Abu Nawas Menunjukkan Bahwa Kebenaran Tidak Bisa Dibeli
Kabar itu datang bukan dari istana, bukan dari pasar, melainkan dari sebuah rumah besar di pinggir kota. Rumah itu milik Tuan Syahid, seorang saudagar kaya yang terkenal bukan karena kejujurannya, melainkan karena kelicikannya. Ia memiliki gudang-gudang penuh barang, kapal-kapal yang berlayar ke negeri seberang, dan pelayan-pelayan yang selalu siap menuruti perintahnya. Namun di balik semua kekayaannya, tersimpan satu rahasia yang selama ini ia sembunyikan dengan rapi. Dan rahasia itu kini terancam terbongkar, karena seorang saksi telah muncul.
Saksi itu adalah seorang pemuda miskin bernama Rasyid, yang tanpa sengaja melihat Tuan Syahid menipu para pedagang kecil di pelabuhan. Rasyid tidak berniat mengadukan hal itu kepada siapa pun. Ia hanya ingin hidup tenang, mencari makan dengan jujur, dan tidak terlibat dalam urusan orang-orang besar.
Namun kabar tentang apa yang ia lihat menyebar juga. Dan ketika Tuan Syahid mendengar bahwa ada seorang saksi yang bisa membongkar kejahatannya, ia pun mengambil langkah yang selama ini selalu berhasil: membeli kebenaran dengan uang.
Surat yang Dikirim Diam-Diam
Malam itu, seorang pelayan Tuan Syahid datang ke rumah Abu Nawas. Ia membawa sebuah surat yang dilipat rapi, disegel dengan lilin merah, dan diberi wangi minyak mawar. Abu Nawas yang sedang duduk di depan pintu rumahnya menerima surat itu dengan tenang. Ia membukanya perlahan, membacanya dengan mata yang tidak berkedip, lalu tersenyum.
Surat itu berisi tawaran yang sangat menggiurkan. Tuan Syahid menawarkan Abu Nawas sekantong emas, sebuah rumah besar di dekat istana, dan seorang pelayan pribadi, jika Abu Nawas mau membujuk Rasyid agar menarik kesaksiannya. Tuan Syahid tahu, Abu Nawas adalah orang yang dihormati rakyat. Jika Abu Nawas berbicara, Rasyid akan mendengarkan. Jika Abu Nawas meminta, Rasyid akan menuruti.
Abu Nawas melipat kembali surat itu. Ia menatap pelayan Tuan Syahid yang berdiri gugup di depannya, lalu berkata pelan, "Sampaikan kepada Tuan Syahid bahwa hamba akan datang besok pagi. Hamba akan memberikan jawabannya langsung kepadanya."
Pelayan itu pun berlalu dengan wajah lega. Ia mengira Abu Nawas akan menerima tawaran itu. Ia mengira semuanya akan berjalan lancar. Ia tidak tahu, apa yang akan terjadi besok pagi justru akan membuat tuannya menyesal seumur hidup.
Pertemuan di Rumah Tuan Syahid
Pagi berikutnya, Abu Nawas datang ke rumah Tuan Syahid dengan pakaian sederhananya yang sudah lusuh. Tuan Syahid menyambutnya dengan senyum lebar, mempersilakannya duduk di kursi yang paling empuk, dan menyuguhkan hidangan yang paling mahal. Ia merasa yakin, tawarannya akan diterima. Tidak ada orang yang menolak sekantong emas dan sebuah rumah besar.
"Abu Nawas," ujar Tuan Syahid dengan nada ramah. "Aku sudah mendengar tentang kecerdikanmu. Aku yakin, engkau adalah orang yang tepat untuk membantu persoalan kecilku."
Abu Nawas menundukkan kepala. "Persoalan apa yang Tuan Syahid maksud?"
Tuan Syahid tersenyum. "Engkau tahu sendiri. Ada seorang pemuda bernama Rasyid yang mengaku melihat sesuatu di pelabuhan. Aku ingin engkau membujuknya agar tidak lagi membicarakan hal itu. Sebagai imbalannya, engkau akan mendapatkan semua yang aku tawarkan dalam surat itu."
