Biografi Tokoh Pendiri Organisasi Keagamaan di Indonesia
Tokoh-tokoh pendiri organisasi keagamaan di Indonesia memiliki peran penting dalam perkembangan kehidupan Islam dan pendidikan masyarakat. Mereka tidak hanya dikenal sebagai ulama, tetapi juga sebagai pendidik, pemimpin, dan pembaharu yang berusaha meningkatkan pemahaman keagamaan serta membangun kehidupan sosial yang lebih baik. Beberapa tokoh penting antara lain K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dan K.H. Hasyim Asy’ari, salah satu tokoh utama pendiri Nahdlatul Ulama (NU).
Selain kedua tokoh tersebut, terdapat banyak ulama dan pemimpin agama lainnya yang turut berkontribusi dalam membangun organisasi keagamaan di Indonesia. Perjuangan mereka menunjukkan bahwa organisasi keagamaan memiliki peran yang luas, tidak hanya dalam bidang dakwah, tetapi juga pendidikan, sosial, kesehatan, ekonomi, dan kebangsaan.
K.H. Ahmad Dahlan dikenal melalui gagasannya dalam memadukan pendidikan agama dengan pengetahuan umum serta mendirikan berbagai lembaga pendidikan dan sosial. Sementara itu, K.H. Hasyim Asy’ari dikenal sebagai ulama besar yang memiliki perhatian kuat terhadap pendidikan pesantren, pengembangan ilmu keislaman, dan pembinaan kehidupan masyarakat.
Biografi para tokoh tersebut penting dipelajari untuk memahami sejarah perkembangan Islam di Indonesia sekaligus meneladani nilai-nilai ketekunan, keilmuan, kepemimpinan, kepedulian sosial, dan semangat pengabdian kepada masyarakat. Dengan mengenal perjuangan mereka, generasi muda diharapkan mampu meneruskan semangat dakwah dan kontribusi positif bagi agama, bangsa, dan negara.
1. KH. Ahmad Dahlan
KH. Ahmad Dahlan mempunyai nama kecil Muhammad Darwisy. Beliau lahir dari kedua orang tua yang dikenal alim, saleh, dan shalihah, yaitu KH. Abu Bakar selaku Imam Masjid Besar Kauman Kasultanan Yogyakarta serta Nyai Abu Bakar (putri H. Ibrahim, Penghulu Kraton Kasultanan Yogyakarta). Silsilah KH. Ahmad Dahlan adalah keturunan ke dua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali yang termasuk Walisanga serta dikenal sebagai salah satu ulama penyebar dan pengembang Islam di tanah Jawa.
2. KH. Hasyim Asy’ari
KH. Ahmad Dahlan mempunyai nama kecil Muhammad Darwisy. Beliau lahir dari kedua orang tua yang dikenal alim, saleh, dan shalihah, yaitu KH. Abu Bakar selaku Imam Masjid Besar Kauman Kasultanan Yogyakarta serta Nyai Abu Bakar (putri H. Ibrahim, Penghulu Kraton Kasultanan Yogyakarta). Silsilah KH. Ahmad Dahlan adalah keturunan ke dua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali yang termasuk Walisanga serta dikenal sebagai salah satu ulama penyebar dan pengembang Islam di tanah Jawa.
Garis nasab KH. Ahmad Dahlan adalah putra KH. Abu Bakar bin KH. Muhammad Sulaiman bin Kiai Murtadla bin Kiai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Jatinom) bin Maulana Muhammad Fadlullah (Prapen) bin Maulana ‘Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim.
KH. Ahmad Dahlan dididik dalam lingkungan pesantren sejak kecil. Di lingkungan itulah beliau menimba berbagai disiplin ilmu dan pengetahuan, termasuk agama Islam dan bahasa Arab. Pada tahun 1883, saat masih berusia 15 tahun, beliau menunaikan ibadah haji sekaligus bermukim selama lima tahun di Mekah guna mendalami ilmu agama dan bahasa Arab.
