Abu Nawas Menjadi Raja Sehari, Akal Cerdiknya Bikin Semua Orang Terkejut
Pagi itu, istana Baghdad mendadak gempar.
Para pengawal berlarian di halaman istana. Para pejabat kerajaan dipanggil satu per satu. Bahkan para pelayan tidak berani banyak bicara.
Di tengah kesibukan itu, seorang pengawal datang mencari Abu Nawas.
“Abu Nawas! Kau dipanggil menghadap Raja!”
Abu Nawas yang sedang menikmati sarapan langsung berhenti mengunyah.
“Dipanggil raja?”
“Benar!”
Abu Nawas menghela napas.
“Kalau aku dipanggil ke istana pagi-pagi begini, biasanya ada dua kemungkinan.”
“Apa itu?”
“Entah aku akan mendapat hadiah, atau justru mendapat masalah.”
Pengawal itu hanya menggeleng.
“Sudahlah. Cepat ikut aku.”
Dengan langkah santai, Abu Nawas akhirnya menuju istana.
Ia sama sekali tidak menyangka bahwa hari itu hidupnya akan berubah menjadi sebuah kejadian yang tidak akan pernah dilupakan oleh seluruh penghuni kerajaan.
Raja Memberikan Perintah Aneh
Sesampainya di ruang kerajaan, Abu Nawas melihat Raja Harun al-Rasyid duduk di singgasana.
Di sampingnya berdiri beberapa pejabat kerajaan dengan wajah serius.
Abu Nawas memberi salam dan membungkuk.
“Ampun, Paduka. Mengapa saya dipanggil?”
Raja menatap Abu Nawas cukup lama.
“Abu Nawas, hari ini aku mempunyai sebuah permintaan khusus.”
Abu Nawas mulai curiga.
“Permintaan seperti apa, Paduka?”
Raja tersenyum.
“Untuk satu hari, aku ingin kau menjadi raja.”
Ruangan tiba-tiba sunyi.
Abu Nawas membelalakkan mata.
“Menjadi... raja?”
“Benar.”
Para pejabat mulai berbisik.
Ada yang tersenyum mengejek. Ada pula yang tampak tidak percaya.
Abu Nawas menggaruk kepalanya.
“Paduka tidak sedang bercanda, bukan?”
“Aku serius.”
“Kalau begitu, apa yang harus saya lakukan?”
“Hari ini kau bebas memberikan perintah kepada siapa pun di istana. Aku ingin melihat bagaimana kau memimpin kerajaan.”
Abu Nawas terdiam.
Ia mulai memahami maksud raja.
Ini bukan hadiah.
Raja sedang mengujinya.
Mungkin raja ingin mengetahui apakah Abu Nawas akan menjadi sombong ketika diberi kekuasaan.
Abu Nawas kemudian tersenyum.
“Baiklah, Paduka. Saya akan menjalankan tugas ini.”
Raja berdiri dan memberikan mahkota kerajaan kepada Abu Nawas.
“Mulai sekarang, engkau adalah raja.”
Abu Nawas mengenakan mahkota itu.
Kemudian ia duduk di singgasana.
Para pejabat kerajaan menundukkan kepala.
“Daulat Paduka Raja Abu Nawas!”
Abu Nawas hampir tertawa.
Dalam hati ia berkata,
“Wah, ternyata menjadi raja tidak buruk juga.”
Namun ia segera menahan diri.
Ia tahu bahwa ujian sebenarnya baru saja dimulai.
Perintah Pertama Abu Nawas
Abu Nawas memandang seluruh pejabat yang berdiri di hadapannya.
“Baik. Aku mempunyai perintah pertama.”
Semua orang bersiap mendengarkan.
“Aku ingin semua pejabat kerajaan membawa kursinya ke halaman istana.”
Para pejabat saling berpandangan.
“Untuk apa, Paduka?” tanya seorang pejabat.
Abu Nawas menjawab,
“Laksanakan saja.”
Tidak lama kemudian, seluruh kursi dibawa ke halaman.
Abu Nawas kemudian berkata,
“Sekarang, duduklah.”
Para pejabat pun duduk.
