Abu Nawas Menemukan Jawaban dari Sebuah Pertanyaan Sulit
Pada suatu pagi, suasana istana Baghdad tampak berbeda dari biasanya. Para pejabat dan pembesar kerajaan berkumpul di ruang pertemuan. Mereka sedang menunggu kedatangan Abu Nawas, seorang lelaki yang terkenal karena kecerdikannya dalam menghadapi berbagai persoalan.
Raja Harun Ar-Rasyid duduk di singgasananya. Wajahnya terlihat serius. Di hadapannya terdapat sebuah persoalan yang sejak beberapa hari terakhir belum berhasil dijawab oleh para cendekiawan istana.
Ketika Abu Nawas datang, Raja langsung memanggilnya.
“Abu Nawas, kemarilah. Aku mempunyai sebuah pertanyaan untukmu,” kata Raja.
Abu Nawas membungkuk hormat.
“Silakan, Paduka. Selama saya masih mampu berpikir, insyaallah saya akan mencoba menjawabnya.”
Raja kemudian berkata, “Aku ingin tahu, apakah sesuatu yang paling dekat dengan manusia, tetapi sering kali tidak disadarinya?”
Para pejabat saling memandang. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya ternyata tidak mudah.
Ketika Abu Nawas datang, Raja langsung memanggilnya.
“Abu Nawas, kemarilah. Aku mempunyai sebuah pertanyaan untukmu,” kata Raja.
Abu Nawas membungkuk hormat.
“Silakan, Paduka. Selama saya masih mampu berpikir, insyaallah saya akan mencoba menjawabnya.”
Raja kemudian berkata, “Aku ingin tahu, apakah sesuatu yang paling dekat dengan manusia, tetapi sering kali tidak disadarinya?”
Para pejabat saling memandang. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya ternyata tidak mudah.
Abu Nawas terdiam sejenak.
“Bolehkah saya berpikir sebentar, Paduka?”
“Tentu. Tetapi ingat, banyak orang pintar di istana ini sudah mencoba menjawabnya dan semuanya gagal,” ujar Raja.
Abu Nawas kemudian berjalan mengelilingi ruangan. Ia memperhatikan para pejabat, jendela, pintu, karpet, hingga singgasana Raja.
Jawaban yang Tak Terduga
Setelah beberapa saat, Abu Nawas kembali berdiri di hadapan Raja.
“Saya sudah menemukan jawabannya, Paduka.”
Raja terlihat penasaran.
“Benarkah? Kalau begitu, katakan.”
Abu Nawas tersenyum.
“Jawabannya adalah waktu.”
Para pejabat langsung berbisik-bisik.
“Waktu?” tanya Raja. “Mengapa waktu?”
Sebuah Pelajaran Berharga
Raja kemudian bertanya, “Kalau waktu begitu dekat dengan manusia, mengapa banyak orang justru menyia-nyiakannya?”
Abu Nawas menjawab dengan tenang.
“Karena manusia sering menganggap sesuatu yang selalu ada sebagai sesuatu yang tidak berharga.”
Raja terdiam mendengar jawaban tersebut.
Hikmah dari Kisah Abu Nawas
Kisah Abu Nawas ini mengajarkan bahwa kecerdikan bukan hanya kemampuan menjawab pertanyaan sulit. Kecerdikan juga berarti mampu melihat sesuatu dari sudut pandang yang sederhana tetapi mendalam.
Jangan menunggu kehilangan sesuatu untuk menyadari nilainya. Selagi waktu masih diberikan, gunakanlah sebaik-baiknya.
“Bolehkah saya berpikir sebentar, Paduka?”
“Tentu. Tetapi ingat, banyak orang pintar di istana ini sudah mencoba menjawabnya dan semuanya gagal,” ujar Raja.
Abu Nawas kemudian berjalan mengelilingi ruangan. Ia memperhatikan para pejabat, jendela, pintu, karpet, hingga singgasana Raja.
Jawaban yang Tak Terduga
Setelah beberapa saat, Abu Nawas kembali berdiri di hadapan Raja.
“Saya sudah menemukan jawabannya, Paduka.”
Raja terlihat penasaran.
“Benarkah? Kalau begitu, katakan.”
Abu Nawas tersenyum.
“Jawabannya adalah waktu.”
Para pejabat langsung berbisik-bisik.
“Waktu?” tanya Raja. “Mengapa waktu?”
Abu Nawas menjelaskan, “Waktu selalu bersama manusia. Ia berjalan setiap detik, tidak pernah meninggalkan kita. Namun manusia sering tidak menyadari betapa dekatnya waktu dengan dirinya.”
