Abu Nawas dan Pencuri yang Salah Memilih Lawan
Pada suatu malam yang sunyi di Baghdad, seorang pencuri bernama Karim berjalan mengendap-endap melewati rumah-rumah penduduk.
Karim terkenal sebagai pencuri yang cukup nekat.
Ia pernah mencuri ayam, kambing, karpet, bahkan pernah membawa pulang pintu rumah orang karena mengira pintunya terbuat dari kayu mahal.
Malam itu ia berkata kepada dirinya sendiri,
“Sekarang aku harus mendapatkan barang yang lebih berharga.”
Ia berjalan sampai berhenti di depan sebuah rumah.
Karim memperhatikan rumah itu.
“Hmm… sepertinya rumah orang kaya.”
Ia melihat ke kanan dan ke kiri.
Tidak ada penjaga.
Tidak ada anjing.
Tidak ada orang yang berjaga.
Karim tersenyum.
“Ini kesempatan emas!”
Ia sama sekali tidak tahu bahwa rumah yang sedang diincarnya adalah rumah Abu Nawas.
Dan itu adalah kesalahan terbesar yang pernah dibuatnya.
Abu Nawas Belum Tidur
Di dalam rumah, Abu Nawas sebenarnya belum tidur.
Ia sedang duduk sambil menghitung uang hasil menjual beberapa barang.
Tiba-tiba ia mendengar suara kecil dari luar.
“Tok…”
Abu Nawas berhenti menghitung.
“Tok… tok…”
Ia memasang telinga.
“Aha.”
Ia tersenyum.
“Sepertinya ada orang yang tidak punya uang sedang berusaha mendapatkan uang tanpa bekerja.”
Abu Nawas bangkit perlahan.
Ia tidak langsung keluar.
Sebaliknya, ia mengambil sebuah selimut dan menaruhnya di atas tempat tidur sehingga terlihat seperti ada seseorang yang sedang tidur.
Kemudian ia mematikan lampu.
Abu Nawas bersembunyi di balik tirai.
Tidak lama kemudian, jendela terbuka perlahan.
Karim masuk dengan sangat hati-hati.
Ia berbisik,
“Alhamdulillah… mudah sekali.”
Abu Nawas yang mendengar dari balik tirai hampir tertawa.
“Baru masuk saja sudah merasa menang,” pikirnya.
Pencuri Mulai Menggeledah Rumah
Karim berjalan mengendap-endap.
Ia melihat sebuah kendi.
“Tidak.”
Ia melihat beberapa pakaian.
“Tidak.”
Ia melihat sepatu.
“Hmm… lumayan.”
Namun kemudian ia melihat sebuah peti.
“Nah! Ini pasti isinya harta.”
Karim mencoba membuka peti itu.
Ternyata terkunci.
Ia mengeluarkan alat dari sakunya.
“Tenang. Aku sudah berpengalaman.”
Ia mencoba membuka kunci.
Klik!
Peti terbuka.
Karim tersenyum lebar.
“Ha! Aku memang hebat.”
Ia membuka tutup peti.
Kemudian…
“APA?!”
Peti itu ternyata hanya berisi pakaian lama, buku, dan beberapa sandal.
Karim memegang kepalanya.
“Kenapa orang miskin menyimpan barang sebanyak ini?”
Dari balik tirai, Abu Nawas hampir tidak tahan tertawa.
Abu Nawas Mulai Menakut-nakuti
Tiba-tiba terdengar suara dari sudut rumah.
“Hmmmm…”
Karim membeku.
Ia menoleh.
“Siapa itu?”
Tidak ada jawaban.
Karim menelan ludah.
“Mungkin kucing.”
Kemudian terdengar lagi.
“Hmmmm… siapa yang masuk ke rumahku?”
Karim langsung pucat.
Ia berbisik,
“Jangan-jangan hantu!”
Abu Nawas sengaja membuat suaranya berat.
“Bukan hantu…”
Karim semakin ketakutan.
“Lalu siapa?”
“Aku adalah penjaga rumah ini.”
Karim melihat ke segala arah.