Abu Nawas terdiam sejenak. Ia memandang Tuan Syahid lama sekali, lalu berkata pelan, "Tuan Syahid, izinkan hamba mengajukan satu pertanyaan sebelum hamba memberikan jawaban."
Tuan Syahid mengangkat alis. "Silakan."
Abu Nawas menatapnya dengan mata yang jernih. "Jika Tuan Syahid membeli kebenaran dari hamba, lalu dengan apa Tuan Syahid akan membeli kebenaran dari Allah?"
Pertanyaan yang Membuat Tuan Syahid Terdiam
Rumah itu pun hening. Tuan Syahid membuka mulut, namun tidak ada kata yang keluar. Ia ingin tertawa, namun tawanya terasa kering di tenggorokan. Ia ingin membantah, namun tidak tahu harus membantah apa. Ia hanya bisa menatap Abu Nawas dengan wajah pucat, seperti seseorang yang baru saja melihat cermin untuk pertama kalinya.
"Engkau... engkau tidak menjawab tawaranku," ujar Tuan Syahid akhirnya dengan suara bergetar.
Abu Nawas menggelengkan kepala. "Hamba sudah menjawabnya, Tuan Syahid. Hamba tidak bisa membeli kebenaran, karena kebenaran bukan milik hamba. Hamba tidak bisa menjual kebenaran, karena kebenaran bukan milik hamba. Hamba hanya bisa mengatakan apa yang hamba lihat dan apa yang hamba dengar. Selebihnya, bukan urusan hamba."
Tuan Syahid pun terdiam. Ia memandang tumpukan emas yang tadi ia siapkan di atas meja, lalu memandang rumahnya yang megah, lalu memandang pelayan-pelayannya yang berdiri dengan kepala tertunduk. Ia merasa semua yang ia miliki itu terasa kosong. Ia merasa kekayaannya tidak bisa membeli apa yang paling ia butuhkan: ketenangan hati.
Kebenaran yang Tak Bisa Dibeli
Abu Nawas bangkit dari kursinya. Ia menundukkan kepala kepada Tuan Syahid, lalu berkata pelan, "Tuan Syahid, hamba akan pergi sekarang. Namun sebelum hamba pergi, izinkan hamba menyampaikan satu hal."
Tuan Syahid mengangkat kepala. "Apa?"
Abu Nawas menatapnya dengan mata yang jernih. "Hamba tidak akan membujuk Rasyid untuk menarik kesaksiannya. Hamba juga tidak akan mendukungnya untuk mengadukan Tuan Syahid. Hamba hanya akan membiarkan kebenaran berjalan dengan sendirinya. Jika Tuan Syahid memang bersalah, maka kebenaran akan menemukan jalannya. Jika Tuan Syahid tidak bersalah, maka kebenaran akan membersihkan nama Tuan Syahid. Hamba tidak punya hak untuk mengubah apa pun."
Tuan Syahid pun terdiam. Ia menatap Abu Nawas lama sekali, seperti seseorang yang baru saja belajar sesuatu yang tidak ada di dalam kitab mana pun.
"Engkau yakin tidak akan menerima tawaranku?" tanya Tuan Syahid dengan suara pelan.
Abu Nawas tersenyum. "Hamba sudah menerima tawaran yang jauh lebih berharga, Tuan Syahid. Tawaran itu datang bukan dari manusia, melainkan dari hati hamba sendiri. Dan tawaran itu tidak bisa dibeli dengan emas, tidak bisa ditukar dengan rumah, tidak bisa diganti dengan jabatan."
Pengakuan Tuan Syahid
Abu Nawas pun melangkah keluar dari rumah itu. Namun sebelum ia mencapai pintu, Tuan Syahid memanggilnya. Suaranya bergetar, seperti seseorang yang baru saja menahan tangis.
"Abu Nawas, tunggu."
Abu Nawas menoleh. "Ada apa, Tuan Syahid?"
Tuan Syahid menundukkan kepala. "Aku... aku mengaku. Aku memang menipu para pedagang kecil di pelabuhan. Aku memang mengambil hak mereka. Aku memang bersalah."