Raja mengangguk, tetapi masih belum puas.
“Bukankah napas juga selalu bersama manusia?”
“Benar, Paduka.”
“Bukankah bayangan juga dekat dengan manusia?”
“Benar juga.”
“Lalu mengapa kau memilih waktu?”
Raja mengangguk, tetapi masih belum puas.
“Bukankah napas juga selalu bersama manusia?”
“Benar, Paduka.”
“Bukankah bayangan juga dekat dengan manusia?”
“Benar juga.”
“Lalu mengapa kau memilih waktu?”
Abu Nawas kembali tersenyum.
“Karena napas dan bayangan tidak selalu bersama manusia. Bayangan bisa menghilang ketika gelap, sedangkan napas akan berhenti ketika kehidupan berakhir. Tetapi selama seseorang masih hidup, waktu terus berjalan bersamanya.”
Ruangan menjadi hening.
Para pejabat yang tadi meremehkan Abu Nawas kini mulai memperhatikan dengan serius.
“Karena napas dan bayangan tidak selalu bersama manusia. Bayangan bisa menghilang ketika gelap, sedangkan napas akan berhenti ketika kehidupan berakhir. Tetapi selama seseorang masih hidup, waktu terus berjalan bersamanya.”
Ruangan menjadi hening.
Para pejabat yang tadi meremehkan Abu Nawas kini mulai memperhatikan dengan serius.
Sebuah Pelajaran Berharga
Raja kemudian bertanya, “Kalau waktu begitu dekat dengan manusia, mengapa banyak orang justru menyia-nyiakannya?”
Abu Nawas menjawab dengan tenang.
“Karena manusia sering menganggap sesuatu yang selalu ada sebagai sesuatu yang tidak berharga.”
Raja terdiam mendengar jawaban tersebut.
Abu Nawas melanjutkan, “Ketika seseorang memiliki waktu, ia merasa masih mempunyai banyak kesempatan. Ia menunda pekerjaan, menunda berbuat baik, dan menunda memperbaiki kesalahan. Namun ketika waktu telah berlalu, barulah ia menyadari bahwa waktu tidak dapat dibeli kembali.”
Salah seorang pejabat bertanya, “Jadi, apa yang harus dilakukan manusia terhadap waktunya?”
Salah seorang pejabat bertanya, “Jadi, apa yang harus dilakukan manusia terhadap waktunya?”
Abu Nawas menjawab, “Menggunakannya untuk hal yang bermanfaat. Sebab harta yang hilang masih mungkin dicari kembali, tetapi waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.”
Raja tersenyum puas.
“Abu Nawas, ternyata pertanyaan yang sulit dapat menjadi mudah jika seseorang mau berpikir dengan tenang.”
Raja tersenyum puas.
“Abu Nawas, ternyata pertanyaan yang sulit dapat menjadi mudah jika seseorang mau berpikir dengan tenang.”
Abu Nawas membungkuk.
“Kadang-kadang, Paduka, jawaban tidak tersembunyi di tempat yang jauh. Kita hanya perlu melihat sesuatu yang selama ini ada di depan mata.”
Raja kemudian tertawa kecil.
“Benar sekali. Hari ini kau bukan hanya menjawab pertanyaanku, tetapi juga mengingatkan seluruh isi istana tentang pentingnya waktu.”
“Kadang-kadang, Paduka, jawaban tidak tersembunyi di tempat yang jauh. Kita hanya perlu melihat sesuatu yang selama ini ada di depan mata.”
Raja kemudian tertawa kecil.
“Benar sekali. Hari ini kau bukan hanya menjawab pertanyaanku, tetapi juga mengingatkan seluruh isi istana tentang pentingnya waktu.”
Hikmah dari Kisah Abu Nawas
Kisah Abu Nawas ini mengajarkan bahwa kecerdikan bukan hanya kemampuan menjawab pertanyaan sulit. Kecerdikan juga berarti mampu melihat sesuatu dari sudut pandang yang sederhana tetapi mendalam.
Waktu merupakan nikmat yang sering dianggap biasa. Padahal setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali. Karena itu, manusia sebaiknya menggunakan waktunya untuk belajar, bekerja, beribadah, membantu orang lain, dan melakukan berbagai kebaikan.
Jangan menunggu kehilangan sesuatu untuk menyadari nilainya. Selagi waktu masih diberikan, gunakanlah sebaik-baiknya.