“Kenapa kita harus melakukan ini?” bisik seorang pejabat kepada temannya.
Abu Nawas mendengarnya.
Ia tersenyum.
“Karena seorang pemimpin harus mengetahui bagaimana rasanya duduk di tempat orang lain.”
Para pejabat terdiam.
Namun belum selesai.
Abu Nawas kemudian berkata,
“Sekarang berdirilah.”
Semua orang berdiri.
“Sekarang duduk lagi.”
Mereka menurut.
Abu Nawas tertawa.
“Bagaimana rasanya?”
Salah seorang pejabat menjawab,
“Biasa saja, Paduka.”
Abu Nawas menggeleng.
“Justru itu masalahnya. Kalian terbiasa memerintah orang lain tanpa pernah memikirkan apakah perintah kalian masuk akal.”
Para pejabat mulai terdiam.
Ujian Kedua
Setelah itu, Abu Nawas memanggil kepala dapur istana.
“Aku ingin tahu, berapa banyak makanan yang tersisa di dapur hari ini?”
Kepala dapur segera menjawab,
“Cukup banyak, Paduka.”
“Apakah semua makanan itu akan habis?”
“Sepertinya tidak.”
Abu Nawas kemudian berkata,
“Kalau begitu, kirimkan makanan yang berlebihan itu kepada rakyat miskin di sekitar istana.”
Kepala dapur terkejut.
“Semua, Paduka?”
“Ya. Jangan sampai makanan yang seharusnya bermanfaat justru terbuang.”
Para pejabat saling memandang.
Mereka mulai menyadari bahwa Abu Nawas tidak menggunakan kekuasaannya untuk bersenang-senang.
Sebaliknya, ia justru memikirkan rakyat.
Tiba-Tiba Ada Seorang Rakyat Menghadap
Tidak lama kemudian, seorang lelaki tua datang menghadap.
Ia membawa pakaian sederhana dan wajah yang tampak cemas.
“Ampun, Paduka. Saya ingin menyampaikan keluhan.”
Abu Nawas mengangguk.
“Silakan.”
Lelaki itu berkata,
“Sawah saya diambil oleh seorang pejabat kerajaan. Saya sudah mengadu beberapa kali, tetapi tidak ada yang mau mendengarkan.”
Ruangan langsung hening.
Pejabat yang disebut lelaki itu tampak gelisah.
Ia segera membela diri.
“Paduka, orang tua itu berbohong!”
Abu Nawas tidak langsung percaya kepada salah satu pihak.
Ia berkata,
“Panggil semua orang yang mengetahui perkara ini.”
Satu per satu saksi datang.
Abu Nawas mendengarkan mereka dengan sabar.
Setelah semuanya selesai berbicara, barulah ia mengambil keputusan.
“Tanah itu harus dikembalikan kepada pemiliknya.”
Pejabat tersebut menundukkan kepala.
“Tetapi, Paduka...”
Abu Nawas memotong.
“Jika seorang pejabat menggunakan kekuasaan untuk mengambil hak rakyat, maka ia bukan sedang melayani kerajaan. Ia sedang merusak kerajaan.”
Semua orang terdiam.
Lelaki tua itu meneteskan air mata.
“Terima kasih, Paduka.”
Abu Nawas mengangguk.
“Jangan berterima kasih kepadaku. Berterima kasihlah karena kebenaran masih bisa ditemukan.”
Raja Kembali ke Istana
Menjelang sore, Raja Harun al-Rasyid kembali ke ruang kerajaan.
Ia melihat Abu Nawas masih duduk di singgasana.
“Bagaimana rasanya menjadi raja?”
Abu Nawas tersenyum.
“Tidak mudah, Paduka.”
“Kenapa?”
“Karena ternyata menjadi raja bukan hanya soal duduk di singgasana dan memberikan perintah.”
Raja tersenyum.
“Lalu?”
“Seorang raja harus mendengar keluhan rakyat, memastikan keadilan ditegakkan, dan menggunakan kekuasaan untuk membantu orang lain.”
Raja mengangguk puas.
Kemudian ia mengambil kembali mahkota dari kepala Abu Nawas.