Dari situlah beliau berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaruan dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani, Rasyid Ridha, serta Ibnu Taimiyah. Buah pemikiran tokoh-tokoh Islam tersebut mempunyai pengaruh kelak di kemudian hari sehingga menampilkan corak keagamaan yang sama dengan kaum pembaharu.
Muhammadiyah merupakan organisasi kemasyarakatan yang bertujuan memperbarui pemahaman keagamaan. Dalam hal ini, paham keislaman di sebagian besar dunia Islam saat itu masih bersifat ortodoks (kolot). Ortodoksi ini dipandang menimbulkan kebekuan ajaran Islam, jumud (stagnasi), serta dekadensi (keterbelakangan) umat Islam.
Oleh karena itu, pemahaman keagamaan yang statis ini harus diubah dan diperbarui melalui gerakan purifikasi atau pemurnian ajaran Islam dengan kembali kepada al-Qur’an dan al-Hadits. Pada tahun 1888 KH. Ahmad Dahlan pulang ke kampong halamannya. Sepulangnya dari Mekah, beliau diangkat menjadi Khatib Amin di lingkungan Kasultanan Yogyakarta.
Pada tahun 1902‒1904, beliau menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya yang dilanjutkan dengan memperdalam ilmu agama kepada beberapa guru di Mekah. Sepulang dari Mekah, beliau menikah dengan Siti Walidah, yakni saudari sepupunya sendiri, anak Kiai Penghulu Haji Fadhil. Kelak, Siti Walidah dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan, seorang pahlawan nasional dan pendiri Aisyiyah (organisasi kewanitaan Muhammadiyah).
Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan memiliki enam orang anak, yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, serta Siti Zaharah. Selain itu, KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. Beliau juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kiai Munawwir Krapyak.
KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putra dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Ajengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Beliau pernah pula menikah dengan Nyai Yasin yang berasal dari Pakualaman, Yogyakarta. Pada tahun 1912, KH. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk mewujudkan cita-cita pembaruan Islam di nusantara.
Beliau ingin mengadakan suatu pembaruan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. Beliau mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Perkumpulan ini berdiri pada tanggal 18 November 1912. Sejak awal, KH. Ahmad Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik, tetapi bersifat sosial dan terutama bergerak di bidang pendidikan.
Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini sempat mendapatkan pertentangan dan perlawanan, baik dari keluarga maupun masyarakat sekitarnya. Bahkan, ada pula orang yang hendak membunuh beliau. Namun rintangan- rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar. Keteguhan hatinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaruan Islam di tanah air bisa mengatasi semua tantangan tersebut.
Pada tanggal 20 Desember 1912, KH. Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda agar organisasinya mendapatkan status badan hukum. Permohonan itu baru dikabulkan pada tahun 1914 melalui Surat Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914. Namun, izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan organisasi hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta. Pemerintah Hindia Belanda khawatir akan perkembangan organisasi ini sehingga kegiatannya pun dibatasi.
Walaupun ruang gerak Muhammadiyah dibatasi, tetapi di daerah lain seperti Srandakan, Wonosari, dan Imogiri telah berdiri cabang Muhammadiyah. Hal ini jelas bertentangan dengan keinginan Pemerintah Hindia Belanda. Untuk menyiasatinya, maka KH. Ahmad Dahlan menganjurkan agar cabang-cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta memakai nama lain, misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Al-Munir di Makassar, dan di Garut dengan nama Ahmadiyah.
Adapun di Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF) yang mendapat bimbingan dari cabang Muhammadiyah. Sebagai seorang demokrat dalam melaksanakan aktivitas gerakan dakwah, KH. Ahmad Dahlan memfasilitasi para anggota Muhammadiyah untuk proses evaluasi kerja dan pemilihan pemimpin organisasi.
Selama hidupnya dalam aktivitas dakwah Muhammadiyah, telah diselenggarakan dua belas kali pertemuan anggota (sekali dalam setahun), di mana pada saat itu dipakai istilah Algemeene Vergadering (persidangan umum). Di usia 66 tahun, tepatnya pada 23 Februari 1923, KH. Ahmad Dahlan wafat di Yogyakarta. Beliau kemudian dimakamkan di Karang Kuncen (Karangkajen), Yogyakarta.