Rumah itu pun hening. Para pelayan saling pandang. Mereka tidak menyangka tuan mereka akan mengaku. Mereka tidak menyangka Tuan Syahid yang terkenal angkuh itu akan menundukkan kepala di depan seorang pria berpakaian lusuh.
Abu Nawas melangkah mendekati Tuan Syahid. Ia meletakkan tangannya di bahu pria itu, lalu berkata pelan, "Tuan Syahid, pengakuan itu jauh lebih berharga daripada sekantong emas. Pengakuan itu adalah langkah pertama menuju kebenaran."
Tuan Syahid mengangkat kepala. Matanya basah. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Abu Nawas tersenyum. "Kembalikan apa yang Tuan Syahid ambil. Mintalah maaf kepada mereka yang Tuan Syahid rugikan. Dan mulailah hidup dengan jujur, karena kebenaran tidak bisa dibeli, namun ia bisa hidup di dalam hati siapa pun yang mau menerimanya."
Pelajaran di Rumah Tuan Syahid
Sejak hari itu, Tuan Syahid berubah. Ia mengembalikan apa yang ia ambil dari para pedagang kecil. Ia meminta maaf kepada mereka satu per satu. Ia bahkan membuka sebagian tokonya untuk membantu orang-orang miskin di kotanya. Orang-orang pun kaget melihat perubahan itu. Ada yang bertanya apa yang terjadi, dan Tuan Syahid hanya tersenyum, lalu berkata, "Aku pernah mencoba membeli kebenaran. Dan aku gagal. Sejak itu, aku belajar bahwa kebenaran tidak bisa dibeli, namun ia bisa hidup di dalam hati."
Sementara Abu Nawas, ia tetap seperti biasa. Ia tetap berjalan dengan pakaian lusuhnya, tetap tersenyum kepada siapa pun, tetap membantu orang yang membutuhkan. Ia tidak pernah menyebut-nyebut peristiwa di rumah Tuan Syahid. Ia tidak pernah membanggakan dirinya. Ia hanya hidup dengan tenang, seperti air yang mengalir di sungai, tidak pernah sombong, tidak pernah pula surut.
Penutup: Kebenaran yang Tak Pernah Tergantikan
Maka berakhirlah kisah tawaran itu. Tuan Syahid yang tadinya angkuh, kini menjadi orang yang rendah hati. Tuan Syahid yang tadinya merasa bisa membeli segalanya, kini sadar bahwa ada satu hal yang tidak bisa dibeli dengan uang: kebenaran.
Dan di dalam hati Tuan Syahid, sejak hari itu, tersimpan satu nama yang selalu membuatnya tersenyum. Abu Nawas.
Surat yang Dikirim Diam-Diam
Malam itu, seorang pelayan Tuan Syahid datang ke rumah Abu Nawas. Ia membawa sebuah surat yang dilipat rapi, disegel dengan lilin merah, dan diberi wangi minyak mawar. Abu Nawas yang sedang duduk di depan pintu rumahnya menerima surat itu dengan tenang. Ia membukanya perlahan, membacanya dengan mata yang tidak berkedip, lalu tersenyum.
Surat itu berisi tawaran yang sangat menggiurkan. Tuan Syahid menawarkan Abu Nawas sekantong emas, sebuah rumah besar di dekat istana, dan seorang pelayan pribadi, jika Abu Nawas mau membujuk Rasyid agar menarik kesaksiannya. Tuan Syahid tahu, Abu Nawas adalah orang yang dihormati rakyat. Jika Abu Nawas berbicara, Rasyid akan mendengarkan. Jika Abu Nawas meminta, Rasyid akan menuruti.
Abu Nawas melipat kembali surat itu. Ia menatap pelayan Tuan Syahid yang berdiri gugup di depannya, lalu berkata pelan, "Sampaikan kepada Tuan Syahid bahwa hamba akan datang besok pagi. Hamba akan memberikan jawabannya langsung kepadanya."
