Semua Orang Tidak Bisa Menjawab Pertanyaan Raja, Tetapi Abu Nawas Justru Tersenyum
Di sebuah negeri yang makmur dan damai, hiduplah seorang raja yang terkenal cerdik namun juga gemar menguji rakyatnya. Raja Harun namanya. Setiap bulan, ia mengumpulkan para cendekiawan, ulama, dan pembesar istana untuk menjawab teka-teki yang ia siapkan dengan penuh perhitungan. Bagi siapa pun yang berhasil menjawab, hadiah emas menanti. Namun bagi yang gagal, hukuman ringan berupa kerja bakti di istana selama sebulan harus mereka terima dengan lapang dada.
Kebiasaan sang raja itu sudah menjadi tradisi yang dinanti sekaligus ditakuti. Para menteri datang dengan wajah tegang, para ulama mengusap janggut gugup, dan para pujangga sibuk memutar otak sejak pagi buta. Tidak ada yang tahu pertanyaan apa yang akan keluar dari mulut Raja Harun. Yang mereka tahu, pertanyaan itu selalu sederhana di permukaan, namun berliku di kedalamannya. Dan pagi itu, balairung istana kembali dipenuhi wajah-wajah cemas, bersiap menghadapi ujian yang entah apa bentuknya.
Balairung yang Membeku
Raja Harun duduk di singgasananya dengan senyum tipis yang sulit ditebak. Matanya menyapu seluruh hadirin, satu per satu, seperti elang yang mengamati mangsanya. Ketika ia akhirnya membuka mulut, suaranya lantang dan jelas, menggema di seluruh ruangan.
"Wahai rakyatku yang bijak," ujarnya. "Hari ini aku memiliki satu pertanyaan. Siapa yang bisa menjawabnya, akan kuberi hadiah istimewa."
Semua hadirin menajamkan pendengaran. Napas mereka tertahan.
"Apa yang ada di dalam hatiku saat ini?"
Hening. Balairung itu seakan membeku. Tidak ada suara, tidak ada gerakan, bahkan debu yang beterbangan pun seperti ikut berhenti.
Satu per Satu yang Berguguran
Para menteri saling pandang, berharap ada di antara mereka yang berani lebih dulu. Akhirnya, seorang menteri tua melangkah maju dengan dada membusung. "Tuanku, yang ada di dalam hati Paduka tentu saja rasa cinta kepada rakyat," katanya penuh keyakinan.
Raja Harun menggeleng. "Bukan."
Menteri kedua maju dengan gugup. "Paduka pasti sedang merasa bahagia karena negeri ini makmur."
"Bukan."
Menteri ketiga memberanikan diri. "Paduka sedang memikirkan keadilan bagi seluruh rakyat."
"Juga bukan."
Satu per satu mereka maju, dan satu per satu pula mereka mundur dengan wajah pucat. Ada yang menebak raja sedang sedih, ada yang menduga raja sedang rindu, ada pula yang berani menyebut raja sedang marah. Namun semuanya salah. Hukuman kerja bakti sebulan mulai terbayang di pelupuk mata mereka. Wajah-wajah bangsawan yang biasanya angkuh kini berubah keruh, seperti langit yang hendak turun hujan.
Abu Nawas di Sudut Balairung
Di sudut balairung, seorang pria berpakaian sederhana berdiri dengan tangan bersedekap. Abu Nawas namanya. Ia bukan menteri, bukan ulama besar, bukan pula pujangga istana. Ia hanya seorang rakyat biasa yang kadang dipanggil ke istana karena kecerdikannya yang legendaris. Namun pagi itu, ia hanya berdiri diam, memperhatikan dengan mata berbinar, seolah sedang menonton pertunjukan yang ia sudah tahu akhirnya.
Ketika raja akhirnya menyapu pandangan ke seluruh balairung, matanya berhenti pada sosok itu.
"Abu Nawas," panggil sang raja. "Engkau belum bicara sama sekali. Apakah engkau tahu jawabannya?"
Semua mata beralih ke Abu Nawas. Ada yang menahan napas, ada yang menyeringai sinis. "Ah, orang bodoh itu pasti tidak tahu," bisik seseorang di barisan belakang.
Senyum yang Tak Terduga
Abu Nawas melangkah maju. Ia tidak menggertak, tidak gugup, tidak pula sombong. Langkahnya tenang, seperti air yang mengalir di sungai yang sudah hafal jalannya. Dan yang paling mengejutkan semua orang, ia tersenyum. Senyum yang tenang, seperti seseorang yang sudah mengetahui akhir sebuah cerita.
"Tuanku yang mulia," ujar Abu Nawas dengan suara pelan namun jelas. "Izinkan hamba menjawab pertanyaan Paduka."
"Silakan," kata Raja Harun, matanya menyala penasaran.
Abu Nawas menatap raja lekat-lekat. "Yang ada di dalam hati Paduka saat ini adalah... pertanyaan itu sendiri."