“Sekarang aku tahu jawabannya.”
“Jawaban apa, Paduka?”
“Engkau pantas diberi kesempatan menjadi raja. Bukan karena engkau pandai memerintah, tetapi karena ketika diberi kekuasaan, engkau justru memikirkan orang lain.”
Abu Nawas tersenyum.
“Kalau begitu, bolehkah saya meminta satu hal?”
“Apa?”
“Besok saya tidak ingin menjadi raja lagi.”
Raja tertawa.
“Kenapa?”
Abu Nawas menjawab,
“Karena menjadi rakyat biasa ternyata jauh lebih tenang. Tidak perlu memikirkan siapa yang harus duduk, siapa yang harus berdiri, dan siapa yang harus diberi makan.”
Seluruh ruangan pun dipenuhi tawa.
Raja bahkan tertawa paling keras.
Pesan Moral
Kisah ini mengajarkan bahwa jabatan dan kekuasaan adalah amanah.
Orang yang memiliki kekuasaan seharusnya tidak menggunakan kedudukannya untuk menyombongkan diri atau mengambil keuntungan pribadi. Sebaliknya, ia harus mau mendengar, berlaku adil, dan memperhatikan orang-orang yang dipimpinnya.
Pemimpin yang baik bukanlah orang yang paling banyak memerintah, tetapi orang yang paling bersedia bertanggung jawab dan melayani.
Para pengawal berlarian di halaman istana. Para pejabat kerajaan dipanggil satu per satu. Bahkan para pelayan tidak berani banyak bicara.
Di tengah kesibukan itu, seorang pengawal datang mencari Abu Nawas.
Gambar: Abu Nawas sedang menjadi Raja
Abu Nawas yang sedang menikmati sarapan langsung berhenti mengunyah.
“Dipanggil raja?”
“Benar!”
Abu Nawas menghela napas.
“Kalau aku dipanggil ke istana pagi-pagi begini, biasanya ada dua kemungkinan.”
“Apa itu?”
“Entah aku akan mendapat hadiah, atau justru mendapat masalah.”
Pengawal itu hanya menggeleng.
“Sudahlah. Cepat ikut aku.”
Dengan langkah santai, Abu Nawas akhirnya menuju istana.
Ia sama sekali tidak menyangka bahwa hari itu hidupnya akan berubah menjadi sebuah kejadian yang tidak akan pernah dilupakan oleh seluruh penghuni kerajaan.
Raja Memberikan Perintah Aneh
Sesampainya di ruang kerajaan, Abu Nawas melihat Raja Harun al-Rasyid duduk di singgasana.
Di sampingnya berdiri beberapa pejabat kerajaan dengan wajah serius.
Abu Nawas memberi salam dan membungkuk.
“Ampun, Paduka. Mengapa saya dipanggil?”
Raja menatap Abu Nawas cukup lama.
“Abu Nawas, hari ini aku mempunyai sebuah permintaan khusus.”
Abu Nawas mulai curiga.
“Permintaan seperti apa, Paduka?”
Raja tersenyum.
“Untuk satu hari, aku ingin kau menjadi raja.”
Ruangan tiba-tiba sunyi.
Abu Nawas membelalakkan mata.
“Menjadi... raja?”
“Benar.”
Para pejabat mulai berbisik.
Ada yang tersenyum mengejek. Ada pula yang tampak tidak percaya.
Abu Nawas menggaruk kepalanya.
“Paduka tidak sedang bercanda, bukan?”
“Aku serius.”
“Kalau begitu, apa yang harus saya lakukan?”
“Hari ini kau bebas memberikan perintah kepada siapa pun di istana. Aku ingin melihat bagaimana kau memimpin kerajaan.”
Abu Nawas terdiam.
Ia mulai memahami maksud raja.
Ini bukan hadiah.
Raja sedang mengujinya.
Mungkin raja ingin mengetahui apakah Abu Nawas akan menjadi sombong ketika diberi kekuasaan.
Abu Nawas kemudian tersenyum.
“Baiklah, Paduka. Saya akan menjalankan tugas ini.”