“Di mana kau?”
Suara Abu Nawas terdengar lagi.
“Di belakangmu.”
Karim langsung berbalik.
Tidak ada siapa-siapa.
Ia menghela napas lega.
“Ha! Ternyata hanya suara.”
Tiba-tiba Abu Nawas keluar dari balik tirai.
“Benarkah?”
Karim menjerit.
“AAAAAA!”
Ia hampir jatuh.
Abu Nawas tertawa.
“Kenapa berteriak? Saya belum memukulmu.”
Karim menunjuk Abu Nawas.
“Ka… kau siapa?”
Abu Nawas menjawab santai,
“Pemilik rumah.”
Karim terdiam.
Kemudian ia berkata,
“Oh.”
Abu Nawas mengangguk.
“Oh juga.”
Pencuri Salah Tingkah
Karim mencoba bersikap berani.
“Aku sebenarnya bukan pencuri.”
Abu Nawas mengangguk.
“Bagus.”
“Aku hanya…”
“Sedang jalan-jalan?”
“Iya!”
“Jam segini?”
“Iya.”
“Lewat jendela?”
Karim diam.
“Jalan-jalanmu memang unik.”
Karim mulai gugup.
“Aku tersesat.”
Abu Nawas menunjuk pintu.
“Pintunya di sana.”
Karim menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
“Kalau begitu, kenapa tadi membuka peti?”
Karim berpikir.
“Karena…”
“Karena apa?”
“Aku ingin melihat apakah pemilik rumah tersesat juga.”
Abu Nawas menatapnya.
Kemudian tertawa.
“Kau pencuri paling kreatif yang pernah saya temui.”
Abu Nawas Mengajukan Syarat
Abu Nawas berkata,
“Baiklah. Aku tidak akan memanggil penjaga.”
Karim langsung lega.
“Benarkah?”
“Benar.”
“Terima kasih!”
“Tapi ada syarat.”
Karim kembali tegang.
“Syarat apa?”
“Kau harus membantuku.”
“Membantu apa?”
Abu Nawas menunjuk peti.
“Karena kau sudah membuka peti itu, sekarang bantu aku merapikan isinya.”
Karim melongo.
“Apa?”
“Cepat.”
“Aku ini pencuri!”
“Justru itu.”
“Kenapa?”
“Karena kau sudah masuk tanpa izin. Setidaknya sebelum keluar, lakukan sesuatu yang berguna.”
Karim terdiam.
Entah mengapa, ia merasa lebih takut kepada Abu Nawas daripada kepada penjaga kota.
Pencuri Dipaksa Menjadi Tukang Bersih-Bersih
Karim mulai memasukkan kembali pakaian ke dalam peti.
Abu Nawas mengawasi.
“Yang itu dilipat.”
Karim melipat.
“Yang itu jangan di atas.”
Karim memindahkan.
“Sandalnya pasang berpasangan.”
Karim mulai kesal.
“Kenapa saya harus melakukan semua ini?”
Abu Nawas menjawab,
“Karena kau masuk sebagai pencuri, tetapi belum tentu harus keluar sebagai pencuri.”
Karim mengerutkan dahi.
“Maksudnya?”
“Kalau malam ini kau pulang tanpa membawa barang curian, mungkin besok kau bisa mencoba mencari uang dengan cara yang halal.”
Karim terdiam.
Ia mulai merasa malu.
Namun Abu Nawas belum selesai.
“Lagipula…”
“Apa?”
“Kalau kau ingin mencuri barang berharga, kau salah rumah.”
Karim penasaran.
“Kenapa?”
Abu Nawas menunjuk peti.
“Seperti yang kau lihat sendiri, hartaku hanya buku, pakaian, dan sandal.”
Karim menghela napas.
“Jadi aku salah memilih rumah?”
“Bukan hanya salah memilih rumah.”
“Lalu?”
“Kau salah memilih lawan.”
Pencuri Mengaku Kalah
Karim akhirnya duduk.
“Aku menyerah.”
Abu Nawas tersenyum.
“Bagus.”