Balairung kembali hening. Namun hening kali ini berbeda. Ada yang mengerutkan dahi, ada yang tersentak, ada yang membuka mulut tapi tak tahu harus berkata apa. Bahkan para ulama yang biasanya paling cepat berkomentar, kali ini hanya bisa terdiam.
Jawaban yang Tak Terbantahkan
Raja Harun terdiam. Senyumnya memudar, digantikan oleh tatapan takjub.
"Jelaskan maksudmu," perintah sang raja.
Abu Nawas mengangguk. "Paduka bertanya apa yang ada di dalam hati Paduka. Jika hamba menjawab 'sedih', bisa jadi salah. Jika hamba menjawab 'senang', bisa jadi juga salah. Sebab tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu isi hati Paduka selain Paduka sendiri. Maka yang pasti ada di dalam hati Paduka saat ini adalah pertanyaan itu sendiri. Karena itulah yang Paduka pikirkan, itulah yang Paduka rasakan, itulah yang Paduka ucapkan."
Raja Harun terpaku. Perlahan, bibirnya bergetar. Lalu ia tertawa. Tawa yang keras dan lepas, menggema di seluruh balairung, memecah keheningan yang tadi menyelimuti.
"Abu Nawas!" seru sang raja di antara tawanya. "Engkau benar-benar luar biasa! Semua orang sibuk mencari jawaban yang rumit, tetapi engkau justru menjawab dengan sesuatu yang sederhana namun tak terbantahkan."
Pelajaran di Balairung
Para hadirin pun akhirnya tersadar. Mereka yang tadinya menyeringai sinis kini menundukkan kepala. Mereka yang tadinya merasa paling pandai kini merasa kecil. Para menteri yang gagal menjawab hanya bisa menghela napas, menyadari bahwa kecerdasan sejati tidak selalu bersemayam di balik pakaian mewah dan gelar yang panjang.
Raja Harun bangkit dari singgasananya. "Hari ini, aku belajar sesuatu," ujarnya dengan suara yang lebih pelan, namun penuh makna. "Bahwa kebijaksanaan tidak selalu datang dari mereka yang berpakaian mewah atau bergelar tinggi. Terkadang, ia datang dari orang yang paling sederhana di antara kita."
Abu Nawas hanya tersenyum. Ia tidak meminta hadiah emas, tidak meminta jabatan, tidak meminta pujian. Ia hanya berkata, "Tuanku, hamba hanya menjawab dengan apa yang hamba pahami. Tidak lebih."
Penutup: Senyum yang Terkenang
Maka pulanglah Abu Nawas ke rumahnya yang sederhana, dengan langkah yang sama tenangnya seperti saat ia datang. Sementara di istana, nama Abu Nawas kembali dikenang. Bukan karena ia pintar, bukan karena ia berani, tetapi karena ia tahu satu hal yang sering dilupakan orang: bahwa tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban yang rumit. Terkadang, jawaban paling jujur adalah pertanyaan itu sendiri.
Dan di dalam hati Raja Harun, sejak hari itu, tersimpan satu nama yang selalu membuatnya tersenyum. Abu Nawas.
Balairung yang Membeku
Raja Harun duduk di singgasananya dengan senyum tipis yang sulit ditebak. Matanya menyapu seluruh hadirin, satu per satu, seperti elang yang mengamati mangsanya. Ketika ia akhirnya membuka mulut, suaranya lantang dan jelas, menggema di seluruh ruangan.
"Wahai rakyatku yang bijak," ujarnya. "Hari ini aku memiliki satu pertanyaan. Siapa yang bisa menjawabnya, akan kuberi hadiah istimewa."
Semua hadirin menajamkan pendengaran. Napas mereka tertahan.
"Apa yang ada di dalam hatiku saat ini?"
Hening. Balairung itu seakan membeku. Tidak ada suara, tidak ada gerakan, bahkan debu yang beterbangan pun seperti ikut berhenti.
Satu per Satu yang Berguguran
Para menteri saling pandang, berharap ada di antara mereka yang berani lebih dulu. Akhirnya, seorang menteri tua melangkah maju dengan dada membusung. "Tuanku, yang ada di dalam hati Paduka tentu saja rasa cinta kepada rakyat," katanya penuh keyakinan.
Raja Harun menggeleng. "Bukan."
Menteri kedua maju dengan gugup. "Paduka pasti sedang merasa bahagia karena negeri ini makmur."
"Bukan."
Menteri ketiga memberanikan diri. "Paduka sedang memikirkan keadilan bagi seluruh rakyat."
"Juga bukan."
Satu per satu mereka maju, dan satu per satu pula mereka mundur dengan wajah pucat. Ada yang menebak raja sedang sedih, ada yang menduga raja sedang rindu, ada pula yang berani menyebut raja sedang marah. Namun semuanya salah. Hukuman kerja bakti sebulan mulai terbayang di pelupuk mata mereka. Wajah-wajah bangsawan yang biasanya angkuh kini berubah keruh, seperti langit yang hendak turun hujan.
