Douwes Dekker: Tokoh Pergerakan yang Memperjuangkan Nasionalisme Indonesia

Douwes Dekker (Ernest François Eugène Douwes Dekker, yang kemudian berganti nama menjadi Danudirja Setiabudi) adalah salah satu pelopor paling unik dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia. 


Meskipun memiliki darah campuran Belanda, Prancis, Jerman, dan Jawa, ia berjuang untuk kemerdekaan Indonesia dengan semangat yang melebihi banyak tokoh pribumi. Ia adalah salah satu pendiri partai politik pertama di Indonesia, Indische Partij (Partai Hindia), bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Ki Hadjar Dewantara ketiganya dikenal sebagai Tiga Serangkai. 

Kontribusi utamanya terletak pada gagasan "bangsa Indonesia" yang melampaui batas ras, dengan menyerukan agar semua orang yang menganggap Indonesia sebagai tanah air baik pribumi, Indo-Eropa, maupun kelompok lain bersatu untuk merebut kemerdekaan. Gagasan ini sangat memengaruhi Soekarno dan pergerakan nasionalisme Indonesia selanjutnya.

1. Latar Belakang Multikultural dan Kebangkitan Awal

Douwes Dekker lahir pada 8 Oktober 1879 di Pasuruan, Jawa Timur. Ayahnya adalah seorang broker bank berdarah Belanda, sedangkan ibunya adalah orang Indo-Eropa berdarah Jerman dan Jawa. Ia juga memiliki kaitan keluarga yang terkenal: kakek buyutnya adalah Multatuli (Eduard Douwes Dekker), penulis novel Max Havelaar yang terkenal karena kritiknya terhadap penindasan kolonial.

Darah campuran ini, dalam sistem stratifikasi kolonial saat itu, sebenarnya bisa memberinya posisi yang relatif istimewa. Namun, ia memilih jalan yang berlawanan. Ketika bekerja di perkebunan kopi di Malang, ia menyaksikan langsung perlakuan kasar manajemen Belanda terhadap buruh pribumi. Ia membela para pekerja tersebut dan berselisih dengan atasannya, yang berujung pada pemecatannya. Pengalaman ini menjadi katalis peralihannya menuju sikap anti-kolonial.

2. Dari Medan Perang Afrika Selatan hingga Dunia Pers Jawa

Pada tahun 1899, Douwes Dekker pergi ke Afrika Selatan untuk bergabung dengan orang-orang Boer dalam perang melawan Inggris. Ia menunjukkan keberanian dalam pertempuran dan dijuluki "Brave Kerel" (pemuda pemberani) serta "pejuang Boer" oleh Jenderal De La Rey. Namun, pada tahun 1900 ia ditawan oleh tentara Inggris dan ditahan di beberapa kamp interniran di Ceylon (kini Sri Lanka). Justru selama masa penahanan inilah ia banyak membaca dan mulai merenungkan secara sistematis hakikat kolonialisme.

Setelah kembali ke Jawa pada tahun 1903, ia terjun ke dunia jurnalistik. Ia bekerja di De Locomotief dan Bataviaasch Nieuwsblad, menulis banyak artikel yang mengkritik kebijakan kolonial dan mengungkap penderitaan rakyat pribumi. Pada tahun 1911 ia mendirikan majalahnya sendiri, Het Tijdschrift dan De Express. Het Tijdschrift memiliki visi internasional yang jelas, mengundang penulis-penulis radikal dari Eropa dan India; sementara De Express menjadi corong penting propaganda nasionalisme Indonesia.

3. "Hindia untuk Orang Hindia": Pendirian Indische Partij dan Gagasan Nasionalisme

Pada tahun 1912, Douwes Dekker bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Suwardi Suryaningrat mendirikan Indische Partij (Partai Hindia). Ini adalah organisasi politik pertama dalam sejarah Indonesia yang secara tegas menetapkan kemerdekaan sebagai tujuan akhirnya.

Keunikan Indische Partij terletak pada inklusivitas rasialnya. Douwes Dekker memperkenalkan konsep "Indiërs" mencakup semua orang yang menganggap Hindia sebagai tanah air dan bersedia berkorban untuknya, tanpa membedakan pribumi, Indo-Eropa, atau Tionghoa. 

Ia menyerukan penghapusan "garis warna" (colour line), dengan keyakinan bahwa runtuhnya kekuasaan kolonial memerlukan aksi bersama dari semua kelompok. Slogan partai, "Hindia untuk orang Hindia," secara langsung menantang legitimasi kekuasaan kolonial.

Gagasan ini sangat maju pada zamannya. Sebagian besar organisasi nasionalis saat itu masih terbatas pada kelompok etnis atau budaya tertentu (seperti Budi Utomo yang hanya terbatas pada elit budaya Jawa), sementara Douwes Dekker berusaha membangun benih "bangsa Indonesia" yang melampaui suku bangsa. Soekarno kemudian secara tegas mengakui bahwa pemikiran nasionalismenya sangat dipengaruhi oleh Douwes Dekker, dan menyebutnya sebagai "pelopor pergerakan nasional."

4. Pengasingan dan Perjuangan yang Tak Pernah Padam

Pertumbuhan Indische Partij yang pesat menarik perhatian pemerintah kolonial. Pada tahun 1913, partai itu dibubarkan, dan Douwes Dekker bersama anggota Tiga Serangkai lainnya diasingkan ke Belanda.

Pengasingan tidak menghentikan aktivitasnya. Selama di Eropa, ia menjalin hubungan dengan revolusioner India seperti Shyamaji Krishnavarma dan masuk ke Universitas Zurich untuk mengambil program doktor ilmu ekonomi (meskipun tidak menyelesaikannya). Setelah kembali ke Jawa pada tahun 1918, ia terus berkecimpung di dunia pers dan pendidikan, mendirikan sekolah Ksatrian Instituut.

Selama Perang Dunia II, karena darah Jermannya, ia dicurigai oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai simpatisan Nazi, dan pada tahun 1941 diasingkan ke Suriname. Ia menghabiskan masa perang di kamp interniran, dan baru kembali ke Indonesia pada tahun 1946. Saat itu Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaannya, dan Soekarno memberinya nama baru Danudirja Setiabudi serta mengangkatnya sebagai Menteri Negara (1946–1947).

5. Posisi Historis

Kehidupan Douwes Dekker penuh dengan kontradiksi dan ketegangan: ia adalah keturunan penjajah, namun menjadi penentang paling gigih sistem kolonial; konsep "orang Indonesia"-nya terlalu radikal pada masanya, namun menyediakan sumber pemikiran bagi integrasi nasional di kemudian hari; ia masih dalam pengasingan saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, namun telah dianggap sebagai mentor spiritual oleh Soekarno.

Pada tahun 1961, pemerintah Indonesia menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional. Warisannya terletak pada satu proposisi inti: nasionalisme tidak boleh dibatasi oleh garis keturunan atau kelompok etnis, melainkan harus didasarkan pada kehendak politik bersama dan rasa memiliki terhadap suatu tanah air. Gagasan ini, dalam negara Indonesia yang multietnis seperti sekarang, masih memiliki makna yang sangat mendalam dan relevan.