Abu Nawas Disuruh Menangkap Angin, Begini Cara Cerdiknya Menghadapi Raja

Pagi itu, suasana istana Kerajaan Baghdad terasa berbeda. Para pengawal berdiri tegak, para pelayan berjalan dengan hati-hati, dan para pejabat kerajaan duduk menunggu titah sang raja.
Di tengah suasana yang tegang itu, Abu Nawas dipanggil menghadap.
Ia sudah menduga, jika namanya dipanggil ke istana, biasanya bukan untuk menerima hadiah.

Gambar: Abu Nawas sedang menangkap angin

“Abu Nawas!” seru seorang pengawal.
“Ya, aku di sini,” jawab Abu Nawas sambil melangkah masuk.
Di hadapannya, sang raja duduk di singgasana dengan wajah serius.
“Abu Nawas,” kata Raja, “hari ini aku mempunyai sebuah tugas untukmu.”
Abu Nawas menundukkan kepala.
“Apakah tugas itu sulit, Paduka?”
Raja tersenyum tipis.
“Menurutmu?”
Abu Nawas menghela napas.
“Kalau Paduka sampai memanggil saya secara khusus, saya yakin tugasnya tidak akan semudah menyapu halaman istana.”
Beberapa pejabat menahan tawa.
Namun sang raja tetap memasang wajah serius.
“Benar. Tugas ini sangat sulit.”

Raja kemudian berdiri dari singgasananya.
“Aku ingin engkau menangkap angin.”
Ruangan mendadak sunyi.
Abu Nawas terdiam.
Para pejabat kerajaan saling berpandangan. Beberapa bahkan mulai tersenyum karena merasa Abu Nawas akhirnya mendapatkan tugas yang tidak mungkin diselesaikan.
“Menangkap... angin, Paduka?” tanya Abu Nawas memastikan.
“Benar.”
“Dengan tangan?”
“Kalau bisa.”
Abu Nawas menggaruk kepalanya.
“Kalau begitu, apakah saya boleh menggunakan karung?”
Raja tertawa kecil.
“Gunakan apa pun yang kau mau. Tetapi aku ingin melihat angin itu berada di tanganku besok pagi.”
Abu Nawas membungkuk.
“Baik, Paduka. Saya akan melaksanakan perintah.”
Ia kemudian meninggalkan istana.
Sesampainya di rumah, Abu Nawas duduk di depan rumah sambil berpikir.
“Bagaimana mungkin angin ditangkap?” gumamnya.
Ia mencoba mencari berbagai cara.
Menggunakan kain? Angin akan melewatinya.
Menggunakan karung? Angin tidak akan tinggal di dalamnya.
Menggunakan kotak? Angin tetap saja tidak terlihat.
Namun Abu Nawas tidak menyerah.
Ia tahu bahwa perintah raja sebenarnya bukan sekadar tugas biasa. Mungkin raja sedang menguji kecerdikannya.
Keesokan paginya, Abu Nawas kembali ke istana.
Ia datang membawa sebuah benda yang membuat para pejabat kerajaan kebingungan.
“Apa yang kau bawa?” tanya raja.
“Angin, Paduka.”
Semua orang langsung tertawa.
“Jangan bercanda, Abu Nawas!” bentak salah seorang pejabat.
Abu Nawas tetap tenang.
“Saya tidak bercanda.”
Raja mendekat.
“Mana anginnya?”
Abu Nawas menunjuk sebuah botol yang ditutup rapat.
“Di dalam botol itu, Paduka.”
Raja mengangkat alis.
“Bagaimana mungkin?”
Abu Nawas tersenyum.
“Semalam saya membuka botol ini di tempat yang banyak anginnya. Ketika angin masuk, saya langsung menutupnya.”
Para pejabat terdiam.
Raja memandangi botol itu.
“Apakah benar ada angin di dalamnya?”
“Tentu, Paduka.”
“Bagaimana aku bisa membuktikannya?”
Abu Nawas kemudian berkata,
“Silakan Paduka membuka tutupnya.”
Raja membuka tutup botol.
Abu Nawas segera berkata,
“Nah, sekarang anginnya sudah keluar.”
Ruangan istana langsung dipenuhi tawa.
Raja pun tertawa terbahak-bahak.
“Abu Nawas! Kau memang selalu mempunyai cara yang aneh untuk menjawab tantangan.”
Abu Nawas membungkuk.
“Paduka memberi saya tugas yang mustahil. Saya hanya berusaha memberikan jawaban yang tidak kalah mustahil.”
Raja mengangguk kagum.
“Tetapi sebenarnya apa yang ingin kau ajarkan kepadaku?”
Abu Nawas menjawab dengan tenang,
“Tidak semua perintah harus dilawan hanya karena sulit dilakukan. Terkadang kita harus menggunakan akal untuk mencari jalan keluar.”
Raja tersenyum.
“Jawabanmu benar.”
Kemudian sang raja memberikan Abu Nawas hadiah sebagai penghargaan atas kecerdasannya.

Sebelum Abu Nawas meninggalkan istana, raja berkata,
“Abu Nawas.”
“Ya, Paduka?”
“Jika besok aku menyuruhmu menangkap cahaya matahari, apa yang akan kau lakukan?”
Abu Nawas tersenyum.
“Saya akan membawa cermin, Paduka.”
Raja kembali tertawa.
“Pergilah sebelum aku menemukan tugas yang lebih sulit!”
Abu Nawas membungkuk sambil tersenyum.
“Dengan senang hati, Paduka.”

Dari kisah Abu Nawas ini, kita dapat mengambil beberapa pelajaran:
  • Gunakan akal dan kreativitas ketika menghadapi masalah. Masalah yang tampak mustahil terkadang memiliki jalan keluar jika kita mau berpikir dengan cara berbeda.
  • Jangan mudah menyerah ketika menghadapi tantangan. Abu Nawas tidak langsung mengatakan bahwa perintah raja mustahil dilakukan.
  • Kecerdikan harus digunakan dengan bijaksana. Kepandaian bukan hanya tentang mengetahui banyak hal, tetapi juga tentang menemukan solusi dalam keadaan sulit.
  • Humor dapat menjadi cara untuk mencairkan suasana. Abu Nawas menyelesaikan masalah tanpa membuat keadaan menjadi semakin tegang.
Pesan utama: Ketika menghadapi masalah yang sulit, jangan terburu-buru mengatakan “tidak mungkin”. Berpikirlah dengan tenang, karena sering kali jalan keluar muncul dari cara pandang yang berbeda.

Posting Komentar untuk "Abu Nawas Disuruh Menangkap Angin, Begini Cara Cerdiknya Menghadapi Raja"