“Mulai malam ini aku tidak akan mencuri lagi.”
“Benarkah?”
“Benar.”
“Kenapa?”
Karim menunjuk Abu Nawas.
“Karena saya baru masuk ke rumah orang untuk mencuri, tetapi malah disuruh melipat pakaian.”
Abu Nawas tertawa.
“Setidaknya sekarang kau mendapatkan pengalaman baru.”
“Pengalaman apa?”
“Menjadi pencuri sekaligus pembantu rumah tangga.”
Karim tertawa kecil.
“Abu Nawas, kau memang aneh.”
Abu Nawas menjawab,
“Terima kasih.”
“Itu bukan pujian.”
“Saya tahu.”
Pencuri Mendapat Pekerjaan
Keesokan paginya, Abu Nawas membawa Karim kepada seorang pedagang yang sedang mencari pekerja.
Abu Nawas berkata,
“Orang ini ingin bekerja.”
Pedagang itu memandang Karim.
“Bisa apa?”
Karim berpikir.
“Saya bisa membuka kunci.”
Abu Nawas langsung melotot.
“Yang halal!”
Karim cepat-cepat memperbaiki jawabannya.
“Saya bisa memperbaiki pintu.”
Pedagang itu mengangguk.
“Bagus. Aku memang membutuhkan orang untuk memperbaiki pintu gudang.”
Karim akhirnya mendapatkan pekerjaan.
Sebelum pergi, ia menatap Abu Nawas.
“Terima kasih.”
Abu Nawas tersenyum.
“Jangan berterima kasih kepadaku.”
“Kenapa?”
“Berterima kasihlah kepada dirimu sendiri karena malam tadi memilih masuk ke rumah yang salah.”
Karim tertawa.
“Kalau saya tahu rumah itu milik Abu Nawas, saya pasti tidak masuk.”
Abu Nawas menjawab,
“Nah, sekarang kau sudah tahu.”
Pencuri yang Berubah
Sejak hari itu, Karim benar-benar meninggalkan pekerjaannya sebagai pencuri.
Ia bekerja sebagai tukang memperbaiki pintu dan jendela.
Kadang-kadang ia masih bertemu Abu Nawas di pasar.
Suatu hari Abu Nawas bertanya,
“Karim, bagaimana pekerjaanmu?”
“Lumayan.”
“Masih suka membuka kunci?”
“Masih.”
Abu Nawas terkejut.
“Masih mencuri?”
“Bukan!”
“Lalu?”
“Sekarang saya membuka kunci untuk memperbaiki pintu.”
Abu Nawas tersenyum.
“Bagus. Ternyata keahlian yang sama bisa menghasilkan rezeki yang berbeda.”
Karim mengangguk.
“Benar.”
Ia kemudian berkata,
“Tapi ada satu hal yang saya sesali.”
“Apa?”
“Saya berharap malam itu masuk ke rumah orang lain.”
Abu Nawas tertawa.
“Kenapa?”
“Kalau masuk rumah orang lain, mungkin saya dapat harta.”
Abu Nawas mengangguk.
“Dan sekarang?”
Karim tersenyum.
“Sekarang saya mendapatkan pekerjaan.”
Abu Nawas menepuk bahunya.
“Kalau begitu, kau tidak salah memilih rumah.”
Karim menggeleng.
“Benar. Saya justru salah memilih cara hidup.”
Hikmah Cerita
Kisah Abu Nawas dan Pencuri yang Salah Memilih Lawan mengajarkan bahwa kecerdikan dapat digunakan untuk menghadapi masalah tanpa kekerasan. Abu Nawas tidak membalas pencuri dengan kemarahan. Ia justru membuat pencuri itu malu, menyadari kesalahannya, dan memberinya kesempatan untuk berubah.
Selain itu, cerita ini mengingatkan bahwa keahlian yang kita miliki bisa digunakan untuk hal baik maupun buruk. Yang menentukan bukan hanya kemampuan kita, tetapi pilihan yang kita ambil.
Kadang-kadang, satu kesalahan bisa menjadi awal perubahan besar.
