KH. Hasyim Asy'ari: Ulama Besar di Balik Perjuangan Kemerdekaan

Di balik gemuruh pertempuran 10 November 1945 di Surabaya yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan, terdapat sosok ulama yang jarang disebut dalam narasi besar sejarah nasional: KH Hasyim Asy'ari. Pendiri Nahdlatul Ulama ini bukanlah seorang jenderal atau politikus, melainkan seorang kiai dari Pesantren Tebuireng yang otoritas keagamaannya mampu menggerakkan ribuan santri dan pemuda menantang kembalinya penjajahan Belanda. 


Melalui Resolusi Jihad yang dikeluarkannya pada 22 Oktober 1945, ia mengubah kesetiaan religius menjadi kekuatan perlawanan bersenjata, membuktikan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya diperjuangkan dengan senjata, tetapi juga dengan fatwa, doa, dan pengorbanan para santri di medan pertempuran.

Dalam sejarah panjang perjuangan kemerdekaan Indonesia, nama KH Hasyim Asy'ari menempati posisi yang unik dan terhormat. Ia bukan hanya pendiri Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia, tetapi juga seorang pemimpin agama yang mampu menggerakkan massa melalui otoritas keagamaannya dan menyalakan api perang kemerdekaan lewat "Resolusi Jihad". Di dunia pesantren Jawa, ia digelari "Hadhratusy-Syaikh"  yang berarti "Guru Agung".

Dari Pesantren ke Mekah: Pembentukan Seorang Ulama

Pada 10 April 1875, KH Hasyim Asy'ari lahir di Desa Gedang, Jombang, Jawa Timur, dengan nama Muhammad Hasyim. Lingkungan tumbuh kembangnya sarat dengan atmosfer keilmuan Islam: kakeknya, Kyai Usman, adalah pendiri Pesantren Gedang, sementara ayahnya, Kyai Asy'ari, memimpin Pesantren Keras. Dalam keluarga seperti inilah ilmu agama dan pembinaan spiritual menyatu sejak dini.

Sejak usia lima belas tahun, Hasyim memulai perjalanan "santri kelana", menimba ilmu di berbagai pesantren ternama di Jawa, termasuk Wonokoyo di Probolinggo, Langitan di Tuban, dan Siwalan Panji di Sidoarjo. Pada 1892, ia berangkat ke Mekah dan belajar di sana selama delapan tahun, berguru kepada Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Nawawi al-Bantani, dan ulama-ulama besar lainnya. Pengalaman ini tidak hanya memperdalam ilmu agamanya, tetapi juga membukanya pada pergolakan pemikiran yang sedang terjadi di dunia Islam.

Pada 1899, Hasyim kembali ke Jawa dan mendirikan Pesantren Tebuireng di Jombang. Pesantren ini kemudian berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan agama paling berpengaruh di Jawa. Pada 1947, jumlah santrinya mencapai sekitar empat ribu orang. Tebuireng bukan sekadar tempat menuntut ilmu, melainkan juga menjadi ladang pembibitan pemimpin agama dan kesadaran nasionalis di tingkat akar rumput. Banyak kiai yang lahir dari sini kelak memainkan peran kunci dalam perjuangan kemerdekaan.

Kelahiran NU: Kekuatan Ulama yang Terorganisasi

Pada 31 Januari 1926, NU resmi dideklarasikan di Surabaya. Kelahirannya bukan kebetulan, melainkan respons terhadap tekanan ganda: di tingkat internasional, rezim baru Arab Saudi di wilayah Hijaz menimbulkan ancaman terhadap praktik Islam tradisional; di tingkat domestik, ekspansi gerakan Islam modernis membuat kalangan ulama tradisional merasa perlu berorganisasi untuk mempertahankan tradisi Ahlussunah wal Jamaah.

Namun, KH Hasyim Asy'ari awalnya bersikap hati-hati terhadap gagasan mendirikan organisasi. Menurut catatan NU Online, ia khawatir organisasi justru akan memecah belah umat Islam. Baru setelah muridnya, KH Wahab Hasbullah, berkali-kali membujuknya, dan setelah gurunya, KH Khalil Bangkalan, memberikan "izin" secara simbolis, Hasyim akhirnya menyetujui. Dalam rapat pendirian, ketika seseorang mengusulkan nama "Jam'iyyah Ulama", KH Mas Alwi mengusulkan nama "Nahdlatul Ulama", dengan alasan "tidak semua kiai memiliki semangat 'kebangkitan'".

Setelah NU berdiri, KH Hasyim Asy'ari diangkat sebagai pemimpin tertinggi (Rais Akbar). Di bawah kepemimpinannya, NU tidak hanya bergerak di bidang keagamaan, tetapi juga secara tegas menjadikan "menumbuhkan semangat nasionalisme dan mendorong umat Islam berperan aktif melawan penjajahan" sebagai salah satu tujuan organisasinya.