Pelayan itu pun berlalu dengan wajah lega. Ia mengira Abu Nawas akan menerima tawaran itu. Ia mengira semuanya akan berjalan lancar. Ia tidak tahu, apa yang akan terjadi besok pagi justru akan membuat tuannya menyesal seumur hidup.
Pertemuan di Rumah Tuan Syahid
Pagi berikutnya, Abu Nawas datang ke rumah Tuan Syahid dengan pakaian sederhananya yang sudah lusuh. Tuan Syahid menyambutnya dengan senyum lebar, mempersilakannya duduk di kursi yang paling empuk, dan menyuguhkan hidangan yang paling mahal. Ia merasa yakin, tawarannya akan diterima. Tidak ada orang yang menolak sekantong emas dan sebuah rumah besar.
"Abu Nawas," ujar Tuan Syahid dengan nada ramah. "Aku sudah mendengar tentang kecerdikanmu. Aku yakin, engkau adalah orang yang tepat untuk membantu persoalan kecilku."
Abu Nawas menundukkan kepala. "Persoalan apa yang Tuan Syahid maksud?"
Tuan Syahid tersenyum. "Engkau tahu sendiri. Ada seorang pemuda bernama Rasyid yang mengaku melihat sesuatu di pelabuhan. Aku ingin engkau membujuknya agar tidak lagi membicarakan hal itu. Sebagai imbalannya, engkau akan mendapatkan semua yang aku tawarkan dalam surat itu."
Abu Nawas terdiam sejenak. Ia memandang Tuan Syahid lama sekali, lalu berkata pelan, "Tuan Syahid, izinkan hamba mengajukan satu pertanyaan sebelum hamba memberikan jawaban."
Tuan Syahid mengangkat alis. "Silakan."
Abu Nawas menatapnya dengan mata yang jernih. "Jika Tuan Syahid membeli kebenaran dari hamba, lalu dengan apa Tuan Syahid akan membeli kebenaran dari Allah?"
Pertanyaan yang Membuat Tuan Syahid Terdiam
Rumah itu pun hening. Tuan Syahid membuka mulut, namun tidak ada kata yang keluar. Ia ingin tertawa, namun tawanya terasa kering di tenggorokan. Ia ingin membantah, namun tidak tahu harus membantah apa. Ia hanya bisa menatap Abu Nawas dengan wajah pucat, seperti seseorang yang baru saja melihat cermin untuk pertama kalinya.
"Engkau... engkau tidak menjawab tawaranku," ujar Tuan Syahid akhirnya dengan suara bergetar.
Abu Nawas menggelengkan kepala. "Hamba sudah menjawabnya, Tuan Syahid. Hamba tidak bisa membeli kebenaran, karena kebenaran bukan milik hamba. Hamba tidak bisa menjual kebenaran, karena kebenaran bukan milik hamba. Hamba hanya bisa mengatakan apa yang hamba lihat dan apa yang hamba dengar. Selebihnya, bukan urusan hamba."
Tuan Syahid pun terdiam. Ia memandang tumpukan emas yang tadi ia siapkan di atas meja, lalu memandang rumahnya yang megah, lalu memandang pelayan-pelayannya yang berdiri dengan kepala tertunduk. Ia merasa semua yang ia miliki itu terasa kosong. Ia merasa kekayaannya tidak bisa membeli apa yang paling ia butuhkan: ketenangan hati.
Kebenaran yang Tak Bisa Dibeli
Abu Nawas bangkit dari kursinya. Ia menundukkan kepala kepada Tuan Syahid, lalu berkata pelan, "Tuan Syahid, hamba akan pergi sekarang. Namun sebelum hamba pergi, izinkan hamba menyampaikan satu hal."
Tuan Syahid mengangkat kepala. "Apa?"
Abu Nawas menatapnya dengan mata yang jernih. "Hamba tidak akan membujuk Rasyid untuk menarik kesaksiannya. Hamba juga tidak akan mendukungnya untuk mengadukan Tuan Syahid. Hamba hanya akan membiarkan kebenaran berjalan dengan sendirinya. Jika Tuan Syahid memang bersalah, maka kebenaran akan menemukan jalannya. Jika Tuan Syahid tidak bersalah, maka kebenaran akan membersihkan nama Tuan Syahid. Hamba tidak punya hak untuk mengubah apa pun."