Dan bagi Karim, malam itu menjadi pelajaran yang tidak akan pernah dilupakannya: Jangan sembarangan memilih lawan, apalagi kalau lawannya Abu Nawas!
Karim terkenal sebagai pencuri yang cukup nekat.
Malam itu ia berkata kepada dirinya sendiri,
“Sekarang aku harus mendapatkan barang yang lebih berharga.”
Ia berjalan sampai berhenti di depan sebuah rumah.
Karim memperhatikan rumah itu.
“Hmm… sepertinya rumah orang kaya.”
Ia melihat ke kanan dan ke kiri.
Tidak ada penjaga.
Tidak ada anjing.
Tidak ada orang yang berjaga.
Karim tersenyum.
“Ini kesempatan emas!”
Ia sama sekali tidak tahu bahwa rumah yang sedang diincarnya adalah rumah Abu Nawas.
Dan itu adalah kesalahan terbesar yang pernah dibuatnya.
Abu Nawas Belum Tidur
Di dalam rumah, Abu Nawas sebenarnya belum tidur.
Ia sedang duduk sambil menghitung uang hasil menjual beberapa barang.
Tiba-tiba ia mendengar suara kecil dari luar.
“Tok…”
Abu Nawas berhenti menghitung.
“Tok… tok…”
Ia memasang telinga.
“Aha.”
Ia tersenyum.
“Sepertinya ada orang yang tidak punya uang sedang berusaha mendapatkan uang tanpa bekerja.”
Abu Nawas bangkit perlahan.
Ia tidak langsung keluar.
Sebaliknya, ia mengambil sebuah selimut dan menaruhnya di atas tempat tidur sehingga terlihat seperti ada seseorang yang sedang tidur.
Kemudian ia mematikan lampu.
Abu Nawas bersembunyi di balik tirai.
Tidak lama kemudian, jendela terbuka perlahan.
Karim masuk dengan sangat hati-hati.
Ia berbisik,
“Alhamdulillah… mudah sekali.”
Abu Nawas yang mendengar dari balik tirai hampir tertawa.
“Baru masuk saja sudah merasa menang,” pikirnya.
Pencuri Mulai Menggeledah Rumah
Karim berjalan mengendap-endap.
Ia melihat sebuah kendi.
“Tidak.”
Ia melihat beberapa pakaian.
“Tidak.”
Ia melihat sepatu.
“Hmm… lumayan.”
Namun kemudian ia melihat sebuah peti.
“Nah! Ini pasti isinya harta.”
Karim mencoba membuka peti itu.
Ternyata terkunci.
Ia mengeluarkan alat dari sakunya.
“Tenang. Aku sudah berpengalaman.”
Ia mencoba membuka kunci.
Klik!
Peti terbuka.
Karim tersenyum lebar.
“Ha! Aku memang hebat.”
Ia membuka tutup peti.
Kemudian…
“APA?!”
Peti itu ternyata hanya berisi pakaian lama, buku, dan beberapa sandal.
Karim memegang kepalanya.
“Kenapa orang miskin menyimpan barang sebanyak ini?”
Dari balik tirai, Abu Nawas hampir tidak tahan tertawa.
Abu Nawas Mulai Menakut-nakuti
Tiba-tiba terdengar suara dari sudut rumah.
“Hmmmm…”
Karim membeku.
Ia menoleh.
“Siapa itu?”
Tidak ada jawaban.
Karim menelan ludah.
“Mungkin kucing.”
Kemudian terdengar lagi.
“Hmmmm… siapa yang masuk ke rumahku?”
Karim langsung pucat.
Ia berbisik,
“Jangan-jangan hantu!”
Abu Nawas sengaja membuat suaranya berat.
“Bukan hantu…”
Karim semakin ketakutan.
“Lalu siapa?”
“Aku adalah penjaga rumah ini.”
Karim melihat ke segala arah.
“Di mana kau?”
Suara Abu Nawas terdengar lagi.
“Di belakangmu.”
Karim langsung berbalik.
Tidak ada siapa-siapa.
Ia menghela napas lega.