Duri dalam Daging Penjajah: Dari Menolak Tanda Kehormatan hingga Melawan Jepang

Sikap anti-kolonial KH Hasyim Asy'ari tidak dimulai setelah NU berdiri. Jauh sebelumnya, ia telah mengeluarkan fatwa yang berdampak politik besar. Ia pernah menetapkan bahwa menggunakan kapal Belanda untuk berhaji hukumnya haram, sebuah langkah yang langsung memukul kepentingan pelayaran pemerintah kolonial.

Pemerintah kolonial Belanda pernah berusaha melunaknya dengan memberi penghormatan. Pada 1937, ia ditawari "bintang jasa", tetapi menolaknya. Pemerintah kolonial tidak menyerah, lalu menawarkan "bintang emas" yang lebih tinggi, dan tetap ditolak. Baginya, semua itu hanyalah "tipu muslihat" penjajah.

Pada masa pendudukan Jepang, perlawanannya berlanjut dalam bentuk lain. Ia tercatat pernah menolak melakukan "saikeirei" (membungkuk ke arah Tokyo) setiap pagi, dan karena itu ditangkap oleh penguasa Jepang serta ditahan beberapa bulan sebelum akhirnya dibebaskan berkat tekanan para santri dan kiai.

Resolusi Jihad: Menyalakan Pertempuran 10 November

Kontribusi KH Hasyim Asy'ari yang paling langsung dan menentukan bagi perjuangan kemerdekaan terjadi pada Oktober 1945.

Setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, situasi Indonesia memburuk dengan cepat. Tentara Sekutu (yang dalam praktiknya didominasi Inggris) tiba di Indonesia dengan tugas resmi melucuti tentara Jepang dan memulangkan tawanan perang, tetapi NICA (Netherlands Indies Civil Administration) membuntuti mereka dengan maksud memulihkan kekuasaan kolonial Belanda. Surabaya, sebagai kota besar di Jawa Timur, menjadi titik benturan kedua pihak.


Dalam situasi kritis ini, Presiden Sukarno meminta dukungan para ulama. KH Hasyim Asy'ari menggelar pertemuan dengan para ulama dari Jawa Timur dan Madura, dan pada 22 Oktober 1945 mengeluarkan "Resolusi Jihad" yang termasyhur. Resolusi ini memuat tiga pokok:

1. Mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 adalah kewajiban setiap muslim secara individual (fardhu 'ain);
2. Mereka yang gugur dalam perjuangan ini dianggap syahid;
3. Siapa pun yang membantu musuh untuk menjajah kembali Indonesia dapat dijatuhi hukuman mati.

Fatwa ini menyebar cepat melalui RRI Surabaya dan mimbar-mimbar masjid. Efeknya luar biasa: pemuda dan santri dari berbagai daerah mengalir ke Surabaya, bergabung dengan laskar Hizbullah dan Sabilillah. Pada 10 November 1945, pertempuran besar meletus. Lebih dari 20.000 orang Indonesia gugur dalam pertempuran ini, yang tercatat sebagai pertempuran terbesar dan paling berdarah dalam sejarah revolusi Indonesia. Dari pertempuran inilah lahir "Hari Pahlawan".

Satu fatwa seorang ulama menyalakan pertempuran yang mengubah nasib bangsa.

Warisan: Dari "Resolusi Jihad" hingga "Hari Santri"

KH Hasyim Asy'ari wafat pada 25 Juli 1947 (7 Juli 1366 H) di Tebuireng. Menurut catatan, serangan hipertensi yang merenggut nyawanya berkaitan dengan kabar serangan tentara Belanda ke Malang.

Pengaruhnya tidak surut sepeninggalnya. Pada 1964, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya. Pada 2015, Presiden Joko Widodo menetapkan 22 Oktober, tanggal dikeluarkannya Resolusi Jihad, sebagai "Hari Santri Nasional". Sebagaimana dikatakan Hidayat Nur Wahid, saat itu Wakil Ketua MPR, ini adalah pengakuan negara atas kontribusi "fenomenal" para santri dalam mempertahankan kemerdekaan.

Kehidupan KH Hasyim Asy'ari mengungkap satu fakta sejarah yang mendalam: kemerdekaan Indonesia bukan hanya produk perjuangan militer dan politik, tetapi juga hasil mobilisasi otoritas keagamaan dan keimanan rakyat secara mendalam. Seorang ulama dari pesantren, dengan ilmu, otoritas moral, dan kemampuan organisasinya, mengubah kesetiaan keagamaan yang tersebar menjadi kekuatan politik yang bersatu, dan pada saat paling kritis menyuntikkan sumber daya spiritual yang tak tergantikan ke dalam republik ini.