Tuan Syahid pun terdiam. Ia menatap Abu Nawas lama sekali, seperti seseorang yang baru saja belajar sesuatu yang tidak ada di dalam kitab mana pun.
"Engkau yakin tidak akan menerima tawaranku?" tanya Tuan Syahid dengan suara pelan.
Abu Nawas tersenyum. "Hamba sudah menerima tawaran yang jauh lebih berharga, Tuan Syahid. Tawaran itu datang bukan dari manusia, melainkan dari hati hamba sendiri. Dan tawaran itu tidak bisa dibeli dengan emas, tidak bisa ditukar dengan rumah, tidak bisa diganti dengan jabatan."
Pengakuan Tuan Syahid
Abu Nawas pun melangkah keluar dari rumah itu. Namun sebelum ia mencapai pintu, Tuan Syahid memanggilnya. Suaranya bergetar, seperti seseorang yang baru saja menahan tangis.
"Abu Nawas, tunggu."
Abu Nawas menoleh. "Ada apa, Tuan Syahid?"
Tuan Syahid menundukkan kepala. "Aku... aku mengaku. Aku memang menipu para pedagang kecil di pelabuhan. Aku memang mengambil hak mereka. Aku memang bersalah."
Rumah itu pun hening. Para pelayan saling pandang. Mereka tidak menyangka tuan mereka akan mengaku. Mereka tidak menyangka Tuan Syahid yang terkenal angkuh itu akan menundukkan kepala di depan seorang pria berpakaian lusuh.
Abu Nawas melangkah mendekati Tuan Syahid. Ia meletakkan tangannya di bahu pria itu, lalu berkata pelan, "Tuan Syahid, pengakuan itu jauh lebih berharga daripada sekantong emas. Pengakuan itu adalah langkah pertama menuju kebenaran."
Tuan Syahid mengangkat kepala. Matanya basah. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Abu Nawas tersenyum. "Kembalikan apa yang Tuan Syahid ambil. Mintalah maaf kepada mereka yang Tuan Syahid rugikan. Dan mulailah hidup dengan jujur, karena kebenaran tidak bisa dibeli, namun ia bisa hidup di dalam hati siapa pun yang mau menerimanya."
Pelajaran di Rumah Tuan Syahid
Sejak hari itu, Tuan Syahid berubah. Ia mengembalikan apa yang ia ambil dari para pedagang kecil. Ia meminta maaf kepada mereka satu per satu. Ia bahkan membuka sebagian tokonya untuk membantu orang-orang miskin di kotanya. Orang-orang pun kaget melihat perubahan itu. Ada yang bertanya apa yang terjadi, dan Tuan Syahid hanya tersenyum, lalu berkata, "Aku pernah mencoba membeli kebenaran. Dan aku gagal. Sejak itu, aku belajar bahwa kebenaran tidak bisa dibeli, namun ia bisa hidup di dalam hati."
Sementara Abu Nawas, ia tetap seperti biasa. Ia tetap berjalan dengan pakaian lusuhnya, tetap tersenyum kepada siapa pun, tetap membantu orang yang membutuhkan. Ia tidak pernah menyebut-nyebut peristiwa di rumah Tuan Syahid. Ia tidak pernah membanggakan dirinya. Ia hanya hidup dengan tenang, seperti air yang mengalir di sungai, tidak pernah sombong, tidak pernah pula surut.
Penutup: Kebenaran yang Tak Pernah Tergantikan
Maka berakhirlah kisah tawaran itu. Tuan Syahid yang tadinya angkuh, kini menjadi orang yang rendah hati. Tuan Syahid yang tadinya merasa bisa membeli segalanya, kini sadar bahwa ada satu hal yang tidak bisa dibeli dengan uang: kebenaran.
Dan di dalam hati Tuan Syahid, sejak hari itu, tersimpan satu nama yang selalu membuatnya tersenyum. Abu Nawas.