Atas jasa-jasa KH. Ahmad Dahlan, maka pemerintah Republik Indonesia menganugerahi beliau gelar kehormatan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Gelar kehormatan tersebut dituangkan dalam SK Presiden RI No.657 Tahun 1961, pada 27 Desember 1961. Dasar-dasar penetapan itu adalah sebagai berikut.
a. KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan umat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat.
b. Organisasi Muhammadiyah yang didirikannya telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya, yakni menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan umat dengan dasar iman dan Islam.
c. Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa dengan jiwa ajaran Islam.
d. Organisasi kewanitaan Muhammadiyah (Aisyiyah) telah mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial setingkat dengan kaum pria.
Kisah hidup dan perjuangan KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah telah diangkat ke layar lebar dengan judul “Sang Pencerah”. Selain menceritakan biografi KH. Ahmad Dahlan, film ini juga bercerita tentang perjuangan dan semangat patriotisme anak muda dalam merepresentasikan pemikiran- pemikirannya yang dianggap bertentangan dengan pemahaman agama dan budaya pada masa itu dengan latar belakang suasana kebangkitan nasional.
2. KH. Hasyim Asy’ari
KH. Hasyim Asy’ari lahir dengan nama kecil Muhammad Hasyim. Beliau lahir di Pondok Gedang Diwek, Jombang, Jawa Timur pada Selasa, 24 Dzulqa’dah 1287 Hijriyah atau bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1871. Ada sedikit kisah karamah terkait nama kecil beliau. Ketika dalam kandungan dan kelahirannya, tampak adanya sebuah isyarat yang menunjukkan kebesarannya. Pertama, ketika di dalam kandungan, Nyai Halimah bermimpi melihat bulan purnama yang jatuh ke dalam kandungannya.
Kedua, ketika melahirkan Nyai Halimah tidak merasakan sakit seperti yang umumnya dirasakan wanita saat melahirkan. Ayah beliau bernama Kiai Asy’ari, yakni pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibu beliau bernama Nyai Halimah.
Dari garis ibu, Kiai Hasyim Asy’ari merupakan keturunan Raja Brawijaya VI. Adapun dari garis ayah, beliau keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Raja Pajang). Karya dan jasa Kiai Hasyim Asy’ari tidak lepas dari nenek moyangnya yang secara turun-temurun memimpin pesantren. KH. Hasyim Asy’ari ketika berusia 15 tahun mulai mengembara untuk menuntut ilmu. Beliau belajar ke pondok-pondok pesantren yang masyhur di tanah Jawa, khususnya Jawa Timur.
Beberapa di antaranya adalah Pondok Pesantren Wonorejo di Jombang, Wonokoyo di Probolinggo, Tringgilis di Surabaya, serta Langitan di Tuban. Beliau kemudian juga nyantri di Bangkalan Madura, di bawah bimbingan Kiai Muhammad Khalil bin Abdul Latif (Syaikhuna Khalil). Setelah sekitar lima tahun menuntut ilmu di tanah Madura (tepatnya pada tahun 1307 Hijriyah atau 1891 Masehi), akhirnya beliau kembali ke tanah Jawa untuk belajar di Pesantren Siwalan, Sono, Sidoarjo, di bawah bimbingan K.H. Ya’qub yang dikenal menguasai ilmu nahwu dan sharaf.
Selang beberapa lama, Kiai Ya’qub semakin mengenal dekat KH. Hasyim Asy’ari hingga tertarik untuk menjadikannya menantu. KH. Hasyim Asy’ari yang saat itu baru berusia 21 tahun pun menikah dengan Nyai Nafisah, putri KH. Ya’qub. Tidak lama setelah pernikahan tersebut, beliau kemudian pergi ke tanah suci Mekah untuk menunaikan ibadah haji bersama istri dan mertuanya.
Di samping menunaikan ibadah haji, di Mekah KH. Hasyim Asy’ari juga memperdalam ilmu yang telah dipelajarinya serta menyerap ilmu-ilmu baru yang diperlukan. Hampir seluruh disiplin ilmu agama dipelajarinya, terutama ilmu-ilmu yang berkaitan dengan hadits Rasulullah Saw. yang telah menjadi kecintaannya sejak kecil.