Abu Nawas di Sudut Balairung
Di sudut balairung, seorang pria berpakaian sederhana berdiri dengan tangan bersedekap. Abu Nawas namanya. Ia bukan menteri, bukan ulama besar, bukan pula pujangga istana. Ia hanya seorang rakyat biasa yang kadang dipanggil ke istana karena kecerdikannya yang legendaris. Namun pagi itu, ia hanya berdiri diam, memperhatikan dengan mata berbinar, seolah sedang menonton pertunjukan yang ia sudah tahu akhirnya.
Ketika raja akhirnya menyapu pandangan ke seluruh balairung, matanya berhenti pada sosok itu.
"Abu Nawas," panggil sang raja. "Engkau belum bicara sama sekali. Apakah engkau tahu jawabannya?"
Semua mata beralih ke Abu Nawas. Ada yang menahan napas, ada yang menyeringai sinis. "Ah, orang bodoh itu pasti tidak tahu," bisik seseorang di barisan belakang.
Senyum yang Tak Terduga
Abu Nawas melangkah maju. Ia tidak menggertak, tidak gugup, tidak pula sombong. Langkahnya tenang, seperti air yang mengalir di sungai yang sudah hafal jalannya. Dan yang paling mengejutkan semua orang, ia tersenyum. Senyum yang tenang, seperti seseorang yang sudah mengetahui akhir sebuah cerita.
"Tuanku yang mulia," ujar Abu Nawas dengan suara pelan namun jelas. "Izinkan hamba menjawab pertanyaan Paduka."
"Silakan," kata Raja Harun, matanya menyala penasaran.
Abu Nawas menatap raja lekat-lekat. "Yang ada di dalam hati Paduka saat ini adalah... pertanyaan itu sendiri."
Balairung kembali hening. Namun hening kali ini berbeda. Ada yang mengerutkan dahi, ada yang tersentak, ada yang membuka mulut tapi tak tahu harus berkata apa. Bahkan para ulama yang biasanya paling cepat berkomentar, kali ini hanya bisa terdiam.
Jawaban yang Tak Terbantahkan
Raja Harun terdiam. Senyumnya memudar, digantikan oleh tatapan takjub.
"Jelaskan maksudmu," perintah sang raja.
Abu Nawas mengangguk. "Paduka bertanya apa yang ada di dalam hati Paduka. Jika hamba menjawab 'sedih', bisa jadi salah. Jika hamba menjawab 'senang', bisa jadi juga salah. Sebab tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu isi hati Paduka selain Paduka sendiri. Maka yang pasti ada di dalam hati Paduka saat ini adalah pertanyaan itu sendiri. Karena itulah yang Paduka pikirkan, itulah yang Paduka rasakan, itulah yang Paduka ucapkan."
Raja Harun terpaku. Perlahan, bibirnya bergetar. Lalu ia tertawa. Tawa yang keras dan lepas, menggema di seluruh balairung, memecah keheningan yang tadi menyelimuti.
"Abu Nawas!" seru sang raja di antara tawanya. "Engkau benar-benar luar biasa! Semua orang sibuk mencari jawaban yang rumit, tetapi engkau justru menjawab dengan sesuatu yang sederhana namun tak terbantahkan."
Pelajaran di Balairung
Para hadirin pun akhirnya tersadar. Mereka yang tadinya menyeringai sinis kini menundukkan kepala. Mereka yang tadinya merasa paling pandai kini merasa kecil. Para menteri yang gagal menjawab hanya bisa menghela napas, menyadari bahwa kecerdasan sejati tidak selalu bersemayam di balik pakaian mewah dan gelar yang panjang.
Raja Harun bangkit dari singgasananya. "Hari ini, aku belajar sesuatu," ujarnya dengan suara yang lebih pelan, namun penuh makna. "Bahwa kebijaksanaan tidak selalu datang dari mereka yang berpakaian mewah atau bergelar tinggi. Terkadang, ia datang dari orang yang paling sederhana di antara kita."
Abu Nawas hanya tersenyum. Ia tidak meminta hadiah emas, tidak meminta jabatan, tidak meminta pujian. Ia hanya berkata, "Tuanku, hamba hanya menjawab dengan apa yang hamba pahami. Tidak lebih."
Penutup: Senyum yang Terkenang
Maka pulanglah Abu Nawas ke rumahnya yang sederhana, dengan langkah yang sama tenangnya seperti saat ia datang. Sementara di istana, nama Abu Nawas kembali dikenang. Bukan karena ia pintar, bukan karena ia berani, tetapi karena ia tahu satu hal yang sering dilupakan orang: bahwa tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban yang rumit. Terkadang, jawaban paling jujur adalah pertanyaan itu sendiri.
Dan di dalam hati Raja Harun, sejak hari itu, tersimpan satu nama yang selalu membuatnya tersenyum. Abu Nawas.