“Ha! Ternyata hanya suara.”
Tiba-tiba Abu Nawas keluar dari balik tirai.
“Benarkah?”
Karim menjerit.
“AAAAAA!”
Ia hampir jatuh.
Abu Nawas tertawa.
“Kenapa berteriak? Saya belum memukulmu.”
Karim menunjuk Abu Nawas.
“Ka… kau siapa?”
Abu Nawas menjawab santai,
“Pemilik rumah.”
Karim terdiam.
Kemudian ia berkata,
“Oh.”
Abu Nawas mengangguk.
“Oh juga.”
Pencuri Salah Tingkah
Karim mencoba bersikap berani.
“Aku sebenarnya bukan pencuri.”
Abu Nawas mengangguk.
“Bagus.”
“Aku hanya…”
“Sedang jalan-jalan?”
“Iya!”
“Jam segini?”
“Iya.”
“Lewat jendela?”
Karim diam.
“Jalan-jalanmu memang unik.”
Karim mulai gugup.
“Aku tersesat.”
Abu Nawas menunjuk pintu.
“Pintunya di sana.”
Karim menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
“Kalau begitu, kenapa tadi membuka peti?”
Karim berpikir.
“Karena…”
“Karena apa?”
“Aku ingin melihat apakah pemilik rumah tersesat juga.”
Abu Nawas menatapnya.
Kemudian tertawa.
“Kau pencuri paling kreatif yang pernah saya temui.”
Abu Nawas Mengajukan Syarat
Abu Nawas berkata,
“Baiklah. Aku tidak akan memanggil penjaga.”
Karim langsung lega.
“Benarkah?”
“Benar.”
“Terima kasih!”
“Tapi ada syarat.”
Karim kembali tegang.
“Syarat apa?”
“Kau harus membantuku.”
“Membantu apa?”
Abu Nawas menunjuk peti.
“Karena kau sudah membuka peti itu, sekarang bantu aku merapikan isinya.”
Karim melongo.
“Apa?”
“Cepat.”
“Aku ini pencuri!”
“Justru itu.”
“Kenapa?”
“Karena kau sudah masuk tanpa izin. Setidaknya sebelum keluar, lakukan sesuatu yang berguna.”
Karim terdiam.
Entah mengapa, ia merasa lebih takut kepada Abu Nawas daripada kepada penjaga kota.
Pencuri Dipaksa Menjadi Tukang Bersih-Bersih
Karim mulai memasukkan kembali pakaian ke dalam peti.
Abu Nawas mengawasi.
“Yang itu dilipat.”
Karim melipat.
“Yang itu jangan di atas.”
Karim memindahkan.
“Sandalnya pasang berpasangan.”
Karim mulai kesal.
“Kenapa saya harus melakukan semua ini?”
Abu Nawas menjawab,
“Karena kau masuk sebagai pencuri, tetapi belum tentu harus keluar sebagai pencuri.”
Karim mengerutkan dahi.
“Maksudnya?”
“Kalau malam ini kau pulang tanpa membawa barang curian, mungkin besok kau bisa mencoba mencari uang dengan cara yang halal.”
Karim terdiam.
Ia mulai merasa malu.
Namun Abu Nawas belum selesai.
“Lagipula…”
“Apa?”
“Kalau kau ingin mencuri barang berharga, kau salah rumah.”
Karim penasaran.
“Kenapa?”
Abu Nawas menunjuk peti.
“Seperti yang kau lihat sendiri, hartaku hanya buku, pakaian, dan sandal.”
Karim menghela napas.
“Jadi aku salah memilih rumah?”
“Bukan hanya salah memilih rumah.”
“Lalu?”
“Kau salah memilih lawan.”
Pencuri Mengaku Kalah
Karim akhirnya duduk.
“Aku menyerah.”
Abu Nawas tersenyum.
“Bagus.”
“Mulai malam ini aku tidak akan mencuri lagi.”
“Benarkah?”
“Benar.”
“Kenapa?”
Karim menunjuk Abu Nawas.