Setelah tujuh bulan bermukim di Mekah, beliau dikaruniai putra yang diberi nama Abdullah. Namun, di tengah kegembiraan memperoleh buah hati itu, sang istri mengalami sakit parah dan kemudian meninggal dunia. Empat puluh hari kemudian, putra beliau, Abdullah, juga menyusul sang ibu berpulang ke hadirat Allah.
Kesedihan beliau yang saat itu sudah mulai dikenal sebagai seorang ulama nyaris tak tertahankan. Satu-satunya penghibur hati beliau adalah melaksanakan thawaf dan ibadah-ibadah lain yang hampir tak pernah berhenti dilakukannya. Di samping itu, beliau juga memiliki teman setia berupa kitab-kitab yang senantiasa dikaji setiap saat.
Sampai akhirnya, beliau meninggalkan tanah suci untuk kembali ke tanah air bersama mertuanya. Kerinduan akan tanah suci rupanya memanggil beliau untuk kembali lagi pergi ke kota Mekah. Pada tahun 1309 Hijriyah atau 1893 Masehi, beliau berangkat kembali ke tanah suci bersama adik kandungnya yang bernama Anis. Kenangan indah dan sedih teringat kembali tatkala kaki beliau kembali menginjak tanah suci Mekah.
Namun, hal itu justru membangkitkan semangat baru untuk lebih menekuni ibadah dan mendalami ilmu. Tempat-tempat bersejarah dan mustajabah pun tak luput dikunjungi beliau untuk berdoa meraih cita-cita, seperti Padang Arafah, Gua Hira, Maqam Ibrahim, dan tempat-tempat lainnya. Bahkan, makam Rasulullah Saw. di Madinah pun selalu menjadi tempat ziarah beliau.
Ulama-ulama besar yang tersohor pada saat itu didatanginya untuk belajar sekaligus mengambil berkah, di antaranya Syaikh Su’ab bin Abdurrahman, Sayyid Abbas al-Maliki al-Hasani (ilmu hadits), Syaikh Nawawi al-Bantani, serta Syaikh Khatib al-Minangkabawi (segala bidang keilmuan). Adapun dari Syaikh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi (ulama asal Pacitan yang tinggal di Mekah), selain mempelajari ilmu bahasa dan syariat, KH. Hasyim Asy’ari mendapat ijazah sanad dalam kitab Shahih Bukhari.
Upaya yang melelahkan ini tidak sia-sia. Setelah sekian tahun berada di Mekah, KH. Hasyim Asy’ari pulang ke tanah air dengan membawa ilmu agama yang nyaris lengkap, sebagai bekal untuk beramal dan mengajar di kampung halaman. Sepulang dari tanah suci sekitar tahun 1313 Hijriyah atau 1899 Masehi, beliau memulai mengajar.
Beliau pertama kali mengajar di Pesantren Gedang Diwek, Jombang, yang diasuh oleh mendiang kakeknya, sekaligus tempat di mana beliau dilahirkan dan dibesarkan. Setelah itu, beliau mengajar di Desa Muning, Mojoroto, Kediri. Di sinilah beliau sempat menikahi salah seorang putri Kiai Sholeh Banjar Melati. Hanya saja, pernikahan tersebut tidak berjalan lama sehingga KH. Hasyim Asy’ari kembali lagi ke Jombang.
Pada 26 Rabi’ul Awal 1317 Hijriyah atau 1899 Masehi, beliau mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng bersama rekan-rekan seperjuangannya, seperti Kiai Abas Buntet, Kiai Sholeh Benda Kereb, Kiai Syamsuri Wanan Tara, dan beberapa kiai lainnya. Segala kesulitan dan ancaman pihak-pihak yang benci terhadap penyiaran pendidikan Islam di Tebuireng dapat diatasi. KH. Hasyim Asya’ri memulai sebuah tradisi yang kemudian menjadi salah satu keistimewaan beliau, yaitu mengkhatamkan Kitab Syaikhhani (Shahih Bukhari dan Muslim) yang dilaksanakan pada setiap bulan suci Ramadhan.
