Abu Nawas dan Orang Kaya yang Kehilangan Hartanya

Pada suatu hari, seorang saudagar kaya datang ke Baghdad dengan wajah yang sangat murung. Dahulu, ia dikenal sebagai orang yang memiliki banyak harta. Rumahnya besar, tokonya ramai, dan gudangnya penuh dengan berbagai barang dagangan.


Namun, keberuntungan tidak selalu berjalan sesuai keinginan manusia.
Dalam waktu singkat, sebagian besar hartanya hilang. Barang dagangannya rusak, beberapa usahanya mengalami kerugian, dan sejumlah uang yang ia pinjamkan kepada orang lain tidak kunjung kembali.

Saudagar itu menjadi sangat gelisah.
“Aku sudah kehilangan hampir semua yang kumiliki,” keluhnya. “Bagaimana mungkin aku bisa menjalani hidup seperti ini?”
Seorang temannya kemudian menyarankan agar ia menemui Abu Nawas.
“Pergilah kepada Abu Nawas. Mungkin kecerdikannya dapat membantumu menemukan jalan keluar.”
Saudagar itu pun mencari Abu Nawas.

Abu Nawas Mendengarkan Keluhannya

Setelah bertemu, saudagar tersebut menceritakan semua masalah yang dialaminya.
“Abu Nawas, aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dulu aku memiliki banyak harta, tetapi sekarang hampir semuanya hilang. Aku merasa hidupku sudah berakhir.”
Abu Nawas mendengarkan dengan tenang.
“Apakah engkau masih memiliki rumah untuk tempat tinggal?” tanyanya.
“Masih.”

“Apakah engkau masih memiliki makanan untuk dimakan?”
“Masih, meskipun tidak sebanyak dahulu.”
“Apakah tubuhmu masih sehat?”
Saudagar itu mengangguk.
“Alhamdulillah, masih sehat.”

Abu Nawas tersenyum.
“Kalau begitu, mengapa engkau mengatakan bahwa engkau telah kehilangan segalanya?”
Saudagar itu terdiam.
“Tetapi hartaku hampir habis,” jawabnya.
“Benar. Engkau kehilangan sebagian hartamu. Tetapi engkau belum kehilangan semuanya.”

Ujian yang Membuka Mata

Saudagar itu masih belum memahami maksud Abu Nawas.
“Kalau begitu, menurutmu apa yang masih kumiliki?”
Abu Nawas menunjuk kepada tubuh saudagar tersebut.
“Engkau masih memiliki kesehatan. Engkau masih memiliki akal untuk berpikir. Engkau masih memiliki tenaga untuk bekerja. Engkau juga masih memiliki pengalaman berdagang yang tidak dimiliki semua orang.”

Saudagar itu mulai berpikir.
Abu Nawas kemudian berkata, “Harta yang hilang memang menyakitkan. Namun selama kemampuanmu untuk berusaha masih ada, pintu rezeki belum tertutup.”
Saudagar tersebut menundukkan kepalanya.

“Jadi aku masih bisa membangun semuanya kembali?”
“Tentu saja,” jawab Abu Nawas. “Tetapi jangan mencoba mengembalikan kekayaanmu hanya demi membuktikan kepada orang lain bahwa engkau masih kaya.”
“Lalu untuk apa?”
“Bangun kembali usahamu agar engkau dapat hidup dengan baik, membantu keluargamu, dan berbagi kepada orang yang membutuhkan.”

Sebuah Cara untuk Memulai Kembali

Abu Nawas kemudian memberikan sebuah nasihat.
“Mulailah dari sesuatu yang kecil. Jangan malu memulai kembali dari bawah.”
Saudagar itu berkata, “Tetapi dahulu aku memiliki toko besar. Jika sekarang aku membuka usaha kecil, orang-orang mungkin akan menertawakanku.”

Abu Nawas tertawa.
“Apakah engkau bekerja untuk mendapatkan rezeki atau untuk mendapatkan pujian manusia?”
Saudagar itu terdiam.
“Jika engkau bekerja hanya agar dipuji, engkau akan lelah sepanjang hidup. Tetapi jika engkau bekerja karena ingin mencari rezeki yang halal, tidak ada pekerjaan baik yang perlu membuatmu malu.”
Kata-kata tersebut membuat saudagar itu tersadar.

Ia kemudian memutuskan untuk menjual beberapa barang yang masih dimilikinya dan menggunakan hasilnya sebagai modal usaha kecil.
Hari demi hari ia bekerja dengan tekun. Ia tidak lagi menghabiskan waktunya untuk meratapi kekayaan yang telah hilang.
Beberapa bulan kemudian, usahanya mulai berkembang.

Kekayaan yang Sebenarnya

Suatu hari, saudagar itu kembali menemui Abu Nawas.
“Abu Nawas, aku ingin berterima kasih kepadamu. Sekarang usahaku mulai kembali berkembang.”
Abu Nawas tersenyum.
“Bukan aku yang mengembalikan hartamu. Engkau sendiri yang berusaha mendapatkannya kembali.”

Saudagar itu mengangguk.
“Aku juga belajar sesuatu yang jauh lebih penting. Dulu aku mengira kekayaan adalah banyaknya harta yang kumiliki. Sekarang aku sadar bahwa kesehatan, ilmu, kemampuan bekerja, keluarga, dan kesempatan untuk berbuat baik juga merupakan kekayaan.”

Abu Nawas berkata, “Itulah kekayaan yang sering tidak dihitung manusia.”
Saudagar itu tersenyum.
Sejak saat itu, ia tidak lagi terlalu takut kehilangan harta. Ia tetap bekerja keras, tetapi hatinya tidak lagi sepenuhnya bergantung kepada kekayaan.

Hikmah dari Kisah Abu Nawas

Kisah Abu Nawas dan orang kaya yang kehilangan hartanya mengajarkan bahwa kehilangan harta bukan berarti kehilangan masa depan.

Dalam kehidupan, seseorang bisa mengalami kerugian, kegagalan, atau kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Namun selama masih memiliki kesehatan, akal, ilmu, tenaga, dan kemauan untuk berusaha, masih ada kesempatan untuk bangkit.

Harta memang penting untuk kehidupan, tetapi jangan sampai harta menjadi satu-satunya ukuran kebahagiaan. Kekayaan yang sebenarnya juga terlihat dari kemampuan seseorang untuk bersyukur, bersabar, bekerja dengan jujur, serta menggunakan rezekinya untuk kebaikan.

Ketika kehilangan sesuatu, jangan hanya melihat apa yang telah pergi. Lihatlah juga apa yang masih Allah berikan dan kesempatan apa yang masih terbuka di hadapan kita.