“Karena saya baru masuk ke rumah orang untuk mencuri, tetapi malah disuruh melipat pakaian.”
Abu Nawas tertawa.
“Setidaknya sekarang kau mendapatkan pengalaman baru.”
“Pengalaman apa?”
“Menjadi pencuri sekaligus pembantu rumah tangga.”
Karim tertawa kecil.
“Abu Nawas, kau memang aneh.”
Abu Nawas menjawab,
“Terima kasih.”
“Itu bukan pujian.”
“Saya tahu.”
Pencuri Mendapat Pekerjaan
Keesokan paginya, Abu Nawas membawa Karim kepada seorang pedagang yang sedang mencari pekerja.
Abu Nawas berkata,
“Orang ini ingin bekerja.”
Pedagang itu memandang Karim.
“Bisa apa?”
Karim berpikir.
“Saya bisa membuka kunci.”
Abu Nawas langsung melotot.
“Yang halal!”
Karim cepat-cepat memperbaiki jawabannya.
“Saya bisa memperbaiki pintu.”
Pedagang itu mengangguk.
“Bagus. Aku memang membutuhkan orang untuk memperbaiki pintu gudang.”
Karim akhirnya mendapatkan pekerjaan.
Sebelum pergi, ia menatap Abu Nawas.
“Terima kasih.”
Abu Nawas tersenyum.
“Jangan berterima kasih kepadaku.”
“Kenapa?”
“Berterima kasihlah kepada dirimu sendiri karena malam tadi memilih masuk ke rumah yang salah.”
Karim tertawa.
“Kalau saya tahu rumah itu milik Abu Nawas, saya pasti tidak masuk.”
Abu Nawas menjawab,
“Nah, sekarang kau sudah tahu.”
Pencuri yang Berubah
Sejak hari itu, Karim benar-benar meninggalkan pekerjaannya sebagai pencuri.
Ia bekerja sebagai tukang memperbaiki pintu dan jendela.
Kadang-kadang ia masih bertemu Abu Nawas di pasar.
Suatu hari Abu Nawas bertanya,
“Karim, bagaimana pekerjaanmu?”
“Lumayan.”
“Masih suka membuka kunci?”
“Masih.”
Abu Nawas terkejut.
“Masih mencuri?”
“Bukan!”
“Lalu?”
“Sekarang saya membuka kunci untuk memperbaiki pintu.”
Abu Nawas tersenyum.
“Bagus. Ternyata keahlian yang sama bisa menghasilkan rezeki yang berbeda.”
Karim mengangguk.
“Benar.”
Ia kemudian berkata,
“Tapi ada satu hal yang saya sesali.”
“Apa?”
“Saya berharap malam itu masuk ke rumah orang lain.”
Abu Nawas tertawa.
“Kenapa?”
“Kalau masuk rumah orang lain, mungkin saya dapat harta.”
Abu Nawas mengangguk.
“Dan sekarang?”
Karim tersenyum.
“Sekarang saya mendapatkan pekerjaan.”
Abu Nawas menepuk bahunya.
“Kalau begitu, kau tidak salah memilih rumah.”
Karim menggeleng.
“Benar. Saya justru salah memilih cara hidup.”
Hikmah Cerita
Kisah Abu Nawas dan Pencuri yang Salah Memilih Lawan mengajarkan bahwa kecerdikan dapat digunakan untuk menghadapi masalah tanpa kekerasan. Abu Nawas tidak membalas pencuri dengan kemarahan. Ia justru membuat pencuri itu malu, menyadari kesalahannya, dan memberinya kesempatan untuk berubah.
Selain itu, cerita ini mengingatkan bahwa keahlian yang kita miliki bisa digunakan untuk hal baik maupun buruk. Yang menentukan bukan hanya kemampuan kita, tetapi pilihan yang kita ambil.
Kadang-kadang, satu kesalahan bisa menjadi awal perubahan besar.
Dan bagi Karim, malam itu menjadi pelajaran yang tidak akan pernah dilupakannya: Jangan sembarangan memilih lawan, apalagi kalau lawannya Abu Nawas!