Raja berdiri dan memberikan mahkota kerajaan kepada Abu Nawas.
“Mulai sekarang, engkau adalah raja.”
Abu Nawas mengenakan mahkota itu.
Kemudian ia duduk di singgasana.
Para pejabat kerajaan menundukkan kepala.
“Daulat Paduka Raja Abu Nawas!”
Abu Nawas hampir tertawa.
Dalam hati ia berkata,
“Wah, ternyata menjadi raja tidak buruk juga.”
Namun ia segera menahan diri.
Ia tahu bahwa ujian sebenarnya baru saja dimulai.
Perintah Pertama Abu Nawas
Abu Nawas memandang seluruh pejabat yang berdiri di hadapannya.
“Baik. Aku mempunyai perintah pertama.”
Semua orang bersiap mendengarkan.
“Aku ingin semua pejabat kerajaan membawa kursinya ke halaman istana.”
Para pejabat saling berpandangan.
“Untuk apa, Paduka?” tanya seorang pejabat.
Abu Nawas menjawab,
“Laksanakan saja.”
Tidak lama kemudian, seluruh kursi dibawa ke halaman.
Abu Nawas kemudian berkata,
“Sekarang, duduklah.”
Para pejabat pun duduk.
“Kenapa kita harus melakukan ini?” bisik seorang pejabat kepada temannya.
Abu Nawas mendengarnya.
Ia tersenyum.
“Karena seorang pemimpin harus mengetahui bagaimana rasanya duduk di tempat orang lain.”
Para pejabat terdiam.
Namun belum selesai.
Abu Nawas kemudian berkata,
“Sekarang berdirilah.”
Semua orang berdiri.
“Sekarang duduk lagi.”
Mereka menurut.
Abu Nawas tertawa.
“Bagaimana rasanya?”
Salah seorang pejabat menjawab,
“Biasa saja, Paduka.”
Abu Nawas menggeleng.
“Justru itu masalahnya. Kalian terbiasa memerintah orang lain tanpa pernah memikirkan apakah perintah kalian masuk akal.”
Para pejabat mulai terdiam.
Ujian Kedua
Setelah itu, Abu Nawas memanggil kepala dapur istana.
“Aku ingin tahu, berapa banyak makanan yang tersisa di dapur hari ini?”
Kepala dapur segera menjawab,
“Cukup banyak, Paduka.”
“Apakah semua makanan itu akan habis?”
“Sepertinya tidak.”
Abu Nawas kemudian berkata,
“Kalau begitu, kirimkan makanan yang berlebihan itu kepada rakyat miskin di sekitar istana.”
Kepala dapur terkejut.
“Semua, Paduka?”
“Ya. Jangan sampai makanan yang seharusnya bermanfaat justru terbuang.”
Para pejabat saling memandang.
Mereka mulai menyadari bahwa Abu Nawas tidak menggunakan kekuasaannya untuk bersenang-senang.
Sebaliknya, ia justru memikirkan rakyat.
Tiba-Tiba Ada Seorang Rakyat Menghadap
Tidak lama kemudian, seorang lelaki tua datang menghadap.
Ia membawa pakaian sederhana dan wajah yang tampak cemas.
“Ampun, Paduka. Saya ingin menyampaikan keluhan.”
Abu Nawas mengangguk.
“Silakan.”
Lelaki itu berkata,
“Sawah saya diambil oleh seorang pejabat kerajaan. Saya sudah mengadu beberapa kali, tetapi tidak ada yang mau mendengarkan.”
Ruangan langsung hening.
Pejabat yang disebut lelaki itu tampak gelisah.
Ia segera membela diri.
“Paduka, orang tua itu berbohong!”
Abu Nawas tidak langsung percaya kepada salah satu pihak.
Ia berkata,
“Panggil semua orang yang mengetahui perkara ini.”
Satu per satu saksi datang.
Abu Nawas mendengarkan mereka dengan sabar.
Setelah semuanya selesai berbicara, barulah ia mengambil keputusan.
“Tanah itu harus dikembalikan kepada pemiliknya.”
Pejabat tersebut menundukkan kepala.
