dalam hal apa?”
“Dalam permainan menyamar.”
Abu Nawas menggeleng.
“Baginda tidak kalah.”
“Lalu?”
“Baginda hanya kurang latihan.”
“Berapa lama aku harus berlatih?”
“Menurut saya…”

Abu Nawas berpikir sejenak.
“Mulailah dengan latihan berjalan tanpa diikuti pengawal.”
Raja tertawa.
“Kalau begitu aku akan mencoba.”
“Dan satu lagi.”
“Apa?”
“Belajar membeli makanan tanpa berkata, ‘Ambilkan yang paling mahal.’”
Raja tertawa semakin keras.
“Baiklah! Besok aku akan membeli makanan sendiri.”
Abu Nawas mengangguk.
“Itu baru penyamaran yang sempurna.”

Hikmah Cerita

Kisah Abu Nawas Pura-Pura Tidak Mengenal Raja mengajarkan bahwa kecerdikan bukan hanya kemampuan mengetahui sesuatu, tetapi juga kemampuan menjaga rahasia, membaca keadaan, dan memilih kata-kata dengan tepat.

Abu Nawas tidak mempermalukan Raja secara langsung. Ia justru menggunakan humor untuk membuat Raja menyadari bahwa seorang pemimpin juga perlu rendah hati dan mampu melihat dirinya dari sudut pandang orang lain.

Kadang-kadang, kecerdasan bukan terletak pada seberapa banyak kita berbicara, tetapi pada seberapa tepat kita berbicara. Dan bagi Abu Nawas, satu hal tetap berlaku: Raja boleh menyamar, tetapi kebiasaan seorang Raja sulit disembunyikan.