Konon, khataman ini diikuti oleh ratusan kiai yang datang berbondong-bondong dari seluruh Jawa. Tradisi ini masih berjalan sampai sekarang. Pada awalnya, santri Pondok Tebuireng yang pertama hanya berjumlah 28 orang, kemudian bertambah hingga ratusan orang. Bahkan, di akhir hayat beliau, telah mencapai ribuan orang.
Banyak alumni Pondok Tebuireng yang sukses menjadi ulama besar dan menjadi pejabat-pejabat tinggi negara. Kini, Tebuireng menjadi kiblat pondok pesantren. Di samping aktif mengajar, beliau juga aktif dalam berbagai kegiatan, baik yang bersifat lokal maupun nasional. Pada tanggal 16 Sya’ban 1344 Hijriyah atau bertepatan 31 Januari 1926, di Jombang, Jawa Timur, beliau mendirikan Jam’iyah Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) bersama KH. Bisri Syamsuri, KH. Wahab Hasbullah, dan ulama-ulama besar lainnya.
Asas dan tujuan organisasi tersebut adalah “Memegang dengan teguh salah satu dari madzhab empat, yaitu Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah an- Nu’am, dan Ahmad bin Hambal dan juga mengerjakan apa saja yang menjadikan kemaslahatan agama Islam”. KH. Hasyim Asy’ari terpilih menjadi “Rais Akbar NU”, sebuah gelar yang hingga kini tidak seorang pun menyandangnya.
Beliau juga menyusun Qanun Asasi (peraturan dasar) NU yang mengembangkan paham Ahli Sunnah wal Jama’ah. Peran KH. Hasyim Asy’ari tidak hanya terbatas pada bidang keilmuan dan keagamaan, tetapi juga sosial dan kebangsaan. Sebagai bukti, beliau terlibat secara aktif dalam perjuangan membebaskan bangsa dari penjajah. Pada tahun 1937, beliau didatangi pimpinan Pemerintah Belanda dengan memberikan Bintang Mas dan Perak sebagai tanda kehormatan, tetapi beliau menolaknya mentah-mentah.
Masa-masa revolusi fisik pada tahun 1940-an, barangkali menjadi yang terberat bagi beliau. Pada masa penjajahan Jepang, beliau sempat ditahan oleh pemerintah fasisme Jepang. Saat menjadi tahanan, beliau mengalami penyiksaan fisik hingga salah satu jari tangan beliau menjadi cacat. Namun, pada kurun waktu itu pula beliau menorehkan “tinta emas” pada lembaran perjuangan bangsa dan negara Republik Indonesia.
Ketika Belanda hendak kembali menjajah Indonesia, beliau menyerukan “Resolusi Jihad”, yakni fatwa bahwa setiap muslim wajib berjihad membela dan mempertahankan tanah air pada 22 Oktober 1945. Momen tersebut kini diperingati setiap tahun sebagai “Hari Santri Nasional”. Atas jasa-jasanya, Ia ditetapkan sebagai “Pahlawan Nasional” berdasarkan Keputusan Presiden RI nomor 294 tahun 1964.
Beberapa karya KH. Hasyim Asy’ari adalah: at-Tibyan fin nahyi an muqotha’atil wal aqarib wal akhwan (penjelasan mengenai larangan memutuskan hubungan kekerabatan dan persahabtan), Adabul ‘alim wal muta’alim (akhlak guru dan murid), al-Mawaidz (beberapa nasehat), Haditsul maut wa asrrus sa’ah (hadits mengenai kematian dan kiamat), ar-Risalah at-Tauhidiyah (catatan tentang ajaran tauhid ahlus-sunnah wal jama’ah).
Jasa KH. Hasyim Asy’ari tentang resolusi jihad telah diangkat ke layar lebar dengan judul “Sang Kiai”. KH. M. Hasyim Asy’ari wafat pada pukul 03.00 pagi, tanggal 25 Juli 1947, bertepatan dengan 7 Ramadhan 1366 Hijriyah. Jenazah beliau dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