“Tetapi, Paduka...”
Abu Nawas memotong.
“Jika seorang pejabat menggunakan kekuasaan untuk mengambil hak rakyat, maka ia bukan sedang melayani kerajaan. Ia sedang merusak kerajaan.”
Semua orang terdiam.
Lelaki tua itu meneteskan air mata.
“Terima kasih, Paduka.”
Abu Nawas mengangguk.
“Jangan berterima kasih kepadaku. Berterima kasihlah karena kebenaran masih bisa ditemukan.”
Raja Kembali ke Istana
Menjelang sore, Raja Harun al-Rasyid kembali ke ruang kerajaan.
Ia melihat Abu Nawas masih duduk di singgasana.
“Bagaimana rasanya menjadi raja?”
Abu Nawas tersenyum.
“Tidak mudah, Paduka.”
“Kenapa?”
“Karena ternyata menjadi raja bukan hanya soal duduk di singgasana dan memberikan perintah.”
Raja tersenyum.
“Lalu?”
“Seorang raja harus mendengar keluhan rakyat, memastikan keadilan ditegakkan, dan menggunakan kekuasaan untuk membantu orang lain.”
Raja mengangguk puas.
Kemudian ia mengambil kembali mahkota dari kepala Abu Nawas.
“Sekarang aku tahu jawabannya.”
“Jawaban apa, Paduka?”
“Engkau pantas diberi kesempatan menjadi raja. Bukan karena engkau pandai memerintah, tetapi karena ketika diberi kekuasaan, engkau justru memikirkan orang lain.”
Abu Nawas tersenyum.
“Kalau begitu, bolehkah saya meminta satu hal?”
“Apa?”
“Besok saya tidak ingin menjadi raja lagi.”
Raja tertawa.
“Kenapa?”
Abu Nawas menjawab,
“Karena menjadi rakyat biasa ternyata jauh lebih tenang. Tidak perlu memikirkan siapa yang harus duduk, siapa yang harus berdiri, dan siapa yang harus diberi makan.”
Seluruh ruangan pun dipenuhi tawa.
Raja bahkan tertawa paling keras.
Hari itu Abu Nawas memang hanya menjadi raja selama satu hari.
Namun dalam waktu singkat tersebut, ia berhasil menunjukkan sesuatu yang sering dilupakan banyak orang: kekuasaan bukanlah kesempatan untuk memerintah sesuka hati, melainkan amanah untuk melindungi dan melayani.
Para pejabat kerajaan yang awalnya mengira Abu Nawas akan menggunakan kesempatan itu untuk bersenang-senang akhirnya justru dibuat terkejut.
Mereka melihat bahwa kecerdikan Abu Nawas bukan hanya digunakan untuk membuat orang tertawa, tetapi juga untuk menyelesaikan persoalan dan membela kebenaran.
Namun dalam waktu singkat tersebut, ia berhasil menunjukkan sesuatu yang sering dilupakan banyak orang: kekuasaan bukanlah kesempatan untuk memerintah sesuka hati, melainkan amanah untuk melindungi dan melayani.
Para pejabat kerajaan yang awalnya mengira Abu Nawas akan menggunakan kesempatan itu untuk bersenang-senang akhirnya justru dibuat terkejut.
Mereka melihat bahwa kecerdikan Abu Nawas bukan hanya digunakan untuk membuat orang tertawa, tetapi juga untuk menyelesaikan persoalan dan membela kebenaran.
Pesan Moral
Kisah ini mengajarkan bahwa jabatan dan kekuasaan adalah amanah.
Orang yang memiliki kekuasaan seharusnya tidak menggunakan kedudukannya untuk menyombongkan diri atau mengambil keuntungan pribadi. Sebaliknya, ia harus mau mendengar, berlaku adil, dan memperhatikan orang-orang yang dipimpinnya.
Pemimpin yang baik bukanlah orang yang paling banyak memerintah, tetapi orang yang paling bersedia bertanggung jawab dan melayani.

Posting Komentar untuk "Abu Nawas Menjadi Raja Sehari, Akal Cerdiknya Bikin Semua Orang Terkejut"