Kisah Keteladanan Abdurrahman bin Auf

Abdurrahman bin Auf merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad saw yang terkenal dengan keimanan, kejujuran, dan kedermawanannya. Beliau termasuk golongan sahabat yang dijamin masuk surga dan dikenal sebagai seorang pedagang yang sukses. Meskipun memiliki harta yang melimpah, Abdurrahman bin Auf tidak pernah sombong dan selalu menggunakan kekayaannya untuk membantu orang lain serta memperjuangkan kepentingan umat Islam.

Gambar ilustrasi Abdurrahman bin Auf

Keteladanan Abdurrahman bin Auf dapat kita contoh dalam kehidupan sehari-hari. Beliau mengajarkan pentingnya bekerja keras, hidup sederhana, bersyukur, dan gemar bersedekah. Ia juga menunjukkan sikap rela berkorban dan peduli kepada sesama. Dari kisahnya, kita dapat belajar bahwa kekayaan bukanlah tujuan utama, melainkan amanah yang harus digunakan untuk kebaikan dan membantu orang yang membutuhkan.

1. Riwayat Hidup singkat 

Salah seorang sahabat besar Nabi Saw. dan termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang dijanjikan masuk surga (al-‘Asyarah al-mubasyarah/sepuluh yang digembirakan). Pada masa Jahiliyah, ia dikenal dengan nama Abd Amr. Setelah masuk Islam, Rasulullah memanggilnya Abdurrahman bin Auf. Ia memeluk Islam sebelum Rasulullah menjadikan rumah al-Arqam sebagai pusat dakwah. Ia mendapatkan hidayah dua hari setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq memeluk Islam. 

Semenjak masuk Islam sampai wafatnya dalam umur 75 tahun, ia menjadi teladan yang utama bagi kaum muslimin. Ketika Nabi saw. memerintahkan para sahabatnya hijrah ke Habasyah (Ethiopia), Abdurrahman bin Auf ikut hijrah untuk kedua kalinya ke Habasyah dan kemudian ke Madinah. Ia ikut bertempur dalam perang Badar, Uhud, dan peperangan-peperangan yang lainnya. 

Abdurrahman bin Auf termasuk kelompok delapan orang yang mula-mula masuk Islam. Ia juga tergolong sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira oleh Rasulullah akan masuk surga dan termasuk enam orang sahabat yang bermusyawarah dalam pemilihan khalifah setelah Umar bin Al-Khathab. Di samping itu, ia adalah seorang mufti yang dipercaya Rasulullah berfatwa di Madinah selama beliau masih hidup. 

2. Beberapa keutamaan Abdurrahman bin Auf

 a. Abdurrahman bin Auf termasuk sahabat yang masuk Islam sangat awal, yaitu yang kedelapan. Beliau bersyahadah 2 hari setelah Abu Bakar. 

b. Abdurrahman bin Auf termasuk salah satu dari enam orang yang ditunjuk oleh Umar bin Khattab untuk memilih khalifah sesudahnya. 

c. Abdurrahman bin Auf seorang mufti yang dipercaya oleh Rasulullah Saw untuk berfatwa di Madinah padahal Rasulullah Saw masih hidup. 

d. Abdurrahman bin Auf terlibat dalam perang Badar bersama Rasulullah Saw. dan menewaskan musuh-musuh Allah. Beliau juga terlibat dalam perang Uhud dan bahkan termasuk yang bertahan di sisi Rasulullah Saw ketika tentara kaum muslimin banyak yang meninggalkan medan peperangan. Dari peperangan ini ada sembilan luka parah ditubuhnya dan dua puluh luka kecil yang di antaranya ada yang sedalam anak jari. Perang ini juga menyebabkan luka dikakinya sehingga Abdurahman bin Auf harus berjalan dengan pincang, dan juga merontokkan sebagian giginya sehingga beliau berbicara dengan cedal. 

e. Suatu saat ketika Rasullullah Saw berpidato menyemangati kaum muslimin untuk berinfaq di jalan Allah, Abdurrahman bin Auf menyumbang separuh hartanya yang senilai 2000 Dinar. Atas sedekah ini beliau didoakan khusus oleh Rasulullah Saw. yang berbunyi, “Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu, terhadap harta yang kamu berikan. Dan Semoga Allah memberkati juga harta yang kamu tinggalkan untuk keluarga kamu.” Do’a ini kemudian benar-benar terbukti dengan kesuksesan demi kesuksesan Abdurrahman bin Auf berikutnya. 

f. Ketika Rasullullah membutuhkan dana untuk perang Tabuk yang mahal dan sulit karena medannya jauh, ditambah situasi Madinah yang lagi dilanda musim panas, Abdurrahman bin Auf mempeloporinya dengan menyumbang dua ratus uqiyah emas sampai-sampai Umar bin Khattab berbisik kepada Rasulullah Saw, “Sepertinya Abdurrahman berdosa terhadap keluarganya karena tidak menyediakan uang belanja sedikitpun untuk keluarganya.” Mendengar ini, Rasulullah Saw. bertanya pada Abdurrahman bin Auf, “Apakah anda menyediakan uang belanja untuk istrinya?” “Ya!” jawab Abdurrahman, “Mereka saya siapakan lebih banyak dan lebih baik dari yang saya sumbangkan.” “Berapa?” Tanya Rasulullah “Sebanyak rezeki, kebaikan, dan pahala yang dijanjikan Allah.” Jawabnya. Setelah Rasulullah Saw. wafat, Abdurrahman bin Auf bertugas menjaga kesejahteraan dan keselamatan Ummahatul Mukminin (para istri Rasulullah Saw). 

g. Abdurrahman bin Auf pernah menyumbangkan seluruh barang yang dibawa oleh kafilah dagangnya kepada penduduk Madinah, padahal seluruh kafilah ini membawa barang dagangan yang diangkut oleh 700 ekor onta yang memenuhi jalan-jalan kota Madinah. 

h. Abdurrahman bin Auf juga menyantuni para pejuang perang badar. 

3. Teladan yang bisa diambil 

Abdurrahman bin Auf memiliki watak yang dinamis, dan ini nampak menonjol ketika kaum muslimin hijrah ke Madinah. Telah menjadi kebiasaan Rasulullah pada waktu itu untuk mempersaudarakan dua orang sahabat, antara salah seorang Muhajirin warga Mekah dan yang lain dari Ansar penduduk Madinah. Orang orang Ansar penduduk Madinah membagi dua seluruh kekayaan miliknya dengan saudaranya orang-orang Muhajirin. 

Kehidupan Abdur Rahman bin Auf di Madinah, baik semasa Rasulullah Saw. maupun sesudah wafatnya, terus meningkat. Barang apa saja yang ia pegang dan ia jadikan modal perdagangan pasti menguntungkannya. Seluruh usahanya itu ditujukan untuk mencapai rida Allah Swt semata sebagai bekal di akherat kelak. 

Suatu hari ia menjual tanah seharga 40 ribu dinar, kemudian uang itu dibagi bagikannya kepada kelurganya Bani Zuhrah, istri Nabi saw dan kaum fakir miskin. Pada hari lain, ia menyerahkan 500 ekor kuda untuk perlengkapan bala tentara Islam. Menjelang wafatnya ia mewasiatkan 50 ribu dinar untuk jalan Allah Swt dan 400 dinar untuk setiap orang yang ikut Perang Badr dan masih hidup. 

Selain pemurah dan dermawan, ia dikenal pula sebagai sahabat Nabi Saw yang banyak meriwayatkan hadis. Aburrahman bin Auf juga termasuk yang zuhud terhadap jabatan dan pangkat. 

Demikian profil singkat sahabat Nabi yang bernama Abdurrahman bin Auf. Dari sejarah singkat tersebut banyak hal yang perlu kita teladani, di antaranya sikap tolong menolong, dinamis dalam berusaha, dermawan, serta zuhud atau tidak gila dunia.

Posting Komentar untuk "Kisah Keteladanan Abdurrahman bin Auf"